Selasa, 13 April 2021

BENIH ITU SUDAH TUMBUH

Suatu sore beberapa orang anak kecil tengah bermain dipinggiran kampung sambil menikmati beberapa buah yang diberikan oleh seorang petani yang baru saja pulang dari kebunnya. Komplotan anak-anak itu terlihat begitu asik menikmati buah segar tersebut, sampai-sampai tak lagi menghiraukan sisa buah yang menempel disekitar mulut dan hidungnya. Tak lama, buah itu habis dibabat tak tersisa.

Salah seorang diantaranya lalu menggali tanah dengan patahan kayu. Lalu dengan sigap anak itu menanam biji buah tersebut. Beberapa diantaranya menertawakan apa yang dilakukan anak tersebut. Berkatalah salah seorang dari mereka, "biji yang kamu tanam itu tidak akan tumbuh, paling besok sudah dicakar-cakar oleh ayam". "Hahahaha", sambung beberapa anak yang lain seakan mengejek anak tersebut. Hari mulai gelap, komplotan anak-anak tersebut kembali ke rumahnya masing.

Keesokan harinya anak tersebut, kembali melihat tumpukan tanah yang ditanami bebijian kemarin. Merasa kurang puas, dia langsung membuat semacam pagar pelindung dari bebatuan yang berserakan disekitar. Karena dia percaya bahwa biji tersebut akan tumbuh, maka dia menyiramnya dengan air dan itu dilakukan setiap hari.

Lewat beberapa hari, tunas dari biji itu mulai muncul diatas permukaan tanah. Betapa senangnya,  anak itu ketika melihat tunas itu tumbuh dengan subur. Karena ini adalah kabar gembira, anak itu pergi menceritakan ke teman sekomplotannya. Karena tidak terlalu percaya, mereka langsung mendatangi tempat dimana biji itu ditanam. Beberapa diantara mereka berkata "ah, palingan nanti juga akan mati, mungkin karena dilahap oleh kambing yang berkeliaran". Namun, yang lainnya bersepakat untuk memagari tunas tersebut dengan ranting kayu dan bambu.

Singkat cerita, beberapa tahun kemudian tunas tersebut tumbuh menjadi sebuah pohon yang rindang. Demikianpun anak-anak itu mulai tumbuh dewasa. Betapa bangganya mereka melihat biji yang dulu tidak dianggap, kini tumbuh menjadi sebuah pohon yang subur, rindang dan mulai berbunga. Di depan mata bukan hanya sebuah kerindangan, tetapi juga buah dari pohon itu yang siap untuk dinikmati.

Dalam kehidupan sehari-hari, kita mungkin pernah mengalami hal serupa. Dimana terkadang orang ragu dan sulit untuk mempercayai, apalagi mengandalkan kita. Bahkan, kita juga hampir kehilangan rasa untuk mempercayai diri kita.

Coba sejenak saja kita kembali melihat ke dalam diri kita. Kita mungkin pernah selalu menaruh rasa pesimisme terhadap orang lain, lalu cenderung merendakan orang tersebut. Kita mungkin terlalu fokus pada kondisi hari ini, lalu lupa akan dengan apa yang terjadi kelak seperti pada cerita diatas. Atau lebih mempermasalahkan sedikit kekeliruan yang dilakukan orang lain dan mengabaikan perbaikan yang bisa dilakukan bersama. Kita mungkin saja tidak percaya pada karakter atau perilaku orang, lalu tidak menghiraukan apapun yang dilakukannya. Kita terlalu menganggap rendah kemampuan orang lain, lalu merasa bahwa mereka tidak dapat berbuat apa-apa. Dan paling buruknya adalah, menjadikan masa lalu seseorang sebagai patokan untuk melihat dan menilainya hari ini dan masa yang akan datang. Sebagai contoh, jika seseorang mencuri, maka di cap sebagai pencuri seumur hidup. Apalagi ketika dia melakukan kesalahan lain, predikat pencuri itu masih digunakan untuk menghakiminya.

