![]() |
Foto: Ruang kerja Bimbingan dan Konseling SMP ISR KK (20 april 2020) |
Ketika mendengar kata “kehidupan” maka, setiap orang mempunyai pengertian yang berbeda-beda berdasarkan pengalaman dan harapannya. Kehidupan yang sesunguhnya bukan saja merujuk pada hidup dan mati semata, tapi melibatkan banyak hal seperti tujuan hidup, sosialisasi, harapan, cinta dan masih banyak lagi. Dari kesekian banyak perihal tentang kehidupan tersebut, kemudian melahirkan berbagai macam cerita dan kesan, yang tentu tak tergantikan dengan apapun. Kita hanya mendapatkan sebuah “perasaan” yang dapat mewakili dan sulit dijelaskan.
Perkenalkan
nama saya M. Edi Hurun anak terakhir dari 5 bersaudara yang semuanya adalah
laki-laki. Bapak ku adalah seorang petani yang bahkan tidak memiliki jejak
pendidikan seperti kebanyakan orang. Beliau pernah bersekolah yang pada waktu
itu masih bernama sekolah rakyat dan setelah menerima sakramen komuni, bapak ku
berhenti sekolah dan mengikuti kakek ku bertani. Mama ku adalah seorang ibu
rumah tangga yang pendidikannya tidak jauh berbeda dengan bapak ku. Semasa
mudanya, mama ku mulai belajar untuk menjahit. Sehingga pada akhirnya, beliau
selain menjadi ibu yang merawat dan mengasuh kami, salah satu hal yang menonjol
dari mama adalah keterampilan menjahit yang sampai saat ini masih sangat
melekat pada dirinya.
Saya
sendiri dilahirkan disaat sinar matahari sudah menjulang tinggi dan dengan
panasnya sinarnya membuat siapapun akan berkeringat apabila beraktivitas dialam
terbuka. Disaat semua penduduk kampung sibuk dengan aktivitasnya masing-masing
ketika hari menjelang siang dan tepat di jam sepuluh pagi, saya dilahirkan di
sebuah rumah tua tepat di pinggir kampung. Hari itu adalah hari kamis, 20 April
1995 pertama kalinya saya merasakan suasana dunia nyata. Disambut dengan
senyuman dan kegembiraan oleh keluarga ketika mendengar tangisan seorang bayi
laki-laki dengan berbagai macam tingkah laku unik di pangkuan mama, yang tidak
lagi menghiraukan rasa sakitnya. Bahkan, beberapa orang mencoba untuk mengikuti
suara dan birama tangisan bayi kecil yang adalah saya. Sedangkan mama dengan
tangannya tidak lagi mulus, tak henti-henti membelai dan memelukku.
Saya
membanyangkan mungkin saat itu mama tak bisa menahan rasa sakitnya, tapi dengan
tingkah unik dan tangisan dari buah hatinya, dapat membuatnya lupa dengan rasa
sakitnya. Begitulah sepenggal kisah kelahiran saya. Dan saya sendiri lahir dari
keluarga petani dan dibesarkan oleh kedua orang tua di sebuah kampung bernama
Riangpadu, yang terletak diwilayah perbukitan Adonara Barat. Dari tangan mereka, saya tumbuh dengan berbagai
pengalaman dan cerita yang penuh dengan keunikan dan juga keanehan. Sepenggal
cerita yang saya dengar dari mama tentang kebiasaa masa kecil saya adalah
selalu makan diatas meja tepat di samping tempat duduk bapak dan selalu tidur
sembarangan sehingga tugas bapak sebelum tidur adalah menggendong saya dan
memindakan ke kamar tidur. Begitulah
sepengggal cerita masa kecil saya ketika di kampung.
