Rabu, 28 April 2021

SESUATU YANG HILANG (Part 1)

 
Beberapa hari terakhir ini, lampu jalan di sepanjang jalan Ibrahim Haji padam. Jalanan hanya bisa diterangi oleh lampu kendaraan bermotor, lampu teras toko atau rumah yang berjejer sepanjang jalan, cahaya dari layar HP para pejalan kaki yang baru saja pulang kerja, atau mungkin lagi berpacaran dan mungkin pula ketinggalan angkot. Apapun itu, bagi saya kejadian ini adalah sesuatu yang aneh, seolah saya baru saja tiba di planet lain yang mana situasi yang terjadi sangat berbeda.

Begini. Hampir setiap malam sebelum tidur, biasanya saya menikmati segelas teh panas di teras yang langsung berhadapan dengan jalan raya. Tidak ada bola lampu satupun yang terpasang di teras rumah saya tinggal. Dan bagi saya, cahaya lampu jalan adalah semacam kilauan bulan purnama. Agak kekuningan dan kebetulan memiliki tiang penyangga yang tinggi pula. Di balik keremangan teras rumah, saya merasa sedang ditemani berjuta bintang dan bulan purnama. Dan mereka setia mendengar setiap kelu kesah, cerita dan mungkin ikut merasakan suasana hati ataupun perasaan saya, ketika mulai merenung dalam pelukan angin malam.

Pikiran saya jauh melayang entah kemana membawa serta semua lelah, kelu kesah dan juga pikiran-pikiran buruk, ketika bias cahaya dari kendaraan bermotor menyatu dengan cahaya lampu jalan. Bagai pelangi di malam gelap. Saya begitu menikmati. Sampai-sampai, sengatan angin malam yang dingin tak lagi saya rasakan. "Kepo tutu, kepo tutu" melaju begitu cepat seperti di jalan tol. Mulus dan bebas hambatan. Saya percaya kilau lampu jalanan akan selalu setia mendengarkan setiap cerita yang hendak kubagikan padanya, bahkan ketika kami harus mewaktu sampai terbitnya sang mentari. Saat hendak menghabiskan tetes terakhir dari secangkir teh itu, pikiran yang tadinya jauh melayang, perlahan mendekat dan kembali menyatu dengan diriku. Membawa serta sejuta inspirasi, harapan dan cinta. Ketika jarum pendek tepat berada diangka 10.30, saya harus menuju tempat pembaringan, melanjutkan cerita dalam mimpi malam untuk hari esok. Begitulah yang terjadi setiap malamku.

Entah kenapa, serasa gelisa dan cemas. Suatu ketika kilau cahaya yang indah itu tak lagi muncul, saya merasa ada sesuatu yang hilang. Sesuatu yang selama ini ada bersamaku, kali ini tak menyapaku. Tidak ada lagi keteduhan, kedamaian dan keindahan untuk dinikmati seperginya senja. Tak ada satu pun yang ku temui disana, hanya kebisuan dan kesepian yang mematung. Sebuah relasi tanpa ikatan, ruang kami berbagi kini hilang, lenyap dan tak tahu kapan akan kembali. Tidak ada lagi kesempatan untuk mewaktu bersama dan menikmati indahnya malam.

Semua yang pernah terjadi pergi begitu saja. Tak ada lagi yang bisa dinikmati selain kesunyian. Pada gelapnya malam saya bertanya "dimana kau sembunyikan terang itu?" Tak kutemui jawaban apapun. Lalu dengan penuh amarah saya berteriak, "mengapa dunia tak pernah adil?. "Mengapa harus kau renggut semuanya dari ku?"

***Bersambung***

2 komentar:

SESUATU YANG HILANG (Part 1)

  Beberapa hari terakhir ini, lampu jalan di sepanjang jalan Ibrahim Haji padam. Jalanan hanya bisa diterangi oleh lampu kendaraan bermotor,...