Jumat, 26 Maret 2021

Proses Sosial adalah Universitas Kehidupan


Tempat dimanapun sesorang hidup merupakan panggung utama dalam mencapai tujuan hidup. Mencapai tujuan hidup adalah alasan utama manusia hidup. Tujuan hidup yang menggerakan setiap individu melalui rekayasa perilaku yang menghantarkan manusia kepada  tujuan atau goal orientation. Alasan-alasan tersebut lalu secara terus-menerus mendorong manusia untuk terus berusaha dengan berbagai cara untuk mencapai tujuan tersebut. Oleh sebab itu, dalam pelaksanaannya maka, ada beberapa tingkatan kebutuhan yang harus dipenuhi yang selanjutnya dijadikan sebagai modal dasar dalam upaya pencapaiannya. Dengan demikian, jika mengacu kepada piramida kebutuhan yang digagaskan oleh Abraham Maslow maka, kebutuhan dasar sampai dengan kebutuhan aktualisasi diri harus betul-betul dipenuhi oleh setiap individu. Proses atau kebutuhan aktuliasasi diri inilah yang membuat setiap orang membutuhkann sebuah ruang sebagai tempat untuk mengekspresikan diri dengan menggerakan semua kemampuan yang dimiliki dalam pendekatan dan metode yang sesuai dengan karakter setiap individu.

Selanjutnya mengenai ruang aktualisasi tersebut, bukan semata-mata merujuk pada kondisi fisik tetapi juga menekankan pada sebuah proses penjiwaan yang melibatkan waktu dan kesempatan serta kehadiran orang lain yang saling memberikan stimulus dan pengaruh. Ruang-ruang tersebut dapat berupa kondisi di keluarga, lingkungan kerja, komunitas ataupun organisasi tertentu. Proses tersebut selanjutnya dinamakan proses sosial. Ginsbers mendefinisikan proses sosial sebagai jenis interaksi yang dilaksanakan individu dengan tujuan membangun kerja sama, diferensiasi, konflik, integrasi, pengembangan serta hilangnya hubungan sosial. Jika mengacu dari pengertian tersebut maka dipahami bahwa proses sosial terjadi atas dasar kontak antara individu baik secara langsung maupun tidak langsung. Hubungan timbal balik tersebut, lalu pada akhirnya melahirkan sebuah pola interaksi.

Menyimak salah satu tujuan proses sosial yang digagas oleh Ginsbers tentu menjadi pembahasan serius, yakni pengembangan. Dan ini akan menjadi menarik jika dipahami secara komprehensif. Pengembangan yang dimaksud merujuk kepada peningkatan sumber daya secara kualitas relasi maupun kualitas individu. Pertanyaannya apakah mungkin proses sosial menjamin seseorang dalam pengembangan diri?. Tentu sangat mungkin!. Ketika interaksi itu terjadi maka akan ada kontak dan komunikasi yang menjembatani proses tersebut. Dalam sebuah interaksi kita akan bersentuhan langsung dan mempelajari karakter orang, budaya, kebiasaan serta perilaku seseorang yang tentu akan berbeda satu sama lain. Secara psikologis, setiap individu selalu berkeinginan untukn tampil secara optimal apalagi diekspresikan terhadap banyak orang yang akan mendengar, melihat dan merasakan. Keinginan inilah yang memacu individu untuk terus mengembagkan diri untuk pada akhirnya diterima dengan baik secara sosial dan kemudian diakui. Maka disinilah eksitensial manusia akan terwujud.

Sebuah kasus di Amerika tentang seorang anak yang dikurung bapaknya selama bertahun-tahun secara tidak manusiawi. Tidak ada ruang interaksi pada anak dan keluarganya, bahkan ketika memberikan makanan pada anak itu, tidak diperbolehkan berbicara. Dan pada suatu hari, anak itu berhasil dibawa kabur oleh ibunya ke dinas sosial. Saat ditanyakan oleh petugas, anak  tersebut hanya menundukan kepala bahkan tidak mau mendengarnya. Satu hal yang bisa disimpulkan dari kasus ini adalah betapa komunikasi dan pola interaksi turut membentuk karakter seseorang. Pembatasan ruang komunikasi antara orang tua dan anak, telah membunuh karakter sert mental seorang anak.

Bicara soal proses sosial tentu melibatkan orang lain yang mempunyai karakter dan kepribadian berbeda-beda dan menjadi bagian yang tidak dapat dipisahkan. Sebetulnya perbedaan tersebut bisa dijadikan sebagai referensi dalam pengembangan diri. Bahwa satu kekurangan pada diri kita adalah seribu kelebihan pada orang lain. Oleh sebab itu setiap kita dituntut untuk membuka diri terhadap semua orang yang berpotensi untuk dijadikan sumber dalam mengembangkan diri. Menyangkut perbedaan karakter, tentu siapapun tidak bisa merubahnya, apalagi kemudian dipaksakan. Perbedaan hanya bisa dipahami dan dijalin atas dasar rasa kemanusiaan. Akan tetapi kondisi ini bukan menutup kemungkinan bagi individu untuk mencapai semua persamaan. Tetapi diatas semua itu, kita semua disatukan oleh kesadaran diri.

Setiap individu adalah tersimpan sejuta bakat dan keterampilan. Walaupun ada dalam diri namun banyak orang yang tidak mengetahui apa yang menjadi kelebihan atau kekurangannya. Oleh sebab itu kita butuh orang lain. Hal ini kembali diperkuat oleh teori psikologi tentang memahami hubungan dengan diri dan orang lain  yang digagas oleh Joseph Luft dan Harrington Ingham. Teori ini kemudian dinamakan dengan Jendela Johari atau Johari Window. Ada satu kondisi dimana apa yang terjadi pada diri kita yang hanya diketahui oleh orang lain. Disini kita disebut sebagai buta diri. Buta diri bisa berwujud dalam perilaku, sikap, pola pikir dan sebagainy. Maka proses sosial yang melibatkan orang lain akan berperan sebagai orang yang akan menyadarkan kita dari buta diri tersebut. Dan melalui orang lain, tangan Tuhan hadir menyapa kita.

