Minggu, 19 April 2020

"SAYA SUDAH SAMPAI, TAPI BELUM SELESAI"

Foto: Ruang kerja Bimbingan dan Konseling SMP ISR KK (20 april 2020)

Refleksi perjalanan hidup 25 tahun

Ketika mendengar kata “kehidupan” maka, setiap orang mempunyai pengertian yang berbeda-beda berdasarkan pengalaman dan harapannya. Kehidupan yang sesunguhnya bukan saja merujuk pada hidup dan mati semata, tapi melibatkan banyak hal seperti tujuan hidup, sosialisasi, harapan, cinta dan masih banyak lagi. Dari kesekian banyak perihal tentang kehidupan tersebut, kemudian melahirkan berbagai macam cerita dan kesan, yang tentu tak tergantikan dengan apapun. Kita hanya mendapatkan sebuah “perasaan” yang dapat mewakili dan sulit dijelaskan.

Perkenalkan nama saya M. Edi Hurun anak terakhir dari 5 bersaudara yang semuanya adalah laki-laki. Bapak ku adalah seorang petani yang bahkan tidak memiliki jejak pendidikan seperti kebanyakan orang. Beliau pernah bersekolah yang pada waktu itu masih bernama sekolah rakyat dan setelah menerima sakramen komuni, bapak ku berhenti sekolah dan mengikuti kakek ku bertani. Mama ku adalah seorang ibu rumah tangga yang pendidikannya tidak jauh berbeda dengan bapak ku. Semasa mudanya, mama ku mulai belajar untuk menjahit. Sehingga pada akhirnya, beliau selain menjadi ibu yang merawat dan mengasuh kami, salah satu hal yang menonjol dari mama adalah keterampilan menjahit yang sampai saat ini masih sangat melekat pada dirinya.

Saya sendiri dilahirkan disaat sinar matahari sudah menjulang tinggi dan dengan panasnya sinarnya membuat siapapun akan berkeringat apabila beraktivitas dialam terbuka. Disaat semua penduduk kampung sibuk dengan aktivitasnya masing-masing ketika hari menjelang siang dan tepat di jam sepuluh pagi, saya dilahirkan di sebuah rumah tua tepat di pinggir kampung. Hari itu adalah hari kamis, 20 April 1995 pertama kalinya saya merasakan suasana dunia nyata. Disambut dengan senyuman dan kegembiraan oleh keluarga ketika mendengar tangisan seorang bayi laki-laki dengan berbagai macam tingkah laku unik di pangkuan mama, yang tidak lagi menghiraukan rasa sakitnya. Bahkan, beberapa orang mencoba untuk mengikuti suara dan birama tangisan bayi kecil yang adalah saya. Sedangkan mama dengan tangannya tidak lagi mulus, tak henti-henti membelai dan memelukku.

Saya membanyangkan mungkin saat itu mama tak bisa menahan rasa sakitnya, tapi dengan tingkah unik dan tangisan dari buah hatinya, dapat membuatnya lupa dengan rasa sakitnya. Begitulah sepenggal kisah kelahiran saya. Dan saya sendiri lahir dari keluarga petani dan dibesarkan oleh kedua orang tua di sebuah kampung bernama Riangpadu, yang terletak diwilayah perbukitan Adonara Barat.  Dari tangan mereka, saya tumbuh dengan berbagai pengalaman dan cerita yang penuh dengan keunikan dan juga keanehan. Sepenggal cerita yang saya dengar dari mama tentang kebiasaa masa kecil saya adalah selalu makan diatas meja tepat di samping tempat duduk bapak dan selalu tidur sembarangan sehingga tugas bapak sebelum tidur adalah menggendong saya dan memindakan ke kamar tidur.  Begitulah sepengggal cerita masa kecil saya ketika di kampung.