Seiring
berjalannya waktu, kami semua tumbuh dan berkembang dalam asuhan dan bimbingan
mereka. Walaupun mereka adalah hanyalah petani, tapi kedua orang tua selalu
berusaha untuk menyekolahkan kami paling tidak bisa menulis dan membaca. Tak
hanya itu, bahkan sejak kecil, kami selalu diajak untuk bertani. Selain untuk
membantu meringankan pekerjaan mereka, tapi salah satu hal yang mau bapak dan
mama sampaikan ke kami adalah bagaimana perjuangan orang tua dalam menghidupi
dan menjaga keutuhan seebuah keluarga. Dari situ sebuah pesan yang selalu bapak
dan mama ingatkan kepada kami bahkan sampai sekarang adalah “segala hal yang
kami ajarkan selami ini adalah supaya suatu saat kamu bisa menghidupi dirimu
sendiri dan juga keluarga mu”. Sampai saat ini, pesan itu masih menggema di
telinga dan hati kami. Singkat cerita, kami semua bisa bersekolah walaupun
hanya sekitar sekolah dasar dan menengah.
Diantara
kami bersaudara, saya memiliki kesempatan dan peluang yang berbeda dengan
keempat saudara saya. Dipertengahan tahun 2013 saya berlayar menuju Jakarta
ditemani kakak yang kedua untuk melanjutkan studi diperguruan tinggi, dan
kebetulan pada saat itu kakak sulung, ketiga dan keempat sedang bekerja di kota
Jakarta. Sedari awal saya sudah memutuskan untuk mengambil jurusan matematika.
Keputusan itu berubah ketika saya bercerita dengan salah satu senior dikampus
yang hendak didaftarkan. Beliau dengan gagahnya menceritakan tentang pendidikan
matematika selama empat tahun. Saat didaftarkan oleh kakak sulung dan kakak
kedua, melalui telepon saya ditanyai untuk memilih jurusan Sejarah, Ekonomi
atau Bimbingan dan Konseling. Tanpa pikir panjang saya langsung memilih jurusan
Bimbingan dan Konseling. Untuk menyakinkan saya, kakak sulung menanyakan
beberapa kali. Namun jawaban dari saya tidak berubah dan tetap memilih jurusan
bimbingan dan konseling. Terkahir mereka berpesan kepada saya “adik, kami
selalu mendukung pilihan mu.
Tak
sampai disitu, tahun 2013 adalah momentum yang sangat berharga. Dimana kami
sebagai saudara serahim dapat berkumpul bersama-sama hingga pada akhirnya kakak
kedua saya harus pulang ke kampung halaman lagi. Bagi saya ini adalah momentum
langkah, karena sampai saat ini moementum itu belum terulang lagi. Jujur saya
merindukan suasana ketika kami berlima berkumpul dengan berbagai tingkah unik
yang selalu membuat suasana cair dan bahkan sampai pada emosional yang sulit
dikontrol. Itulah uniknya kami.
Senin,
16 september 2013 adalah hari pertama saya masuk kuliah sebagai mahasiswa
jurusan bimbingan dan konseling. Banyak hal baru yang saya alami seperti teman
baru dengan karakternya masing-masing, situasi baru dan lainnya yang menuntut
saya untuk mampu beradaptasi dngan kebaruan itu. Selain itu saya juga bergabung
dibeberapa organisasi kemahasiswaan yaitu PMKRI dan organisasi daerah yakni AMA
Jakarta. Semenjak awal bergabung, PMKRI menjadi rumah ketiga, setelah kos dan
kampus. Banyak hal yang saya pelajari dari kedua organisasi ini, yang pada
akhirnya sangat membantu saya pada kegiatan Praktik Pengalaman Lapangan (PPL)
bagi mahasiswa yang mau mendapatkan Ijazah akta IV dan penyusunan Skripsi
sebagai salah satu syarat untuk menjadi seorang sarjana pendidikan. Saya
sendiri kuliah selama 4,5 tahun (9 semester), bukan karena masalah prestasi
akademik ataupun sifat malas tetapi karena manajemen waktu yang keliru.
Bagaimana tidak menambah semester, jedah waktu untuk mengejar sidang skripsi
saya gunakan untuk pulang kampung. Sabtu, 5 Mei 2018 saya diwisudahkan sebagai
seorang Sarjana Pendidikan di kota Jakarta.