Sampai pada tahap ini, kita memahami betapa besarnya pengaruh proses sosial dalam mengenali dan memahami diri secara utuh. Proses sosial bukan hanya memberikan kita ruang untuk mengekspresikan diri, tetapi juga untuk mengembangkan diri secara optimal. Hari ini banyak orang yang masih mengurungkan diri dari pergaulan lalu menganggap diri hebat. Banyak pula yang menggunakan proses sosial hanya untuk bisa diakui tanpa mendalami proses. Banyak pula yang memanfaatkan proses sosial untuk keuntungan pribadi. Tetapi marilah kita memaknai proses sosial sebagai ruang pengembangan diri dan tentu memberikan dampak yang baik kepada siapapun. Kehidupan bukan hanya urusan makan, tidur, seks dan kematian. Hidup menuntut kita untuk mampu bersosialisasi dan berdiri di atas semua perbedaan. Proses inilah yang akan menghantarkan kita kepada makna kehidupan yang sesungguhnya. Dalam proses sosial kita akan memahami kehidupan secara  utuh. Maka satu yang saya mau katakan adalah meleburlah dengan lingkungan yang bukan hanya memberikan rasa nyaman tetapi mendorong kita untuk berkembang.

 Salam 

MENJADI GURU PEMBELAJAR

Saya memulai tulisan ini dengan sebuah pernyataan sekaligus kesaksian tentang secuil harapan dan pengalaman saya sebagai guru di SMP Ignatius Slamet Riyadi, Kebon Kangkung. Menjadi guru adalah bukan semata-mata sebagai tujuan pribadi hidup saya. Menjadi guru adalah bentuk partisiasi saya dalam berkontribusi untuk kepentingan banyak orang. Dan tentu menjadi guru adalah peran yang menyatu dan menjadi bagian dari hidup, kapan dan dimanapun. Setiap orang tentu memiliki orientasi dan tujuan hidup yang berbeda-beda. Memilih sebagai seorang guru adalah bukan sebuah kecelakaan dalam memilih tujuan hidup, tetapi melalui sebuah refleksi dan niat yang mulia untuk berbagi dalam keterbatasan kepada mereka yang sedang membutuhkan, secara khusus melalui transformasi pengalaman dan nilai-nilai kehidupan yang akan dipergunakan selama kehidupan mereka. Menjadi pendidik atau guru adalah menjadi bagian dari kehidupan.

Didalam syair lagu kebangsaan kita Indonesia Raya, secara tegas mengatakan “Bangunlah jiwanya, Bangunlah badannya”. Ini menunjukan bahwa betapa pentingnya pembangunan sumber daya manusia seperti mental, karakter, kepribadian, pengetahuan serta pola pikir seseorang dalam merespon situasi sekitar dan membaca berbagai potensi peluang yang akan terjadi pada waktu mendatang. Visi besar inilah yang kemudian melibatkan guru/pendidik sebagai dalang untuk merancang serta aktor dalam pelaksaan pendidikan itu sendiri. Pada tataran inilah, peranan guru menjadi bagian yang penting dalam merealisasikan cita-cita luhur bangsa Indonesia.

Menjadi guru bukan hak bagi segelintir orang atau kelompok tertentu, tetapi hak bagi setiap warga negara. Siapapun bisa menjadi guru kapan dan dimanapun tergantung bagaimana orang itu membawa dan menempatkan diri. Menjadi sebuah pertanyaan reflektif, apakah sulit menjadi seorang guru?. Menjadi guru yang sesungguhnya bukan hanya dilihat seberapa banyak materi yang diajarkan, bukan seberapa banyak waktu yang dihabiskan untuk membahas sebuah mata pelajaran. Guru adalah pengabdian. Pengabdian yang tak mengenal waktu. Jika pendidikan sebagai sebuah proses memanusiakan manusia, maka guru adalah orang yang berperan dan membentuk setiap pribadi menjadu manusia yang seutuhnya sesuai dengan karakternya masing-masing. Bersama guru, siswa akan belajar tentang kehidupan. Kehidupan adalah soal manusia. Oleh sebab itu sudah sepantasnya saya mempelajari kehidupan dari siapapun termasuk dari peserta didik.

Pada tulisan kali ini, saya membingkainya dalam sebuah tema besar yang berbunyi “Menjadi Guru Pembelajar”.  Alasan saya mengambil tema ini adalah bahwa guru itu bukan maha tahu. Guru adalah manusia yang memiliki kekurangan dan keterbatasan dibalik sejumlah kelebihan yang dimiliki. Kata “Menjadi Pembelajar” sebetul mengandung sebuah semangat untuk terus mengenali diri dan mengembangkan semua potensi yang bersemayam dalam diri untuk menjadi senjata ampuh dalam mengaktualisasikan diri yang secara khusus sebagai seorang pendidik.  Hal ini serupa dengan sebuah kalimat bijak dari Albert Eisntein, “Sebuah sepeda akan terus berjalan seimbang, apabila anda terus mengayuhnya”.

Tulisan ini merupakan hasil refleksi dan permenungan saya secara pribadi. Selamat membaca dan semoga memberikan manfaat bagi siapapun serta mendapatkan tempat dihati kalian semua. “Hidup adalah sebuah misi besar dan setiap saat adalah perjuangan, maka waktu sepenuhnya akan menjadi milik kita (EH:20).

 

1.    Semangat yang menggerakan

Kebanyakan orang saya temui mengatakan bahwa manusia hidup semata-mata menjalani takdir yang mana telah Tuhan tetapkan untuk kita. Sebagai kaum awam, saya menerjemahkan ini sebagai sebuah aktivitas yang mana tanpa melibatkan saya sebagai pihak yang turut terlibat dalam merencanakan ataupun memberikan sumbangsi pemikiran. Artinya saya menjalani segala sesuatu yang merupakan bukan kehendak saya dan bisa jadi itu bukan keinginan saya. Jika demikian maka, peluang yang terjadi adalah lebih banyak mempertontonkan sesuatu yang buruk dan terkesan membabi buta. Tentu hal ini tidak dinginkan oleh siapapun. Bahwa saya meyakini bahwa setiap kita diciptakan oleh Tuhan dan diberikan kuasa yang istimewa. Keistimewaan tersebut terlihat pada akal atau pikiran yang hanya bisa dimiliki oleh manusia semata. Sehingga jelas bahwa dari secuil pengertian dari penciptaan inilah Tuhan telah memberikan kita kepercayaan dan kekuatan mutlak untuk dapat merencanakan dan menjalani hidup kita masing-masing sembari Tuhan turut terlibat dalam segala peranan kita sebagai manusia yang berakal. Jelas bahwa campur tangan Tuhan ada dalam setiap persoalan yang kita hadapi dan dalam perkara apapun.

Bicara mengenai kehidupan, dengan berbekal akal ataupun pikiran tidak akan cukup. Alasan saya sederhana bahwa apapun yang kita lakukan semuanya bermula dari niat. Niat untuk mencapai tujuan hidup kita masing-masing. Niat secara sederhana dapat diartikan sebagai semangat yang selalu menggerakan kita untuk melakukan sesuatu yang baik dan tentu sebagai motor yang menggeraki kita untuk terus berusaha setidaknya agar dapat bertahan hidup.

 

Pemahaman tetang alasan manusia hidup

Sebagai bahan refleksi, saya menyodorkan sebuah pertanyaan “jika kematian adalah sebuah kebahagiaan, mengapa anda memilih hidup yang penuh dengan persoalan dan perjuangan yang melelahkan hingga berputus asa?”.  Pertanyaan ini secara tegas mau mengatakan bahwa apa yang menggeraki kita untuk hidup serta apa yang membuat kita untuk terus berupaya dalam mempertahankan hidup kita.  Saya ingin mengajak kita untuk merefleksikan diri kita masing masing dan kembali menempatkan tujuan hidup kita tepat didepan mata kita sebagai jawaban atas alasan kita hidup. Beberapa pengalaman sering kita temui bahwa ada segelintir orang dimasa tuanya`mengalami penyesalan yang sangat besar karena beberapa tujuan hidupnya tidak terwujud bahkan ketika memasuki usia senjanya.

Menyadur dari teorinya Erik Erikson tentang tahapan perkembangan manusia, bahwa pada masa tua setiap orang akan berhadapan dengan kondisi yakni integritas dan keputus asaan. Integritas sebagai orang tua atau dewasa itu muncul apabila telah menuai hasil yang baik atas proses aktulisasi diri yang kemudian turut diberikan kepada orang lain sebagai pengaruh baik dari pencapaian tersebut. Sedangkan keputus asaan akan muncul sebagai penyesalan atas ketidakcapaian yang menjadi bagian dari tujuan hidup serta makna hidup yang tak kesampaian. Disini jelas bahwa manusia hidup, karena ada alasan besar yang terus merangsang semangat individu untuk memahami makna perjuangan hidup.

Mengenal diri

Lebih lanjut lagi mengenai tujuan hidup, hal yang pertama dan utama adalah mengenal diri. Sebelumnya telah diterangkan bahwa kita adalah ciptaan Tuhan yang memiliki akal yang dibekali bagi kita untuk hidup. Untuk itu tiga hal pertama yang harus kita lakukan adalah mengenali diri, memahami diri dan menguasai diri. Sejak dalam kandungan setiap kita diberikan bakat dan kemampuan yang berbeda satu sama lain. Oleh sebab itu, mengenali “siapa aku” merupakan bagian pertama yang harus dijawab oleh kita. Sepantasnya kita mengetahui apa yang menjadi kelebihan dan kekurang yang pada diri kita secara komprehensif. Sehingga jelas bahwa perpaduan antara akal atau pikiran dan kelebihan kita dapat dijadikan sebagai sebuah tameng sekali senjata dalam aktualisasi diri tersebut.

Demikian pula sebagai seorang pendidik tentu saja juga harus mengenal segala potensi diri. Pendidik bukan hanya dilihat dari proses transformasi pengetahuan, pengalaman atau nilai tetapi juga soal pembawaan diri. Walaupun setiap kita selalu dibaluti oleh kekurangan, tetapi setidaknya ada upaya untuk menyeimbanginya dengan mengembangkan kelebihan sebagai potensi utama. Saya yakin siapapun pendidik ataupu guru tentu memiliki kelebihan dan juga kekurangan. Dan, upaya untuk memperbaharui ini pun terus dilakukan dengan cara dan metode masing-masing sesuai dengan karakternya. Menjadi prinsip saya adalah jangan sungkang-sungkang untuk membuka diri dalam hal kekurangan kepada siapapun. Secara ringkasnya ceritakan kekurangan kita kepada orang lain, sebagai bentuk pengakuan diri untuk mendapatkan masukan ataupun bantuan dari mereka yang bisa membantu kita. Bahwa Tuhan menciptakan kita dengan karakter yang kondisi yang berbeda-beda. Kekurangan kita mungkin saja menjadi kelebihan orang lain. Maka proses sosialisasi diri merupakan salah satu upaya untuk memperbaharui diri. Karena melalui orang lain, disitulah Tangan hadir menjamahi kita (EH:20).

Ekspresi diri

Hemat saya mengatakan bahwa menjadi pendidik adalah salah satu contoh konkrit  dari ekpresi diri. Ekspresi yang muncul atas kesadaran diri, atas pemahaman diri serta atas niat diri untuk mengabdi. Pengabdian adalah penyerahan diri secara total dan utuh kepada proses yang tengah kita jalani. Maka disanalah waktu, tenaga, pikiran, pengetahuan, gagasan, kreativitas serta pengamalan akan nilai-nilai secara utuh tercurahkan bagi siapapun yang membutuhan tanpa mengharapkan sebuah imbalan yang besar. Disini saya secara pribadi mengerti bahwa guru adalah pahlawan tanpa tanda jasa. Itulah sprit yang saya pahami tetang dan dari guru.

 

2.    Guru dijalan panggilan

Pada ulasan sebelumnya, ada dua hal yang sudah disampaikan secara garis besar mengenai semangat pendidik yaitu yang pertama menjadi guru bukanlah sebuah kecelakaan dalam sebuah pilihan, tetapi merupakan hasil dari sebuah refleksi dan kesadaran atas proses aktualisasi diri. Yang kedua menjadi pendidik adalah sebuah semangat pengabdian secara total dengan menggerakan semua kemampuan dan potensi yang ada sebagai upaya konkrit dalam menjalankan amanah dari kemerdekaan dan secara khusus untuk sebagai ruang ekspresi diri yang pada akhirnya yang didapatkan adalah sebuah ”perasaan” sebagai gambaran kepuasan atas niat mendidik tersebut. 

Berbicara mengenai wujud dari spritualitas guru itu sendiri merupakan sesuatu yang bersifat komprehensif yang melibatkan kepribadian, proses, serta keaktifan dalam mengembangkan diri secara berkelanjutan, sehingga mampu menjawabi tuntutan kebutuhan jaman yang kian modern ini. Dengan demikian, hal yang mau saya katakan adalah siapapun yang menjadi pendidik atau guru adalah sekumpulan orang yang sangat beruntung dan bahagia. Mengapa demikian?. Karena guru yang mempunyai spiritualitas yang tinggi adalah guru yang tidak hanya menempatkan peserta didik sebagai objek dari pendidikan itu sendiri, tetapi juga menempatkan diri sebagai objek. Artinya, secara sadar pendidik atau guru ikut terlibat secara aktif dalam mengembangkan dirinya  baik dalam dalam hal kepribadian, pedagogik, profesionalisme dan sosialnya yang hal ini dapat dilakukan melalui proses evaluasi diri  dari kegiatan belajar mengajar dikelas dan hal lain yang memberikan peluang bagi guru untuk terus mengasah diri. Sering kita mendengar pepatah “sekolah dibatas waktu, belajar seumur hidup”. Artinya proses belajar setiap individu akan terus berlangsung dalam kehidupan seseorang, dan tentu guru atau pendidik ikut didalam proses itu sendiri.

Dalam bukunya berjudul The Purpose Driven Life, Rick Warren mengatakan bahwa untuk menemukan tujuan hidup dapat dilakukan melalui hubungan dengan Tuhan Yesus yang adalah seorang guru dan teladan kita. Sebagai kaum awan, saya menerjemahkan  pandangan ini sebagai sebuah ajakan untuk mendekatkan diri dan berkaca pada rangkaian kehidupan Yesus. Kita melihat diri kita pada pengalaman dan kisah hidup Yesus untuk selanjutnya dijadikan sebuah semangat dan petunjuk untuk menjalani kehidupan kita masing. Lebih lanjut lagi Rick Warren mengatakan bahwa Allah memikirkan dan merancang setiap kita jauh sebelum kita memikirkan-Nya, bahkan menyiapkan semuanya sebelum manusia ada dan tanpa meminta masukan apapun dari kita. Artinya kita ada bukan karena sebuah kebetulan, tetapi karena atas rencana-Nya dengan cinta yang tak terhingga yang diberikan kepada kita secara-cuma.

Dari berbagai ilustrasi ini, kita diajak untuk melibatkan Tuhan dalam berbagai hal yang kita lakukan dengan berpegang teguh pada nilai-nilai dan prinsip hidup yang mana telah Tuhan tunjukan kepada kita. Lebih daripada itu, kita diajak untuk memaknai hidup sebagai sebuah panggilan untuk berjalan di jalan Tuhan dan melaksanakan semua yang diperintahkan kepada kita dalam kehidupan setiap hari baik secara vertikal maupun horizontal. Pada saat interview di kantor yayasan salib suci, ketika memasuki gedung tersebut saya membaca sebuah tulisan yang menarik yakni “kamu telah memperolehnya secara cuma-Cuma, maka kamu juga harus memberikannya secara cuma-cuma”. Dan saya mencoba memadukannya denga tugas saya sebagai pendidik atau guru, maka saya secara lahir dan batin harus memberikan segala hal yang bermanfaat kepada peserta didik secara utuh dan penuh totalitas. Inilah yang dikatakan sebagai  mendidik sebagai panggilan Tuhan.

Dalam pembukaan UUD 1945, secara tegas dikatakan dalam rangka mengisi kemerdekaan setiap warga negara indonesia turut berpartisipasi dalam mencerdaskan kehidupan bangsa. Pesan ini saya menerjemahkan sebagai sebuah refleksi panjang atas nasib bangsa indonesia yang dijajah selama tiga setengah abad baik secara sumber daya alam maupun sumber daya manusianya. Bahwa betapa  tragisnya perlakuan penjajah dalam mengeksplorasi dan memanfaatkan segala sumber daya yang ada tanpa ada rasa kemanusiaan. Disisi lain, selama penjajahan itu berlangsung, tidak ada ruang bagi bangsa indonesia untuk mengembangkan diri. Sekolah-sekolah dibangun diperuntukan bagi anak cucu penjajah dan tidak bagi kaum pribumi.

Dan kondisi demikian tidak bisa dilawan, karena bangsa kita tidak memiliki kekuatan walaupun memiliki masyarakat yang banyak belum lagi SDM kita lemah yang dimaanfaatkan oleh bangsa penjajah untuk mengadu domba masyarakat pribumi dan tentunya sebagai ruang untuk melumpuhkan kekutan dan persatuan bangsa. Satu kesimpulan yang saya pahami dari rentetan peristiwa penjajahan tersebut adalah kurang sumber daya manusia.

