Hidup di abad 21 tentu mempunyai pola dan ciri yang khusus sesuai dengan perkembangan zaman serta turut berpengaruh pada kebutuhan hidup manusia. Tidak dapat dipungkiri bahwa kondisi hari ini menunjukan bahwa segala sesuatu menjadi cepat usang, waktu semakin meringkas, perubahan dapat terjadi setiap saat dan dapat juga dikatakan bahwa kehidupan manusia hari ini diperatarai oleh internet. Dan orang berlomba-lomba untuk dapat menjawabi kebutuhan yang zaman tersebut. Hal inilah menunjukan bahwa manusia selalu bergerak maju yang dapat dibuktikan melalui usaha meningkatkan kualitas diri bahkan sampai pada penemuan-penemuan baru di lab-lab atau di organisasi tertentu. Sampai disini satu hal yang perlu kita pahami adalah bahwa untuk mengukur komptensi setiap individu maka kita harus berkompetisi.
Selain untuk memiliki memperpanjang
rentang kehidupan, proyek kedua yang menjadi harapan manusia di abad ke 21
adalah kebahagiaan. Jauh sebelum itu, mari kita sedikit menyinggung soal
rentang kehidupan. Siapapun kalau ditanyakan, apakah kamu siap untuk mati hari
ini?. Saya menyakini semua orang tentu menjawab tidak. Ketika merebaknya Covid
19 semua orang di seluruh penjuru dunia, baik yang kaya, miskin, gembel, kaum
konglomerat pengngguran, pengusaha kaya, orang pintar, bodoh, politisi, dan
seluruh umat manusia begitu antusias terlebih dalam menjaga diri agar tidak
terjangkit apalagi mati karena Covid 19. Ini bukti nyata menunjukan bahwa
setiap individu masih memiliki harapan untuk tetap hidup. Atau bahkan orang tua
(lansia) pun berjuang mati-matian untuk melawan penyakit untuk pada akhirnya dapat
kembali berkumpul bersama keluarganya.
Mengenai kebahagiaan tentu menjadi
pencapaian tertinggi bagi setiap manusia. Secara sederhananya siapapun memiliki
semuanya yang diinginkan, tapi tidak ada kebahagiaan akan kondisi tersebut,
maka semuanya hanyalah sesuatu yang sia-sia. Pencariaan kebahagiaan merupakan
pencarian personal. Banyak orang menyakini bahwa kebahagiaan terbesar akan dapat diperoleh individu
setelah kematian, tetapi tidak dapat dipungkiri bahwa manusia juga pasti menginginkan
kebahagiaan duniawi. Karena yang jelas siapapun tidak menginginkan sepanjang
rentan kehidupannnya selalu dalam penderitaan. Hal tersebut senada dengan pernyataan
Bapak Pendiri Amerika Serikat pada tahun 1776, yang menegaskan bahwa selain
memiliki hak untuk hidup dan hak untuk kebebasan, setiap individu berhak untuk
bahagia. Ini tidak dapat dipungkiri. Tampaklah bahwa kebahagian sebetulnya
ditopang oleh dipilar kokoh, yakni psikologis: ketika realitas sesuai dengan
ekspektasi dan biologis:ketika kebutuhan dasar terpenuhi (masih berkaitan
dengan piramida kebutuhan, Abraham Maslow).
Selanjutnya mengenai cara untuk dapat
mencapai kebahagiaan setiap orang tentu berbeda-beda antara satu dengan yang
lain. Hal ini tentu sangat berkaitan dengan tujuan hidup manusia dan
standarisasi kehidupan seseorang. Semisal berorientasi pada harta dan kekayaan,
jabatan, kekuasaan, popularitas, pengetahuan, keterampilan khusus, karir,
hubungan sosial, kesehatan, pendidikan dan sebagainya. Bicara mengenai orietasi
maka tentu orang akan berjuang mati-matian untuk mencapainya dengan cara atau
proses yang baik bahkan dengan cara yang
salah atau tidak baik. Kejadian-kejadian tersebut sering kita temui bahkan
alami setiap hari. Dengan demikian jelas bahwa kebahagiaan dan penderitaan
adalah dua hal yang sama-sama memiliki keseimbangan yang saling memberikan
pengaruh.
Kehidupan hari ini telah menunjukan
bahwa perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi telah menerobos masuk dalam
segala ranah kehidupan manusia dan juga terhadap pencariaan kebahagia. Namun kerap
kali upaya untuk mendapatkan kebagiaan berujung pada sebuah kesenangan sesaat
dan menimbulkan ketidak puasaan. Berbagai produk ilmu pengetahuan dan teknologi
sebagai sarana dalam mencapai kebahagian banyak disalahkan gunakan dan berujung
pada sebuah penderitaan. Sekitar 2.300 tahun lalu, filsuf Epicurus mengingatkan
para muridnya bahwa pencarian kebahagiaan yang berlebihan akan berbuah
penderitaan bukan kebahagiaan, bukan kebahagiaan. Bahkan pada hari ini,
pencariaan kebahagiaan itu sudah beralih menjadi sebuah kejahatan.
Pada tahun 2009, separuh penghuni
penjara yang dikelolah pemerintah federal AS adalah pengguna obat bius. Tahun 2001,
sebuah laporan menunjukan bahwa 62 persen terhukum di Australias berada dalam
pengaruh obat bius ketika melakukan kejahatan yang membuatnya dipenjarahkan. Kejadian
lain yang sering kita temui adalah ketika mengkonsumsi alkohol atau obat
terlarang untuk menghilangkan stres atau keputusaan, bahkan menimbulkan masalah
baru seperti memukul orang, mencuri, atau mencaci maki orang. Atau bermain game
online dari pagi ketemu pagi dan kebiasaan lainnya. Perilaku-perilaku semacam
ini pada akhirnya menjadi sebuah kebiasaan dan ketergantungan yang sebetulnya
memberikan kesenangan sesaat. Kenyataan-kenyataan seperti ini menunjukan bahwa
ada sesuatu yang salah atau keliru perihal upaya untuk mencapai kebahagiaan.
Sedangkan disisi lainnya, ada 12 persen
tentara AS yang berada di Irak dan 17 persen
di Afganistan mengkonsumsi obat untuk menghadapi tekanan dan kecemasan
dari perang dan mendorong mereka untuk tampil dengan gagah dan berani. Berbagai
hasil riset santifik berusaha untuk menghasilkan obat penahan sakit yang
dibagikan ke pusat kesehatan atau untuk keperluan para tentara yang berperang, rasa
baru es krim, game baru yang lebih
adiktif di telepon pintar kita untuk menghalau rasa jenuh ketika menunggu bus
misalnya, obat penenang bagi orang yang
hiper aktif dan agresif.
Melihat hal tersebut, tampaklah disana
bahwa sebagian besar individu gagal membawa diri dalam mencapai kebahagiaan. Kenyataan
menunjukan bahwa orang berdarah-darah untuk mencapai kebahagiaan. Lalu berhasrat
untuk mendapatkan yang lebih besar dan lebih banyak lagi, sampai lupa merespon
atau mensyukuri kebahagiaan yang telah didapatkannya. Bahwa semakin besar
hasrat yang kita miliki, maka semakin kita dijauhkan dari kebahagiaan. Dan kondisi
hari memperlihatkan kepada kita bahwa sebagian besar waktu kita terbuang untuk
kesenangan yang akan berlalu begitu cepat. Pada abad dimana kelaparan melanda
seluruh pelosok dunia, hanya butuh sepotong roti untuk membahagiakan para
petani yang tengah kelaparan. Hari ini kita hidup dalam dunia yang sangat
modern, penuh kemudahan, tantangan, kompetitif, bahkan bergelimang harta,
bagaimana kita dapat bisa membahagiaan diri kita?. Sudahkah kita bahagia hari
ini?.
Bandung, 22 Mei 2020
Tidak ada komentar:
Posting Komentar