Senin, 29 Maret 2021

AKU DAN MEREKA


Terkadang hidup
Menggariskan misteri
Yang takkan pernah 
Bisa aku pahami
Aku mencoba sederhanakan itu
Agar semua orang memahami
(SO7 - Film Favorit)

Menyerderhanakan sesuatu apalagi membuat orang memahami itu memang tidak muda. Lagi, lagi dan lagi. Kita  harus mencoba dengan berbagai macam cara dan memastikan orang harus paham. Cara mengkonfirmasinya adalah bisa dengan bertanya langsung atau cukup dengan mengamati.

Saya punya sebuah pengalaman, ketika dikritik oleh salah seorang rekan baik saya. Betapa betapa terlihat begitu buta dengan diri saya sendiri. Seolah ada jiwa orang lain yang hidup dalam raga saya. Ini kan lucu sekaligus memalukan. Akhirnya saya mengerti, tidak semua orang bisa membahagiakan kita. Tapi, saya yakin satu kekurangan saya adalah berjuta kelebihan pada diri orang lain. Ini menarik.

Disini saya mulai belajar menerima orang lain. Bukan hanya untuk berteman atau mencari popularitas, bukan juga hanya untuk dipuja dan disenangi, bukan juga hanya untuk memintai bantuan saat kesulitan, bukan hanya untuk mendapat pengakuan, tetapi juga ketika ada kritik dan penilaian sebagai antitesa untuk  melihat "my self" dari cermin orang lain.  Kita memang butuh orang lain, karena sebagian besar kita selalu lupa dan tidak tahu sisi kurangnya kita. 

Salah satu kasus yang terjadi di Amerika adalah ketika seorang anak perempuan di kurung dalam sebuah kamar (jeruji besi) oleh ayahnya sendiri. Tidak ada proses sosialisasi antara anak perempuan tersebut dengan keluarga dekatnya. Suatu saat, ibunya berhasil membawa kabur anak itu dan pergi ke sebuah panti sosial. Di panti inilah, anak tersebut mulai ditangani oleh Ahli Psikologi (Psikolog). Saat ditanyai kabar, anak itu tak bisa menjawab bahkan tidak mau melihat orang sekitar. 

Melihat dari kasus ini, maka hipotesis yang bisa kita ambil adalah betapa pentingnya kasih sayang orang tua terhadap pembentukan karakter seseorang, yang kedua adalah betapa komunikasi sangat berpengaruh pada perkembangan seseorang dan yang ketiga adalah penting sosialisasi. Bagaimana bisa anak itu bisa membangun sebuah kepercayaan diri, kalau interaksi dengan lingkungan terdekat saja tidak terjadi. Ringkas kata, bahwa memang lingkungan punya pengaruh besar. Jika mengacu pada contoh kasus diatas, bahkan masih pada level sosialisasi yang paling mendasar yaitu interaksi, sudah sangat memberikan pengaruh yang dasyat, apalagi meningkat pada level kritik dan penilaian. Tidak semua kritik itu buruk. Tidak semuanya baik. Kritik memiliki tempat diantara baik dan buruk. 

Lebih luas lagi, dalam theory JOHARI WINDOWS mempertegas bahwa ada salah satu sisi kehidupan kita yang kita ketahui. Sisi itulah yang dinamakan buta diri. Buta diri bisa berwujud perilaku, sikap, pola pikir dan sebagainya yang kita lakukan tapi diluar kesadaran kita. Tentu, yang bisa menyelamatkan kita dari "KEBUTAAN DIRI" adalah orang lain. Lebih lanjut, disini kita benar-benar menyadari betapa pentingnya orang lain bagi kita. Kembali lagi, jika keyakinan satu kekurangan kita adalah berjuta kelebihan pada orang lain, bagaimana kalau dimulai dengan komitmen untuk membuka diri. Nah ini akan menjadi sangat menarik. 

Membuka diri akan membuat kita semakin mengenal dan memahami diri. Mengetahui kemampuan terlebih sisi kurangnya kita. Inilah yang mendorong kita untuk belajar. Termasuk belajar dari lingkungan sekitar. Sebagai contoh, percobaan Ivan Pavlov membuktikan bahwa binatang sekelas anjing bisa dibentuk dengan stimulus secara terus menerus. Pada kesimpulan inilah, secara pribadi saya menyakini manusia juga akan bisa dibentuk dan salah satunya adalah melalui stimulus sosial. 

Membuka diri artinya komitmen untuk belajar. Kadang kala kita sulit untuk mengakui diri, terlebih kekurangan. Bisa jadi karena gengsi, merasa diri benar atau mungkin tidak ada hal perlu diperbaiki lagi. Saya jadi teringat petuah dari Albert Einstein "jika anda menginginkan sepeda itu berjalan seimbang, maka teruslah mendayung". Benar belajar memang seumur hidup. Perubahan terjadi setiap saat, bagaimana mungkin jika kita masih mempertahankan pola lama yang sudah tidak efisien. Kan lucu.

Membuka diri artinya mau menerima masukan dari orang lain. Sebaik apapun yang dilakukan oleh orang yang tidak kita sukai, dia akan terlihat salah. Inilah sebuah kenyataan yang tak bisa terelakan. Benar bahwa hidup yang kita jalani pasti berdasarkan standar kita. Tapi, kehidupan bukan cuma urusan pribadi saja, tapi melibatkan orang lain. Terkadang merasa diri paling benar itulah yang membuat kita sulit mendengar terlebih mendengar masukan orang lain. Lalu standar bahwa dia salah dan saya benarnya apa? Ada satu cara sederhana yakni menghilangkan keegoisan dan mau mendengar dari orang lain. Cukup dua cara ini, masalah beres. Tapi cara ini sulit bagi pribadi yang sudah membutakan diri diatas kebutaan terhadap dirinya dengan keangkuhan. 

Kehidupan memang sulit ditebak. Demikianpun manusia. Akan ada banyak misteri yang tersembunyi dibalik sisi kehidupan. Kadang baik, kadang buruk, kadang santun, kadang tak terkendali, kadang cerdas kadang juga sebaliknya. Siapapun tidak dapat memaksakan kehendak pribadi untuk orang banyak, apalagi menuntuk orang harus menjadi seperti yang kita harapkan. Segala bentuk perbedaan akan disatukan oleh bingkai kesadaran. Kesadaran yang tercurah dalam perilaku mengenal diri, membawa diri, pola komunikasi dan terlebih pada kesepakatan akan nilai-nilai bersama. Nilai-nilai tersebutlah membuat kita semakin kokoh sebagai pribadi diatara orang lain. 

"Karena kita hanyalah ranting-ranting kecil dari satu pohon yang bernama kemanusiaan"

Hahaero..
#BEHIRO

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

SESUATU YANG HILANG (Part 1)

  Beberapa hari terakhir ini, lampu jalan di sepanjang jalan Ibrahim Haji padam. Jalanan hanya bisa diterangi oleh lampu kendaraan bermotor,...