Kumpulan pengalamam buruk masa lalu inilah yang menempatkan pendidikan sebagai pilar utama dalam kehidupan berbangsa. Paling tidak ada upaya untuk membenahi diri yang kemudian menjadi bangsa ini kuat dan dapat menyesuaikan diri dengan perkembangan jaman serta mampu membaca peluang yang akan terjadi pada masa mendatang. Oleh karena ini itu, berangkat dari tuntutan kebutuhan inilah, secara khusus setiap pendidik dituntut untuk mampu memahami persoalan ini secara utuh dalam proses aktualisasi diri dengan menjadi seorang pendidik atau guru. Hal-hal inilah merupakan wujud  kesadaran mendalam akan kebutuhan serta perkembangan bangsa dan negara.

Sebagai manusia yang beragama khatolik kita tentu memiliki sebuah pemahaman bersama bahwa Yesus adalah pelayan, teladan sekaligus guru. Memilih menjadi guru merupakan kesiapan untuk menjadi pelayan bagi sesama secara khusus dalam pelaksanaan pendidikan. Menjadi guru adalah menjadi pelayan dan juga teladan. Terkait dengan teladan tersebut, saya teringat sosok Malala pada sebuah buku yang berjudul Iam Malala. Seorang gadis muslim yang aktif mengkampanyekan kebebasan bagi perempuan untuk mengecapi pendidikan hingga menentang ketidakadilan atas rezim yang berkuasa melaui tulisan-tulisannya. Kritik yang disampaikannya berhasil menganggu penguasa yang tengah menikmati kenyamanan belum lagi ditambah tekanan dan agresi militer dari negara tetangganya. Satu hal yang saya petik dari kisah ini adalah setiap kita dilahirkan sebagai pelayan dan semangat pelayanan itu akan terus tumbuh dalam diri kita apabila kita masih memiliki rasa kemanusiaan (sense of humanis). Menjadi pelayan dapat dilakukan dengan berbagai cara dan metode kita sendiri atas dasar berbagai kebutuhan yang harus dipenuhi. Menjadi pendidik atau guru adalah bentuk pelayan nyata dalam mentransformasikan pengalaman, nilai, dan pengetahuan kepada mereka yang tengah membutuhkan.

Oleh karena itu dalam semangat pelayan harus didasari oleh rasa kemanusiaan (sense of humanis) maka disanalah sebuah pola relasi yang baik akan terbangun. Hal ini selanjutnya diwujudkan  pada kematangan emosional antara guru dan siswa. Kematangan emosional inilah yang kemudian membuat guru dan siswa semakin lebih dekat, lalu bersama-sama memanfaatkan peluang ini untuk meraih tujuan yang menjadi target utama dalam sebuah proses pendidikan dan tetap mengedepankan metode proses. Karena pendidikan bukan hanya berorientasi pada hasil tetapi juga proses. Lalu pada akhirnya siswa siswa akan sadar atas goal orientation bagi dirinya yang kemudian memacu siswa untuk lebih bersemangat, karena design pelayanan yang menyenangkan, keakraban terbangun antara siswa dan guru,  lalu pada akhirnya terbentuklah satu team work yang kuat untuk mewujudkan tujuan pendidikan yang sesungguhnya. Oleh karena itu spirit  yang dibangun adalah yang jauh mendekat, mendekat merapat, merapat melekat, melekat menyatu, menyatu dalam satu satu birama untuk belajar bersama-sama. Guru atau mendidik akan menjadi fasilitator, rekan belajar dan teman sharing dengan tetap mengedepankan etika.

 

3.    Bagaimana Kita Bertumbuh

Hal pertama yang perlu saya garis bawahi adalah penempatan kata “bertumbuh” yang dimaksud bukan merujuk pada pertumbuhan fisik, tetapi upaya mengembangankan diri secara psikologis sebagai seorang pendidik atau guru. guru yang mempunyai spiritualitas yang baik bukan hanya dilihat dari pelayanan dalam proses KBM  dan pola relasi,  tetapi seharusnya dilihat secara keseluruan. Salah satu hal yang menandakan guru atau pendidik yang mempunyai spiritual yang baik adalah keaktifan dalam mengembangkan diri secara terus-menerus. Tentu hal tersebut sebetulnya dilakukan untuk menjaga eksistensi diri dan mampu menyesuaikan diri dengan perubahan situasi, lalu pada akhirnya dapat berdiri diatas perubahan yang kian terjadi setiap saat. Maka pada tataran tersebut, guru atau pendidik telah mewujudkan azas kekinian yang merupakan kemampuan untuk menyesuaian diri dengan kondisi yang seharusnya saat ini terjadi.

Upaya un tuk mengembangkan diri tersebut tentunya dilaksanakan dengan berbagai metode dan pendekatan yang tentunya pasti akan berbeda setiap orang, pun kalau sama jika dilakukan secara klasikal yang difasilitasi oleh instansi atau lembaga tertentu. Maka pada kesempatan ini, saya mencoba untuk menawarkan beberapa cara sederhana yang dapat dilakukan guru atau pendidik untuk mengembangkan spiritualitasnya dalam rangka menjawabi tuntutan kebutuhan jaman yang semakin kompleks dan kompetitif ini. Hal-hal tersebut antara lain:

