Jumat, 22 Mei 2020

MANUSIA DALAM AGENDA KEBAHAGIAAN


Hidup di abad 21 tentu mempunyai pola dan ciri yang khusus sesuai dengan perkembangan zaman serta turut berpengaruh pada kebutuhan hidup manusia. Tidak dapat dipungkiri bahwa kondisi hari ini menunjukan bahwa segala sesuatu menjadi cepat usang, waktu semakin meringkas,  perubahan dapat terjadi setiap saat  dan dapat juga dikatakan bahwa kehidupan manusia hari ini diperatarai oleh internet. Dan orang berlomba-lomba untuk dapat menjawabi kebutuhan yang zaman tersebut. Hal inilah menunjukan bahwa manusia selalu bergerak maju yang dapat dibuktikan melalui usaha meningkatkan kualitas diri bahkan sampai pada penemuan-penemuan baru di lab-lab atau di organisasi tertentu. Sampai disini satu hal yang perlu kita pahami adalah bahwa untuk mengukur komptensi setiap individu maka kita harus berkompetisi.

Selain untuk memiliki memperpanjang rentang kehidupan, proyek kedua yang menjadi harapan manusia di abad ke 21 adalah kebahagiaan. Jauh sebelum itu, mari kita sedikit menyinggung soal rentang kehidupan. Siapapun kalau ditanyakan, apakah kamu siap untuk mati hari ini?. Saya menyakini semua orang tentu menjawab tidak. Ketika merebaknya Covid 19 semua orang di seluruh penjuru dunia, baik yang kaya, miskin, gembel, kaum konglomerat pengngguran, pengusaha kaya, orang pintar, bodoh, politisi, dan seluruh umat manusia begitu antusias terlebih dalam menjaga diri agar tidak terjangkit apalagi mati karena Covid 19. Ini bukti nyata menunjukan bahwa setiap individu masih memiliki harapan untuk tetap hidup. Atau bahkan orang tua (lansia) pun berjuang mati-matian untuk melawan penyakit untuk pada akhirnya dapat kembali berkumpul bersama keluarganya.

Mengenai kebahagiaan tentu menjadi pencapaian tertinggi bagi setiap manusia. Secara sederhananya siapapun memiliki semuanya yang diinginkan, tapi tidak ada kebahagiaan akan kondisi tersebut, maka semuanya hanyalah sesuatu yang sia-sia. Pencariaan kebahagiaan merupakan pencarian personal. Banyak orang menyakini bahwa kebahagiaan  terbesar akan dapat diperoleh individu setelah kematian, tetapi tidak dapat dipungkiri bahwa manusia juga pasti menginginkan kebahagiaan duniawi. Karena yang jelas siapapun tidak menginginkan sepanjang rentan kehidupannnya selalu dalam penderitaan. Hal tersebut senada dengan pernyataan Bapak Pendiri Amerika Serikat pada tahun 1776, yang menegaskan bahwa selain memiliki hak untuk hidup dan hak untuk kebebasan, setiap individu berhak untuk bahagia. Ini tidak dapat dipungkiri. Tampaklah bahwa kebahagian sebetulnya ditopang oleh dipilar kokoh, yakni psikologis: ketika realitas sesuai dengan ekspektasi dan biologis:ketika kebutuhan dasar terpenuhi (masih berkaitan dengan piramida kebutuhan, Abraham Maslow).  

Selanjutnya mengenai cara untuk dapat mencapai kebahagiaan setiap orang tentu berbeda-beda antara satu dengan yang lain. Hal ini tentu sangat berkaitan dengan tujuan hidup manusia dan standarisasi kehidupan seseorang. Semisal berorientasi pada harta dan kekayaan, jabatan, kekuasaan, popularitas, pengetahuan, keterampilan khusus, karir, hubungan sosial, kesehatan, pendidikan dan sebagainya. Bicara mengenai orietasi maka tentu orang akan berjuang mati-matian untuk mencapainya dengan cara atau proses yang baik  bahkan dengan cara yang salah atau tidak baik. Kejadian-kejadian tersebut sering kita temui bahkan alami setiap hari. Dengan demikian jelas bahwa kebahagiaan dan penderitaan adalah dua hal yang sama-sama memiliki keseimbangan yang saling memberikan pengaruh.