Mungkin
bagi kebanyakan orang mendapat gelar sarjana mungkin akhir dari segalanya dan
awal dari kemudahan. Bagi saya, terhitung sejak waktu saya diwisudahkan adalah
sebuah babak baru, dimana saya harus memulainya lagi nol. Paling tidak
tanggungan dari orang tua harus diminimalisir, mulai mencari kerja hingga pada
akhirnya bekerja dan tidak lagi bergantung pada keluarga. Saya sendiri pernah
menjadi pengangguran selama 7 bulan. Banyak sekali lamaran pekerjaan yang dikirimkan
kepada sekolah-sekolah di wilayah JABODETABEK. Sempat beberapa kali mengikuti
interview kerja, akan tetapi semuanya tidak membuahkan hasil yang baik. Hingga
pada tanggal 10 Januari 2019 saya diterima dan mulai bekerja di sebuah sekolah
swasta di daerah Pasar Rebo, Jakarta Timur. Hal yang paling berkesan ketika
bekerja di sekolah ini adalah selalu dilibatkan dalam pengambilan keputusan
mengenai kebijakan sekolah. Sedangkan pengalaman burukya adalah dihardik oleh
kepala sekolah yang pada saat itu mati-matian mengeluarkan salah satu siswa
yang bermasalah dengan penjaga sekolah. Bermodal secuil kemampuan tentang
“problem solving” saya akhrinya memfasilitasi persoalan ini, dan pada akhirnya
keadaan dan hubungan antara siswa dan penjaga seolah membaik.
Pada
suatu siang yang sangat panas teriknya, di awal bulan mei 2019 bertepatan pada
hari jumat, saya mendapat telepon dari sebuah yayasan pendidikan dari kota Bandung.
Isi pembicaraannya adalah saya diundang untuk mengikuti interview kerja. Sempat
bingung dengan undangan dari orang yang belum saya kenal itu. Setelah membuka
email dari orang menelepon saya tersebut, saya teringat kalau saya pernah
mengirim lamaran ke Penyelengara Pendidikan Yayasan Salib Suci Bandung. Sesuai
dengan jadwal yang sudah di atur, saya kemudian berangkat ke Bandung untuk
mengikuti nterview tersebut. Bermodalkan kepercayaan diri dan meminjam uang
dari beberapa teman, berangkatlah saya menuju bandung yang pada saat itu belum
ada satupun orang yang saya kenal. Yang saya miliki pada saat itu adalah alamat
Yayasan Salib Suci.
Pengalaman
terindah saya ketika sampai dikota bandung adalah menjadi gembel di terminal
leuwi panjang dari jam 01.00-07.00 pagi dengan berbagai tingkah aneh saya.
Tepat pukul 10.00 hari itu, saya memulai interview saya dan berakhir pada jam
15.00. Setelah dicecar dengan berbagai pertanyaan dan praktek mengajar serta
sharing seputar penanganan masalah anak, secara terbuka saya menanyakan
langsung kepada HRD mengenai hasil dari interview. Saya kemudian dinyatakan
layak dan diterima bekerja di yayasan tersebut. Disaat yang bersamaan saya
sangat puas dengan perjuangan saya pada waktu itu. Tapi ada satu hal yang
sedikit membuat saya merasa sedih adalah ketika saya harus meninggalkan Jakarta
(Pasar Rebo) tempat saya tinggal selama 6 tahun dengan berbagai cerita dan kenangan.
Tak mengapa. Akhirnya saya pulang ke Jakarta dan mempersiapkan diri untuk pergi
dan menetap di bandung, tempat baru saya. Termasuk menyelesaikan tugas di
sekolah tempat saya bekerja dan kemudian mengundurkan diri sebagai guru.
Awal
mula bekerja di Yayayan Salib Suci, saya ditempatkan di SMA di daerah Antapani
kota Bandung. Setelah sebulan kerja (sekaligus magang), saya dipindakan di
salah satu SMP yang masih dalam naungan Yayayan Salib Suci. SMP Ignatius Slamet
Riyadi Kebon Kangkung adalah rumah baru bagi saya untuk mengaktualisasikan
tugas dan tanggung jawab sebagai seorang guru bimbingan dan konseling. Di
tempat ini saya mulai belajar untuk mengenal katakter setiap guru dan karyawan
terlebih peserta didik yang berjumlah 189 orang. Berbeda dengan di SMA tempat
saya magang dimana ada koordinator guru bimbingan dan konseling sehingga ada
kemudahan untuk berkoordinasi mengenai layanan bimbingan dan konseling. Tetapi
di SMP Ignatius Slamet Riyadi, saya harus merencanakan dan melaksanakan sendiri.