Mendekatkan diri kepada yang mahakuasa

Bertrand Russell, yang adalah seorang ateis pernah mengatakan bahwa: sebelum anda memikirkan allah, pertanyaan tentang tujuan tidaklah berarti. Bayangkan saja, seorang ateis yang pada umumnya tidak percaya pada Tuhan secara terbukan mengatakan demikian. Lantas bagaimana kita sebagai mahkluk yang mempunyai keyakinan akan Tuhan?. Pernyataan Bertrand Russell tersebut sebetulnya  mengajak kita semua untuk menempatkan Tuhan sebagai role of model. Mengutip salah satu ayat Alkitab “bahwa didalam tangan-Nya, terletak segala nyawa yang hidup dan nafas setiap manusia”. Saya menerjemahkannya bahwa Tuhan mempunyai pengaruh yang sangat besar dalam setiap ranah kehidupan setiap individu. Dengan melibatkan Tuhan dalam segala perkara, maka kita sedang memasuki situasi yang mana kita menjauhkan dari hal buruk dan bertindak sesuai dengan perintah-Nya. Hal ini akan berimplikasi pada pola pikir kita yang jernih, berpikir secara positif, lebih selektif dalam mengambil keputusan dan menjadi sahabat yang siap menerima orang lain dengan kekurangan dan kelebihannya, selayaknya kita mencintai diri kita sendiri. Dan hal tersebut, saya yakin semua guru miliki. Sebuah pernyataan sekaligus pengakuan dari saya bahwa semenjak bekerja di SMP Ignatius Slamet Riyadi, saya bukan hanya mendapatkan rekan kerja baru, bukan  hanya situasi baru tetapi dari pengalaman-pengalaman yang saya alami sesungguhya saya menemukan sebuah keluarga. Yah keluarga yang telah mendewasakan dan mengarahkan saya untuk berkembang dan terus belajar.

Perbanyak referensi

Saya sangat percaya dan sangat tidak meragukan kompetensi setiap guru, terlebih dalam penguasaan bidang ilmu yang digelutinya. Bahkan untuk memperkuat dan menjiwahi pengetahuan tersebut saya yakin para guru atau pendidik selalu mendalami bidang atau mata pelajaran yang diasuh, bahkan saat-saat sebelum memberikan materi kepada peserta didik. lantas  ilmu yang pendidik atau guru miliki bukan hanya diperuntukan bagi siswa tetapi juga bagi  guru atau pendidik untuk menjalai kehidupannya. Tapi kalau menurut saya, sangat disayangkan apabila seorang guru sangat terpaku pada satu bidang saja. guru bukan hanya menjadi guru di sekolah, tapi bisa menjadi guru di luar sekolah. Bukan hanya bidang tertentu yang akan ditransformasikan ke peserta didik tetapi bagaimana mengarahkan siswa untuk memahami kehidupan secara komprehensif. Kondisi tersebutsetiap guru pasti membutuhkan sebuah referensi atau konten tertentu untuk menyadarkan peserta didik. Disamping itu kehidupan sosial menuntut setiap peserta didik untuk dapat berdiri diatas golongan  masyarakat baik budaya, agama, suku dan hal lain yang melekat dengan kehidupan.

Oleh karena itu,  sebagai upaya dalam mempertahankan dan mengembangkan diri salah satu hal yang dilakukan oleh guru adalah menambah wawasan melalui membaca, menulis, diskusi, bedah film atau menonton video ispiratif yang kemudian bisa dijadikan gambaran dan acuan dalam menjani kehidupan terlebih menjalani tugas sebagai pendidik atau guru. Sebuah pengalaman berharga semenjak bekerja di Yayasan Salib Suci tepatnya di SMP Ignatius Slamet Riyadi, saya merasa sangat terdorong untuk membaca. Menyadari bahwa semua yang saya pelajari tersebut sebetul sangat  bermanfaat bagi saya secara pribadi dan hal positif yang saya dapatkan tersebut bisa bagikan ke orang lain. Banyak orang mengatakan bahwa lingkungan sangat berpengaruh dalam perkembangan seseorang. Dan sampai pada detik ini SMP Ignatius Slamet Riyadi tempat saya bekerja selalu memberikan kesempatan dan dorongan untuk terus memperbaiki dan mengembangkan diri.

Bahwa pengetahuan akan selamanya menjadi milik setiap pribadi dan tidak bisa dirampas oleh siapapun. Maka menjadi suatu keberuntungan bagi pendidik atau guru yang secara terus menerus memperkaya pengetahuannya. Dan sejauh ini dua hal ini yang bisa saya lakukan secara pribadi, untuk mengembangkan kemampuan sebagai seorang pendidik atau guru.

 

4.    Hambatan

Pada awal tulisan saya ini, telah sampaikan bahwa menjadi guru adalah penyerahan diri secara total atas pilihan hidup dalam panggilan dan secara sadar mempertaruhkan waktu, tenaga dan pikiran. Hari ini, guru dijejali dengan berbagai tugas administrasi dan itu menghabiskan cukup banyak waktu,belum lagi pembagian waktu untuk mengurusi persoalan pribadi. Maka ketika berbicara soal meningkatkan spiritualitas individu, maka kita bicara soal waktu. Jangankan hanya dengan berdoa, membaca, menulis, diskusi dan lainnya. Pun kalau harus mengelilingi dunia untuk meningkatkan kemampuan dan spiritualitasnya, saya yakin setiap guru pasti tidak akan menolak. Tapi kembali lagi ke persoalan waktu. Apalagi di era yang semakin kompetitif ini, waktu akan menjadi komoditas utama dalam mengembangkan diri. Mau memilih untuk mengembangkan diri atau menyelesaikan pekerjaan untuk memenuhi kebutuhan makan siang yang tidak bisa ditunda.

 

5.    Kesimpulan

Waktu mengikuti sebuah rekoleksi guru-guru komplek Kebon Kangkung di Eco Camp di daerah Dago, saya sangat tersentuh dengan sebuah kata yang terus membekas dalam pikiran sampai saat ini. Bahwa ketika apa yang dikerjakan oleh seseorang dan pada akhirnya memberikan hasil yang baik, maka yang akan didapatkan adalah sebuah “perasaan”.  Perasaan merupakan ungkapan hati atas apa yang diperoleh, apa yang ditemui, apa yang dialami dan tidak akan bisa dijelaskan. Siapapun hanya bisa memahami dan merasakan. Perasaan tidak bisa digantikan oleh apapun.