Berbagai kejadian tersebut kemudian berhasil meruntuhkan kepercayaan terhadap orang lain dalam waktu yang panjang, lalu berujung pada sebuah kondisi dimana seakan-akan tidak ada satu hal pun yang bisa diharapkan dari orang lain. Dan ternyata kita lupa, bahwa apapun yang kita lakukan tersebut merupakan bersadarkan sudut pandang dan standar kita sendiri, bukan pada tingkat pemahaman dan kemampuan orang lain yang tentu berbeda dengan kita sendiri. Inilah yang menjadi salah permasalahan yang sering terjadi diluar kesadaran kita.

https://hurunedye.blogspot.com/2021/03/proses-sosial-adalah-universitas.html 

Saya jadi teringat pada petuah dari seseorang yang selalu menginspirasi saya. Dia berkata "jika kamu hendak mengetahui kemampuan seseorang, maka berikanlah dia kesempatan dan waktu untuk membuktikan dengan caranya sendiri, dan itu bukan hanya sekali". Hal ini juga senada dengan kata bijak dari seorang ahli, katanya: "kemampuan merupakan akumulasi dari kebiasaan seseorang". Dengan dua pernyataan ini cukup memberikan pemahaman, bagaimana cara melihat kemampuan orang lain untuk diakui, diterima lalu akhirnya kita percaya.

Kembali pada salah satu pesan yang tersirat dalam cerpen diatas, bahwa untuk mendapatkan kepercayaan orang lain itu memang sulit. Jangankan untuk dipercayai, diterima saja belum tentu.  Kita mungkin saja pernah putus asa bahkan menyerah pada setiap masukan ataupun kritik dari orang lain. Hal ini akan menjadi lebih para jika, kita menaruh rasa minder tepat didepan kita. Rasa putus asa dan menyerah bisa disebabkan oleh beberapa hal, yang diantaranya adalah: merasa kurang mampu, merasa tidak dihargai, berbenturan dengan konsep pemahaman kita,  atau bisa saja karena memang kita terlalu kaku sehingga sulit dan bahkan anti pada setiap masukan dari orang lain.

Jalan satu-satunya adalah dengan pembuktian meskipun membutuhkan, komitmen dan kesabaran. Seperti pada cerita diatas, pembuktian bahwa "dia bisa" terletak pada keyakinan pada diri dengan melakukan apa yang diyakini. Benar bahwa terkadang kita terkecoh dengan penglihatan (keyakinan) orang lain terhadap diri kita tapi, bukan berarti dengan mudahnya menyerah. Jika sedari awal anak itu, langsung mengurungkan niatnya untuk menanam, maka tidak pernah sebuah pohon tumbuh rindang dan menghasilkan buah. Contoh yang paling sederhana ketika kita belajar untuk berjalan. Kalau orang tua menyakini bahwa ketika terjatuh menunjukan bahwa kita tidak akan bisa berjalan, maka mungkin sebagian besar penghuni bumi ini hanya bisa merangkak. Tapi karena itu coba lagi, lagi dan lagi maka, setiap kita bisa berdiri dan berjalan tanpa penopang apapun. Lalu suatu saat orang tua kita dengan bangganya melihat anaknya.

Untuk itu ada satu hal yang ingin saya sampaikan bahwa sebagai pribadi, kita tidak hanya hidup dalam realita, tetapi juga dalam harapan. Terkadang kita mengalami kenyataan yang pahit bahkan menyakitkan, bukan berarti merubuhkan harapan kita untuk mencapai sebuah kebahagiaan. Harapan akan membuat kita tetap kuat dan percaya pada diri, bahwa ada sesuatu yang baik tengah menanti kita.

Dalam mengekspresikan diri sebagai makhluk sosial tentu akan ada banyak situasi yang kita alami, baik yang searah dan berlawanan. Mungkin saat ini kebanyakan orang melihat kita dengan sebelah mata atau mungkin tak mempedulikan kita, tak masalah kawan. Percayalah bahwa kelak harapanmu akan menyinari orang-orang sekitar lalu melahirkan harapan baru.

Setiap kita hidup dan terus bertumbuh. Bagaikan pohon, kamu harus menahan panas dan dinginya hawa, menahan derasnya terjangan angin yang membabi buta dan percaya pada kekuatan akar, batang dan setiap ranting kecilmu ketika dihadang badai. kamu harus menghadapi semuanya, sebab kamu harus tumbuh.  Teruslah bertumbuh dan menjadilah seperti pohon yang memberikan kerindangan, kesejukan dan juga buah yang berlimpah untuk dinikmati banyak orang.

Bukankah, itu yang kamu inginkan kawan?

Sudah pasti iya, lalu tunggu apalagi?

Mari kita lakukan.

Hahaero...

 

Kiaracondong, 14 April 2021

M. Edi Hurun

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

SESUATU YANG HILANG (Part 1)

  Beberapa hari terakhir ini, lampu jalan di sepanjang jalan Ibrahim Haji padam. Jalanan hanya bisa diterangi oleh lampu kendaraan bermotor,...