Kehidupan hari ini telah menunjukan bahwa perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi telah menerobos masuk dalam segala ranah kehidupan manusia dan juga terhadap pencariaan kebahagia. Namun kerap kali upaya untuk mendapatkan kebagiaan berujung pada sebuah kesenangan sesaat dan menimbulkan ketidak puasaan. Berbagai produk ilmu pengetahuan dan teknologi sebagai sarana dalam mencapai kebahagian banyak disalahkan gunakan dan berujung pada sebuah penderitaan. Sekitar 2.300 tahun lalu, filsuf Epicurus mengingatkan para muridnya bahwa pencarian kebahagiaan yang berlebihan akan berbuah penderitaan bukan kebahagiaan, bukan kebahagiaan. Bahkan pada hari ini, pencariaan kebahagiaan itu sudah beralih menjadi sebuah kejahatan.

Pada tahun 2009, separuh penghuni penjara yang dikelolah pemerintah federal AS adalah pengguna obat bius. Tahun 2001, sebuah laporan menunjukan bahwa 62 persen terhukum di Australias berada dalam pengaruh obat bius ketika melakukan kejahatan yang membuatnya dipenjarahkan. Kejadian lain yang sering kita temui adalah ketika mengkonsumsi alkohol atau obat terlarang untuk menghilangkan stres atau keputusaan, bahkan menimbulkan masalah baru seperti memukul orang, mencuri, atau mencaci maki orang. Atau bermain game online dari pagi ketemu pagi dan kebiasaan lainnya. Perilaku-perilaku semacam ini pada akhirnya menjadi sebuah kebiasaan dan ketergantungan yang sebetulnya memberikan kesenangan sesaat. Kenyataan-kenyataan seperti ini menunjukan bahwa ada sesuatu yang salah atau keliru perihal upaya untuk mencapai kebahagiaan.

Sedangkan disisi lainnya, ada 12 persen tentara AS yang berada di Irak dan 17 persen  di Afganistan mengkonsumsi obat untuk menghadapi tekanan dan kecemasan dari perang dan mendorong mereka untuk tampil dengan gagah dan berani. Berbagai hasil riset santifik berusaha untuk menghasilkan obat penahan sakit yang dibagikan ke pusat kesehatan atau untuk keperluan para tentara yang berperang, rasa baru es krim, game baru  yang lebih adiktif di telepon pintar kita untuk menghalau rasa jenuh ketika menunggu bus misalnya, obat penenang bagi  orang yang hiper aktif dan agresif.

Melihat hal tersebut, tampaklah disana bahwa sebagian besar individu gagal membawa diri dalam mencapai kebahagiaan. Kenyataan menunjukan bahwa orang berdarah-darah untuk mencapai kebahagiaan. Lalu berhasrat untuk mendapatkan yang lebih besar dan lebih banyak lagi, sampai lupa merespon atau mensyukuri kebahagiaan yang telah didapatkannya. Bahwa semakin besar hasrat yang kita miliki, maka semakin kita dijauhkan dari kebahagiaan. Dan kondisi hari memperlihatkan kepada kita bahwa sebagian besar waktu kita terbuang untuk kesenangan yang akan berlalu begitu cepat. Pada abad dimana kelaparan melanda seluruh pelosok dunia, hanya butuh sepotong roti untuk membahagiakan para petani yang tengah kelaparan. Hari ini kita hidup dalam dunia yang sangat modern, penuh kemudahan, tantangan, kompetitif, bahkan bergelimang harta, bagaimana kita dapat bisa membahagiaan diri kita?. Sudahkah kita bahagia hari ini?.

 

Bandung, 22 Mei 2020

#Tuan_Muda


Tidak ada komentar:

Posting Komentar

SESUATU YANG HILANG (Part 1)

  Beberapa hari terakhir ini, lampu jalan di sepanjang jalan Ibrahim Haji padam. Jalanan hanya bisa diterangi oleh lampu kendaraan bermotor,...