Oleh sebab itu, satu hal yang baik yang menggugah saya dari  buku ini adalah bahwa bagaimana seorang guru atau pendidik menjalani tugasnya atas dasar “rasa”. Inilah yang menjadi awal mula spiritulitas seorang guru atau pendidik tumbuh. atas dasar “rasa” yang kemudian terus menggerakan setiap kita untuk terus menebarkan benih kebaikan kepada kepada siapapun. Maka sebagai penutup saya mengutip sebuah pepatah India yang berbunyi “tempat dimanapun cinta bersemi, disitu pula semua kemungkinan akan terwujud”.

Teriring salam dan doa semoga tuhan selalu menyertai segala usaha dan perjuangan kita, secara khusus kepada keluarga besar SMP Ignatius Slamet Riyadi, Kebon Kangkung.

 Salam

Try Something New

 

Mengawali tulisan singkat ini, saya mengajak sahabat pembaca semua untuk sejenak saja melihat dan merenungkan kembali sederet waktu terlebih pada tahun 2020 yang telah terlewati. Kembali kita melihat berbagai pengalaman dan peristiwa kehidupan yang penuh dengan suka duka, penuh dengan berbagai cerita dan kesan yang unik dan tidak lepas sebuah momentum berharga untuk selalu menatap hari esok. Kadang melelahkan dan membuat kita nyaris menyerah pada perjalanan perjuangan hidup. Ingin rasanya menangis atau mungkin berteriak sekeras mungkin ketika harapan tak berpihak pada kita. Setiap hal yang kita alami datang dan berlalu seiring berjalannya waktu. Hari ini baru kita sadar bahwa semua yang telah terlewati terasa baru minggu lalu atau mungkin kemarin sore. Akhirnya kita memahami bahwa waktu berjalan begitu cepat dan ringkas, sedangkan masih banyak hal yang harus kita selesaikan. Sanggupkah kita akan menuntaskan segala tugas dan tanggung jawab disisa waktu ini?

Waktu terus berjalan dan akhirnya kita tiba di tahun baru 2021. Setiap orang tentunya mempunyai pengertian yang berbeda tentang hakikat dari peristiwa tersebut. Mulai dari yang paling sederhana bahwa ada yang melihatnya sebagai pergantian angka belakangnya, ada yang melihat sebagai waktu memiliki barang baru, pekerjaan baru, pasangan baru, ada pula yang menganggap biasa saja dan tidak ada bedanya. Disisi lain ada yang melihat sebagai momentum untuk merefleksikan diri, memperkuat komitmen, memupuk kembali semangat untuk hari esok yang lebih baik. Ada yang melihatnya sebagai momentum pembaharuan diri. Saya percaya bahwa apapun pemaknaannya, setiap kita menginginkan yang terbaik untuk diri kita dan orang yang kita cintai.

Terlepas dari apapun pemaknaan kita terhadap momentum pergatian tahun tersebut, ada satu hal yang mau saya sampaikan apakun kondisi dan harapan kita saat ini kita tidak bisa harus tetap berdiri ditempat. Mulai dari yang paling sederhana yakni memenuhi kebutuhan akan makanan, tempat tinggal dan pakayan yang sifatnya wajib dan tidak bisa ditunda. Lebih luas lagi bahwa kondisi hari ini hidup diibaratkan seperti lomba sprint atau lari cepat. Kompetisi yang tidak akan pernah berhenti tersebut telah melibatkan kita untuk ikut sebagai kontestan yang secara aktif ikut bertarung mengikuti arah dan lajunya perubahan tersebut. Tidak harus berada pada posisi terdepan, tetapi paling tidak kita ikut meskipun harus tertatih, agar tidak tertinggal lalu berujung pada sebuah penyesalan apalagi berdiam diri dan siap tergilas oleh situasi. Ingat bahwa siapapun tidak dapat menghentikan kompetisi dan perubahan ini. Hanya ada dua pilihan yakni diam atau ikut berkompetisi. Jika waktu terus berjalan maka, apakah momentum tahun baru kita jadikan sebagai kesempatan untuk memulai” atau “melanjutkan.

Pertama kita akan bahas tentang “memulai”. Kita mungkin saja merasa bosan dengan hal-hal yang sudah dilakukan selama ini. Merasa bahwa “Hidup saya kok gini-gini aja”. Atau saja sudah tidak tertarik lagi dengan berbagai kebiasaan yang sering kita lakukan yang hanya membuang-buang waktu saja. Lalu kita terjebak pada situasi yang membuat kita menjadi tidak produktif. Disisi lain merasa cukup dengan keberadaan kita sekarang, padahal masih ada peluang untuk mendapatkan yang lebih baik dan lebih banyak. Atau kita enggan memulai karena ada rasa pesimis bahwa kita tidak dapat melakukan dan mungkin berakhir dengan kegagalan. Atau mungkin kita memiliki banyak rencana, sehingga bingung mana yang harus dikerjakan terlebih dahulu, sedangkan kita hanya seorang diri.

Untuk itu, kita perlu menetapkan hal mana yang perlu kita kerjakan terlebih dahulu dan itu sesuai dengan kebutuhan atau tuntutan kita saat ini. Kerjakan dengan cara yang sederhana sesuai dengan kemampuan dan standar kita. Jika kita gagal, maka kita gagal sesuai dengan standar kita bukan standar orang lain. Ciptakan suasana kerja yang menyenangkan untuk menghindari kebosanan. Jadwalkan kapan akan memulai sekaligus target yang mau dicapai pada saat mengerjakan.  

Kedua kita akan bahas tentang “melanjutkan”. Ada yang mungkin pernah berkata dalam hatinya “kok saya selalu gagal, padahal saya sudah berusaha sekuat tenaga”. Atau “kok hasilnya gini-gini aja, pada hal tiap hari saya punya waktu 4 jam untuk belajar di luar PJJ”. Ada pula yang mengatakan “saya sudah berusaha untuk tidur jam 8, kok masih bangun telat juga”. Mungkin juga ada yang berkata “kok ulangannya dapat nilai 3, padahal saya saya belajar dari malam sampai subuh”. Ternyata masih ada yang menganut SKS (sistem kebut semalam). Ketika mengetahui bahwa hasil yang didapatkan jauh berbeda dengan harapan menunjukan bahwa kita sedang mengevaluasi diri. Kita menyadari bahwa ada hal yang perlu untuk diperbaiki dan ditingkatkan, semisal hasil belajar.

Jika dilihat dari tahap persiapan sampai pada hasil yang kita dapatkan, maka sebaiknya kita perlu mengevaluasi secara keseluruhan segala aktivitas kita, semisalnya dalam hal belajar. Apakah cara belajar saya sudah benar dan efektif?, apakah saya benar-benar fokus saat belajar dan mengerjakan tugas atau ulangan?, Apakah saya fokus saat mengikuti meet saat PJJ atau malah sibuk buka youtube atau hal lain? Pertanyaan-pertanyaan semacam ini perlu kita jawab untuk memperbaiki cara atau kebiasaann kita yang masih kurang optimal.

Banyak yang mengatakan bahwa kegagalan adalah keberhasilan yang tertunda. Ini kedengarannya lucu. Bagaimana jika kita menggantinya dengan kegalalan adalah ketika kita berhenti berjuang sebelum prosesnya selesai atau melakukan dengan cara yang salah. Bagaimana mungkin kita dapat memahami meteri tertentu jika kita keluar dari room meeting ketika PJJ apalagi bersikap bodoh amat. Bagaimana bisa mendapatkan hasil maksimal, jika mengerjakan tugas saja setengah-setengah apalagi asal-asalan. Jika demikian maka, kita mengamini bahwa kegagalan bukan hanya keberhasilan yang tertunda, tetapi kita tidak menginginkan keberhasilan.

Terselesaikannya sebuah tugas atau pekerjaan tentu bermula dari sebuah usaha dengan cara-cara yang benar. Seberat atau serumit apapun tugas atau pekerjaan, tentu ada cara tertentu untuk menyelesaikannya. Untuk itu, kerjakanlah sesuai dengan cara kita, dengan cara yang paling sederhana. Jika pertanyaan-pertanyaan diatas tadi sudah bisa kita jawab maka, kita dapat mengetahui dimana letak kekeliruan yang selama ini terjadi.

Oleh sebab itu sesering mungkin untuk melakukan evaluasi diri, evaluasi kebiasaan belajar, evaluasi pola yang kita gunakan saat menyelesaikan suatu pekerjaan. Pergunakanlah hasil evaluasi diri untuk acuan dalam melanjutkan usaha dan perjuangan kita. Percalah pada diri, pegang teguh pada komitmen dan harapan dan terus melangka maju. Setiap kita berhak untuk menjadi yang terbaik dan mendapatkan yang terbaik.

 Terlepas sebanyak dan serumit apapun rencana yang sudah kita tetapkan tidaklah menjadi suatu alasan bagi kita untuk bosan apalagi menyerah. Maka hal terpenting yang perlu kita lakukan adalah fokus pada apa yang hendak dikerjakan. Hal pendukung lainnya adalah dengan menetapkan langkah-langkah kerja yang sederhana dan akan lebih baik jika sesuai dengan kemampuan diri. Berikutnya adalah manajemen waktu. Waktu adalah sesuatu yang sangat seksi, dalam artian bahwa ketika manajemen waktu itu dilakukan dengan baik maka segala hal yang kita lakukan berjalan dengan baik. Jika sebaliknya bisa berdampak pada proses yang kita jalani dan lebih buruknya menyebabkan terjadinya pembiaran atas rencana yang mana kita sendiri sudah tetapkan.

Disisi lain yang turut mempengaruhi adalah mengenai skala prioritas. Bahwa terkadang setiap orang sulit untuk membedakan mana yang sifatnya urgen dan benar-benar dibutuhkan serta mana yang menjadi keinginan yang sifatnya hanya sebagai pelengkap. Kerap kali orang-orang mengalihkan fokus pada hal-hal yang hanya untuk mendapatkan kesenangan sesaat hingga lupa dengan waktu lalu mengabaikan hal yang paling utama. Bagaiamana mungkin semua mimpi besar kita jika kita masih menunda-nunda pekerjaan. Benar bahwa kesenangan memang menjadi salah satu promotor untuk meningkatkan etos kerja, mengilangkan segala kebosanan, dan juga membangkitkan kembali semangat, jika itu sesuai porsinya dan bukan menjadi faktor penghambat.

Selanjutnya yang perlu diperhatikan adalah soal pengetahuan. Pengetahuan yang dimaksud adalah ketika kita memahami cara, langkah kerja, metode, dan pendekatan serta proses secara secara utuh. Hal ini menjadi sangat penting sehingga dalam prosesnya setiap kita tidak membabi buta atau mengada-ada. Sederhananya adalah kita harus tahu bagaimana dan apa saja yang harus kita lakukan. Pengetahuan sangat erat kaitannya dengan sikap. Contohnya ketika muncul rasa pesimisme terhadap rencana kita, kurangnya kepercayaan dan mungkin juga mengatakan bahwa kita akan gagal. Hal lain adalah ketika mendapat kritikan, penilaian dari luar atau bahkan ketika kita menemui kegagalan. Hal-hal inilah yang membuat kepercayaan diri semakin berkurang dan disaat yang bersamaan semangat kita pun mulai redup. Menjadi pertanyaan adalah apakah kita harus ikut terpengaruhi ha-hal tersebut lalu pada akhinya putus asa apalagi menyerah? Atau saja menjadikannya sebagai sebuah titik tumpuan pembelajaran untuk loncatan yang lebih tinggih. Ingat yang menentukan keberhasilan dari perjuangan kita adalah diri kita sendiri.

Salam

SESUATU YANG HILANG (Part 1)

  Beberapa hari terakhir ini, lampu jalan di sepanjang jalan Ibrahim Haji padam. Jalanan hanya bisa diterangi oleh lampu kendaraan bermotor,...