Seiring berjalannya waktu, kami semua tumbuh dan berkembang dalam asuhan dan bimbingan mereka. Walaupun mereka adalah hanyalah petani, tapi kedua orang tua selalu berusaha untuk menyekolahkan kami paling tidak bisa menulis dan membaca. Tak hanya itu, bahkan sejak kecil, kami selalu diajak untuk bertani. Selain untuk membantu meringankan pekerjaan mereka, tapi salah satu hal yang mau bapak dan mama sampaikan ke kami adalah bagaimana perjuangan orang tua dalam menghidupi dan menjaga keutuhan seebuah keluarga. Dari situ sebuah pesan yang selalu bapak dan mama ingatkan kepada kami bahkan sampai sekarang adalah “segala hal yang kami ajarkan selami ini adalah supaya suatu saat kamu bisa menghidupi dirimu sendiri dan juga keluarga mu”. Sampai saat ini, pesan itu masih menggema di telinga dan hati kami. Singkat cerita, kami semua bisa bersekolah walaupun hanya sekitar sekolah dasar dan menengah.

Diantara kami bersaudara, saya memiliki kesempatan dan peluang yang berbeda dengan keempat saudara saya. Dipertengahan tahun 2013 saya berlayar menuju Jakarta ditemani kakak yang kedua untuk melanjutkan studi diperguruan tinggi, dan kebetulan pada saat itu kakak sulung, ketiga dan keempat sedang bekerja di kota Jakarta. Sedari awal saya sudah memutuskan untuk mengambil jurusan matematika. Keputusan itu berubah ketika saya bercerita dengan salah satu senior dikampus yang hendak didaftarkan. Beliau dengan gagahnya menceritakan tentang pendidikan matematika selama empat tahun. Saat didaftarkan oleh kakak sulung dan kakak kedua, melalui telepon saya ditanyai untuk memilih jurusan Sejarah, Ekonomi atau Bimbingan dan Konseling. Tanpa pikir panjang saya langsung memilih jurusan Bimbingan dan Konseling. Untuk menyakinkan saya, kakak sulung menanyakan beberapa kali. Namun jawaban dari saya tidak berubah dan tetap memilih jurusan bimbingan dan konseling. Terkahir mereka berpesan kepada saya “adik, kami selalu mendukung pilihan mu.

Tak sampai disitu, tahun 2013 adalah momentum yang sangat berharga. Dimana kami sebagai saudara serahim dapat berkumpul bersama-sama hingga pada akhirnya kakak kedua saya harus pulang ke kampung halaman lagi. Bagi saya ini adalah momentum langkah, karena sampai saat ini moementum itu belum terulang lagi. Jujur saya merindukan suasana ketika kami berlima berkumpul dengan berbagai tingkah unik yang selalu membuat suasana cair dan bahkan sampai pada emosional yang sulit dikontrol. Itulah uniknya kami.

Senin, 16 september 2013 adalah hari pertama saya masuk kuliah sebagai mahasiswa jurusan bimbingan dan konseling. Banyak hal baru yang saya alami seperti teman baru dengan karakternya masing-masing, situasi baru dan lainnya yang menuntut saya untuk mampu beradaptasi dngan kebaruan itu. Selain itu saya juga bergabung dibeberapa organisasi kemahasiswaan yaitu PMKRI dan organisasi daerah yakni AMA Jakarta. Semenjak awal bergabung, PMKRI menjadi rumah ketiga, setelah kos dan kampus. Banyak hal yang saya pelajari dari kedua organisasi ini, yang pada akhirnya sangat membantu saya pada kegiatan Praktik Pengalaman Lapangan (PPL) bagi mahasiswa yang mau mendapatkan Ijazah akta IV dan penyusunan Skripsi sebagai salah satu syarat untuk menjadi seorang sarjana pendidikan. Saya sendiri kuliah selama 4,5 tahun (9 semester), bukan karena masalah prestasi akademik ataupun sifat malas tetapi karena manajemen waktu yang keliru. Bagaimana tidak menambah semester, jedah waktu untuk mengejar sidang skripsi saya gunakan untuk pulang kampung. Sabtu, 5 Mei 2018 saya diwisudahkan sebagai seorang Sarjana Pendidikan di kota Jakarta.