Disini kemampuan benar-benar diuji dan dieksplorasi secara total. Walaupun
sering menerima kritik dan juga kasukan dari para guru, tapi bagi saya inilah
pelajaran yang sangat berharga, karena saya terlibat langsung sebagai dalang
sekaligus aktor utama pada “proses” itu, yakni dalam memberikan layanan
bimbingan dan konseling.
Pada
pelakasaan layanan yang saya berikan, segala persoalan bukan hanya dilihat ada
sisi benar atau salahnya. Berbagai kegiatan ekplorasi dilakukan untuk menemukan
berbagai akar persoalan yang kemudian mendorong sesorang berperilaku ataupun
mengambil sebuah keputusan. Jika kebanyakan berupaya untuk melihat seseorang
dari segala yang terlihat, maka tugas saya adalah menemukan sesuatu yang
tersembunyi yang mempunyai pengaruh besar dalam perilaku dan sikap seseorang,
secara khusus peserta didik asuhan saya. Setiap klien datang dengan berbagai
persoalan dan kondisi yang berbeda satu sama lain. Maka bentuk penanganan dan
tindak lanjut juga tentu pasti berbeda satu sama lain. Disini kemampuan dan
kreativitas dalam problem solving betul-betul dioptimalkan.
Dari
berbagai kejadian dan pengalaman yang dialami, saya kemudian membuat suatu
kesimpulan bahwa menarik dan sangat unik apabila kita mempalajari manusia pada
setiap kepribadian. Dari situ saya memahami bahwa hidup bukanlah semata-mata
soal uang, kekayaan, ataupun hal duniawi lain. Hidup juga mengenai penerimaan
diri, kontrol diri, relasi sosial, soal harapan yang selalu bersinar dan yang
terpenting adalah kepuasan dan kebahagiaan, yang tentu setiap orang memiliki
standar yang berbeda-beda. Selanjutnya yang saya mau menegaskan bahwa dengan
bersosial atau mempelajari setiap manusia, disitulah kita memahami realita kehidupan
dimana kita adalah pribadi yang berbeda dari pribadi yang lain. Meskipun
demikian, ada satu hal yang mampu menyamakan kita dari perbedaan tersebut yakni
kesadaran diri. Dengan demikian kita paham bahwa proses sosial adalah universitas
kehidupan yang sesungguhnya. Berbagai pengalaman dan perjuangan yang saya alami
selama saya mau mengatakan kepada semesta bahwa hari ini saya sangat “bersyukur
dan bahagia” dengan kondisi saya saat ini.
Kendati
demikian, bukan berarti menunjukan bahwa saya sudah menuntaskan segala tugas
dan kewajiban saya sebagai individu yang memiliki harapan dan impian. Bahwa
masih banyak hal yang harus saya pelajarin, saya lakukan dan saya capai salah. Akan
tetapi kondisi saya pada hari ini membuktikan bahwa saya sudah sampai pada
harapan kedua orang tua yang sudah saya wujudkan. Diamana saya sudah bisa hidup
mandiri tanpa bergantung dari siapapun dan bisa membawa serta mengontrol diri.
Dari berbagai ilustrasi dan gambaran mengenai pegalaman hidup selama 25 tahun,
saya mau menegaskan bahwa “saya sudah
sampai, tapi belum selesai”.
Terima
kasih yang tak terhingga untuk bapak Fransiskus Pati dan mama Elisabeth Tuto untuk
semua budi jasa serta cinta untuk anakmu ini. Kalian adalah adalah wujud cinta
yang sesungguhnya. Tak lupa buat abang Anton Hurung (guru dan kawan diskusi)
beserta keluarga, abang Agustinus Geroda berserta keluarga, Ama Paul dan Ama Darius
bersama keluarga kecilnya masing-masing terima kasih atas doa, dukungan serta
perjuangan buat adik mu ini.
Teriring salam
dan doa, Tuhan menyertai kalian semua.
Bandung, 20
April 2020
M. Edi Hurun
(1995-2020)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar