Suatu sore
beberapa orang anak kecil tengah bermain dipinggiran kampung sambil menikmati
beberapa buah yang diberikan oleh seorang petani yang baru saja pulang dari kebunnya.
Komplotan anak-anak itu terlihat begitu asik menikmati buah segar tersebut,
sampai-sampai tak lagi menghiraukan sisa buah yang menempel disekitar mulut dan
hidungnya. Tak lama, buah itu habis dibabat tak tersisa.
Salah
seorang diantaranya lalu menggali tanah dengan patahan kayu. Lalu dengan sigap
anak itu menanam biji buah tersebut. Beberapa diantaranya menertawakan apa yang
dilakukan anak tersebut. Berkatalah salah seorang dari mereka, "biji yang
kamu tanam itu tidak akan tumbuh, paling besok sudah dicakar-cakar oleh
ayam". "Hahahaha", sambung beberapa anak yang lain seakan
mengejek anak tersebut. Hari mulai gelap, komplotan anak-anak tersebut kembali
ke rumahnya masing.
Keesokan
harinya anak tersebut, kembali melihat tumpukan tanah yang ditanami bebijian
kemarin. Merasa kurang puas, dia langsung membuat semacam pagar pelindung dari
bebatuan yang berserakan disekitar. Karena dia percaya bahwa biji tersebut akan
tumbuh, maka dia menyiramnya dengan air dan itu dilakukan setiap hari.
Lewat
beberapa hari, tunas dari biji itu mulai muncul diatas permukaan tanah. Betapa
senangnya, anak itu ketika melihat tunas
itu tumbuh dengan subur. Karena ini adalah kabar gembira, anak itu pergi
menceritakan ke teman sekomplotannya. Karena tidak terlalu percaya, mereka
langsung mendatangi tempat dimana biji itu ditanam. Beberapa diantara mereka berkata "ah, palingan nanti
juga akan mati, mungkin karena dilahap oleh kambing yang berkeliaran".
Namun, yang lainnya bersepakat untuk memagari tunas tersebut dengan ranting
kayu dan bambu.
Singkat
cerita, beberapa tahun kemudian tunas tersebut tumbuh menjadi sebuah pohon yang
rindang. Demikianpun anak-anak itu mulai tumbuh dewasa. Betapa bangganya mereka
melihat biji yang dulu tidak dianggap, kini tumbuh
menjadi sebuah pohon yang subur, rindang dan mulai berbunga. Di depan mata
bukan hanya sebuah kerindangan, tetapi juga buah dari pohon itu yang siap untuk
dinikmati.
Dalam
kehidupan sehari-hari, kita mungkin pernah mengalami hal serupa. Dimana
terkadang orang ragu dan sulit untuk mempercayai, apalagi mengandalkan kita.
Bahkan, kita juga hampir kehilangan rasa untuk mempercayai diri kita.
Coba sejenak
saja kita kembali melihat ke dalam diri kita. Kita mungkin pernah selalu
menaruh rasa pesimisme terhadap orang lain, lalu cenderung merendakan orang
tersebut. Kita mungkin terlalu fokus pada kondisi hari ini, lalu lupa akan
dengan apa yang terjadi kelak seperti pada cerita diatas. Atau lebih
mempermasalahkan sedikit kekeliruan yang dilakukan orang lain dan mengabaikan
perbaikan yang bisa dilakukan bersama. Kita mungkin saja tidak percaya pada karakter
atau perilaku orang, lalu tidak menghiraukan apapun yang dilakukannya. Kita
terlalu menganggap rendah kemampuan orang lain, lalu merasa bahwa mereka tidak
dapat berbuat apa-apa. Dan paling buruknya adalah, menjadikan masa lalu
seseorang sebagai patokan untuk melihat dan menilainya hari ini dan masa yang
akan datang. Sebagai contoh, jika seseorang mencuri, maka di cap sebagai
pencuri seumur hidup. Apalagi ketika dia melakukan kesalahan lain, predikat
pencuri itu masih digunakan untuk menghakiminya.
Berbagai
kejadian tersebut kemudian berhasil meruntuhkan kepercayaan terhadap orang lain dalam waktu yang panjang, lalu berujung pada
sebuah kondisi dimana seakan-akan tidak ada satu hal pun yang bisa diharapkan dari orang lain. Dan
ternyata kita lupa, bahwa apapun yang kita lakukan tersebut merupakan
bersadarkan sudut pandang dan standar kita sendiri, bukan pada tingkat
pemahaman dan kemampuan orang lain yang tentu berbeda dengan kita sendiri.
Inilah yang menjadi salah permasalahan yang sering terjadi diluar kesadaran kita.
https://hurunedye.blogspot.com/2021/03/proses-sosial-adalah-universitas.html Saya jadi
teringat pada petuah dari seseorang yang selalu menginspirasi saya. Dia berkata
"jika kamu hendak mengetahui kemampuan seseorang, maka berikanlah dia
kesempatan dan waktu untuk membuktikan dengan caranya sendiri, dan itu bukan hanya
sekali". Hal ini juga senada dengan kata bijak dari seorang ahli, katanya:
"kemampuan merupakan akumulasi dari kebiasaan
seseorang". Dengan dua pernyataan ini cukup memberikan pemahaman,
bagaimana cara melihat kemampuan orang lain untuk diakui, diterima lalu akhirnya kita percaya.
Kembali pada
salah satu pesan yang tersirat dalam cerpen diatas, bahwa untuk mendapatkan
kepercayaan orang lain itu memang sulit. Jangankan untuk dipercayai, diterima saja belum tentu. Kita mungkin saja pernah putus asa bahkan
menyerah pada setiap masukan ataupun kritik dari orang lain. Hal ini akan
menjadi lebih para jika, kita menaruh rasa minder tepat didepan kita. Rasa
putus asa dan menyerah bisa disebabkan oleh beberapa hal, yang diantaranya
adalah: merasa kurang mampu, merasa tidak dihargai, berbenturan
dengan konsep pemahaman kita, atau bisa
saja karena memang kita terlalu kaku sehingga sulit dan bahkan anti pada setiap
masukan dari orang lain.
Jalan
satu-satunya adalah dengan pembuktian meskipun membutuhkan, komitmen dan
kesabaran. Seperti pada cerita diatas, pembuktian bahwa "dia bisa"
terletak pada keyakinan pada diri dengan melakukan apa yang diyakini. Benar
bahwa terkadang kita terkecoh dengan penglihatan (keyakinan) orang lain
terhadap diri kita tapi, bukan berarti dengan mudahnya menyerah. Jika sedari
awal anak itu, langsung mengurungkan niatnya untuk menanam, maka tidak pernah
sebuah pohon tumbuh rindang dan menghasilkan buah. Contoh yang paling sederhana
ketika kita belajar untuk berjalan. Kalau orang tua menyakini bahwa ketika
terjatuh menunjukan bahwa kita tidak akan bisa berjalan, maka mungkin sebagian
besar penghuni bumi ini hanya bisa merangkak. Tapi karena itu coba lagi, lagi
dan lagi maka, setiap kita bisa berdiri dan berjalan tanpa penopang apapun. Lalu
suatu saat orang tua kita dengan bangganya melihat anaknya.
Untuk itu
ada satu hal yang ingin saya sampaikan bahwa sebagai pribadi, kita tidak hanya
hidup dalam realita, tetapi juga dalam harapan. Terkadang kita mengalami
kenyataan yang pahit bahkan menyakitkan, bukan berarti merubuhkan harapan kita
untuk mencapai sebuah kebahagiaan. Harapan akan membuat kita tetap kuat dan
percaya pada diri, bahwa ada sesuatu yang baik tengah menanti kita.
Dalam
mengekspresikan diri sebagai makhluk sosial tentu akan ada banyak situasi yang
kita alami, baik yang searah dan berlawanan. Mungkin saat ini kebanyakan orang
melihat kita dengan sebelah mata atau mungkin tak mempedulikan kita, tak
masalah kawan. Percayalah bahwa kelak harapanmu akan menyinari orang-orang
sekitar lalu melahirkan harapan baru.
Setiap kita
hidup dan terus bertumbuh. Bagaikan pohon, kamu harus menahan panas dan
dinginya hawa, menahan derasnya terjangan angin yang membabi buta dan percaya
pada kekuatan akar, batang dan setiap ranting kecilmu ketika dihadang badai.
kamu harus menghadapi semuanya, sebab kamu
harus tumbuh. Teruslah bertumbuh
dan menjadilah seperti pohon yang memberikan kerindangan, kesejukan dan juga
buah yang berlimpah untuk dinikmati banyak orang.
Bukankah, itu yang kamu inginkan kawan?
Sudah pasti iya, lalu tunggu apalagi?
Mari kita lakukan.
Hahaero...
Kiaracondong, 14
April 2021
M. Edi Hurun