Mungkin bagi kebanyakan orang mendapat gelar sarjana mungkin akhir dari segalanya dan awal dari kemudahan. Bagi saya, terhitung sejak waktu saya diwisudahkan adalah sebuah babak baru, dimana saya harus memulainya lagi nol. Paling tidak tanggungan dari orang tua harus diminimalisir, mulai mencari kerja hingga pada akhirnya bekerja dan tidak lagi bergantung pada keluarga. Saya sendiri pernah menjadi pengangguran selama 7 bulan. Banyak sekali lamaran pekerjaan yang dikirimkan kepada sekolah-sekolah di wilayah JABODETABEK. Sempat beberapa kali mengikuti interview kerja, akan tetapi semuanya tidak membuahkan hasil yang baik. Hingga pada tanggal 10 Januari 2019 saya diterima dan mulai bekerja di sebuah sekolah swasta di daerah Pasar Rebo, Jakarta Timur. Hal yang paling berkesan ketika bekerja di sekolah ini adalah selalu dilibatkan dalam pengambilan keputusan mengenai kebijakan sekolah. Sedangkan pengalaman burukya adalah dihardik oleh kepala sekolah yang pada saat itu mati-matian mengeluarkan salah satu siswa yang bermasalah dengan penjaga sekolah. Bermodal secuil kemampuan tentang “problem solving” saya akhrinya memfasilitasi persoalan ini, dan pada akhirnya keadaan dan hubungan antara siswa dan penjaga seolah membaik.

Pada suatu siang yang sangat panas teriknya, di awal bulan mei 2019 bertepatan pada hari jumat, saya mendapat telepon dari sebuah yayasan pendidikan dari kota Bandung. Isi pembicaraannya adalah saya diundang untuk mengikuti interview kerja. Sempat bingung dengan undangan dari orang yang belum saya kenal itu. Setelah membuka email dari orang menelepon saya tersebut, saya teringat kalau saya pernah mengirim lamaran ke Penyelengara Pendidikan Yayasan Salib Suci Bandung. Sesuai dengan jadwal yang sudah di atur, saya kemudian berangkat ke Bandung untuk mengikuti nterview tersebut. Bermodalkan kepercayaan diri dan meminjam uang dari beberapa teman, berangkatlah saya menuju bandung yang pada saat itu belum ada satupun orang yang saya kenal. Yang saya miliki pada saat itu adalah alamat Yayasan Salib Suci.

Pengalaman terindah saya ketika sampai dikota bandung adalah menjadi gembel di terminal leuwi panjang dari jam 01.00-07.00 pagi dengan berbagai tingkah aneh saya. Tepat pukul 10.00 hari itu, saya memulai interview saya dan berakhir pada jam 15.00. Setelah dicecar dengan berbagai pertanyaan dan praktek mengajar serta sharing seputar penanganan masalah anak, secara terbuka saya menanyakan langsung kepada HRD mengenai hasil dari interview. Saya kemudian dinyatakan layak dan diterima bekerja di yayasan tersebut. Disaat yang bersamaan saya sangat puas dengan perjuangan saya pada waktu itu. Tapi ada satu hal yang sedikit membuat saya merasa sedih adalah ketika saya harus meninggalkan Jakarta (Pasar Rebo) tempat saya tinggal selama 6 tahun dengan berbagai cerita dan kenangan. Tak mengapa. Akhirnya saya pulang ke Jakarta dan mempersiapkan diri untuk pergi dan menetap di bandung, tempat baru saya. Termasuk menyelesaikan tugas di sekolah tempat saya bekerja dan kemudian mengundurkan diri sebagai guru.

Awal mula bekerja di Yayayan Salib Suci, saya ditempatkan di SMA di daerah Antapani kota Bandung. Setelah sebulan kerja (sekaligus magang), saya dipindakan di salah satu SMP yang masih dalam naungan Yayayan Salib Suci. SMP Ignatius Slamet Riyadi Kebon Kangkung adalah rumah baru bagi saya untuk mengaktualisasikan tugas dan tanggung jawab sebagai seorang guru bimbingan dan konseling. Di tempat ini saya mulai belajar untuk mengenal katakter setiap guru dan karyawan terlebih peserta didik yang berjumlah 189 orang. Berbeda dengan di SMA tempat saya magang dimana ada koordinator guru bimbingan dan konseling sehingga ada kemudahan untuk berkoordinasi mengenai layanan bimbingan dan konseling. Tetapi di SMP Ignatius Slamet Riyadi, saya harus merencanakan dan melaksanakan sendiri. Disini kemampuan benar-benar diuji dan dieksplorasi secara total. Walaupun sering menerima kritik dan juga kasukan dari para guru, tapi bagi saya inilah pelajaran yang sangat berharga, karena saya terlibat langsung sebagai dalang sekaligus aktor utama pada “proses” itu, yakni dalam memberikan layanan bimbingan dan konseling.

Pada pelakasaan layanan yang saya berikan, segala persoalan bukan hanya dilihat ada sisi benar atau salahnya. Berbagai kegiatan ekplorasi dilakukan untuk menemukan berbagai akar persoalan yang kemudian mendorong sesorang berperilaku ataupun mengambil sebuah keputusan. Jika kebanyakan berupaya untuk melihat seseorang dari segala yang terlihat, maka tugas saya adalah menemukan sesuatu yang tersembunyi yang mempunyai pengaruh besar dalam perilaku dan sikap seseorang, secara khusus peserta didik asuhan saya. Setiap klien datang dengan berbagai persoalan dan kondisi yang berbeda satu sama lain. Maka bentuk penanganan dan tindak lanjut juga tentu pasti berbeda satu sama lain. Disini kemampuan dan kreativitas dalam problem solving betul-betul dioptimalkan.

Dari berbagai kejadian dan pengalaman yang dialami, saya kemudian membuat suatu kesimpulan bahwa menarik dan sangat unik apabila kita mempalajari manusia pada setiap kepribadian. Dari situ saya memahami bahwa hidup bukanlah semata-mata soal uang, kekayaan, ataupun hal duniawi lain. Hidup juga mengenai penerimaan diri, kontrol diri, relasi sosial, soal harapan yang selalu bersinar dan yang terpenting adalah kepuasan dan kebahagiaan, yang tentu setiap orang memiliki standar yang berbeda-beda. Selanjutnya yang saya mau menegaskan bahwa dengan bersosial atau mempelajari setiap manusia, disitulah kita memahami realita kehidupan dimana kita adalah pribadi yang berbeda dari pribadi yang lain. Meskipun demikian, ada satu hal yang mampu menyamakan kita dari perbedaan tersebut yakni kesadaran diri. Dengan demikian kita paham bahwa proses sosial adalah universitas kehidupan yang sesungguhnya. Berbagai pengalaman dan perjuangan yang saya alami selama saya mau mengatakan kepada semesta bahwa hari ini saya sangat “bersyukur dan bahagia” dengan kondisi saya saat ini.

Kendati demikian, bukan berarti menunjukan bahwa saya sudah menuntaskan segala tugas dan kewajiban saya sebagai individu yang memiliki harapan dan impian. Bahwa masih banyak hal yang harus saya pelajarin, saya lakukan dan saya capai salah. Akan tetapi kondisi saya pada hari ini membuktikan bahwa saya sudah sampai pada harapan kedua orang tua yang sudah saya wujudkan. Diamana saya sudah bisa hidup mandiri tanpa bergantung dari siapapun dan bisa membawa serta mengontrol diri. Dari berbagai ilustrasi dan gambaran mengenai pegalaman hidup selama 25 tahun, saya mau menegaskan bahwa “saya sudah sampai, tapi belum selesai”.

Terima kasih yang tak terhingga untuk bapak Fransiskus Pati dan mama Elisabeth Tuto untuk semua budi jasa serta cinta untuk anakmu ini. Kalian adalah adalah wujud cinta yang sesungguhnya. Tak lupa buat abang Anton Hurung (guru dan kawan diskusi) beserta keluarga, abang Agustinus Geroda berserta keluarga, Ama Paul dan Ama Darius bersama keluarga kecilnya masing-masing terima kasih atas doa, dukungan serta perjuangan buat adik mu ini.
Teriring salam dan doa, Tuhan menyertai kalian semua.

Bandung, 20 April 2020

M. Edi Hurun
(1995-2020)

SESUATU YANG HILANG (Part 1)

  Beberapa hari terakhir ini, lampu jalan di sepanjang jalan Ibrahim Haji padam. Jalanan hanya bisa diterangi oleh lampu kendaraan bermotor,...