Jumat, 26 Maret 2021

MENJADI GURU PEMBELAJAR

Saya memulai tulisan ini dengan sebuah pernyataan sekaligus kesaksian tentang secuil harapan dan pengalaman saya sebagai guru di SMP Ignatius Slamet Riyadi, Kebon Kangkung. Menjadi guru adalah bukan semata-mata sebagai tujuan pribadi hidup saya. Menjadi guru adalah bentuk partisiasi saya dalam berkontribusi untuk kepentingan banyak orang. Dan tentu menjadi guru adalah peran yang menyatu dan menjadi bagian dari hidup, kapan dan dimanapun. Setiap orang tentu memiliki orientasi dan tujuan hidup yang berbeda-beda. Memilih sebagai seorang guru adalah bukan sebuah kecelakaan dalam memilih tujuan hidup, tetapi melalui sebuah refleksi dan niat yang mulia untuk berbagi dalam keterbatasan kepada mereka yang sedang membutuhkan, secara khusus melalui transformasi pengalaman dan nilai-nilai kehidupan yang akan dipergunakan selama kehidupan mereka. Menjadi pendidik atau guru adalah menjadi bagian dari kehidupan.

Didalam syair lagu kebangsaan kita Indonesia Raya, secara tegas mengatakan “Bangunlah jiwanya, Bangunlah badannya”. Ini menunjukan bahwa betapa pentingnya pembangunan sumber daya manusia seperti mental, karakter, kepribadian, pengetahuan serta pola pikir seseorang dalam merespon situasi sekitar dan membaca berbagai potensi peluang yang akan terjadi pada waktu mendatang. Visi besar inilah yang kemudian melibatkan guru/pendidik sebagai dalang untuk merancang serta aktor dalam pelaksaan pendidikan itu sendiri. Pada tataran inilah, peranan guru menjadi bagian yang penting dalam merealisasikan cita-cita luhur bangsa Indonesia.

Menjadi guru bukan hak bagi segelintir orang atau kelompok tertentu, tetapi hak bagi setiap warga negara. Siapapun bisa menjadi guru kapan dan dimanapun tergantung bagaimana orang itu membawa dan menempatkan diri. Menjadi sebuah pertanyaan reflektif, apakah sulit menjadi seorang guru?. Menjadi guru yang sesungguhnya bukan hanya dilihat seberapa banyak materi yang diajarkan, bukan seberapa banyak waktu yang dihabiskan untuk membahas sebuah mata pelajaran. Guru adalah pengabdian. Pengabdian yang tak mengenal waktu. Jika pendidikan sebagai sebuah proses memanusiakan manusia, maka guru adalah orang yang berperan dan membentuk setiap pribadi menjadu manusia yang seutuhnya sesuai dengan karakternya masing-masing. Bersama guru, siswa akan belajar tentang kehidupan. Kehidupan adalah soal manusia. Oleh sebab itu sudah sepantasnya saya mempelajari kehidupan dari siapapun termasuk dari peserta didik.

Pada tulisan kali ini, saya membingkainya dalam sebuah tema besar yang berbunyi “Menjadi Guru Pembelajar”.  Alasan saya mengambil tema ini adalah bahwa guru itu bukan maha tahu. Guru adalah manusia yang memiliki kekurangan dan keterbatasan dibalik sejumlah kelebihan yang dimiliki. Kata “Menjadi Pembelajar” sebetul mengandung sebuah semangat untuk terus mengenali diri dan mengembangkan semua potensi yang bersemayam dalam diri untuk menjadi senjata ampuh dalam mengaktualisasikan diri yang secara khusus sebagai seorang pendidik.  Hal ini serupa dengan sebuah kalimat bijak dari Albert Eisntein, “Sebuah sepeda akan terus berjalan seimbang, apabila anda terus mengayuhnya”.

Tulisan ini merupakan hasil refleksi dan permenungan saya secara pribadi. Selamat membaca dan semoga memberikan manfaat bagi siapapun serta mendapatkan tempat dihati kalian semua. “Hidup adalah sebuah misi besar dan setiap saat adalah perjuangan, maka waktu sepenuhnya akan menjadi milik kita (EH:20).

 

1.    Semangat yang menggerakan

Kebanyakan orang saya temui mengatakan bahwa manusia hidup semata-mata menjalani takdir yang mana telah Tuhan tetapkan untuk kita. Sebagai kaum awam, saya menerjemahkan ini sebagai sebuah aktivitas yang mana tanpa melibatkan saya sebagai pihak yang turut terlibat dalam merencanakan ataupun memberikan sumbangsi pemikiran. Artinya saya menjalani segala sesuatu yang merupakan bukan kehendak saya dan bisa jadi itu bukan keinginan saya. Jika demikian maka, peluang yang terjadi adalah lebih banyak mempertontonkan sesuatu yang buruk dan terkesan membabi buta. Tentu hal ini tidak dinginkan oleh siapapun. Bahwa saya meyakini bahwa setiap kita diciptakan oleh Tuhan dan diberikan kuasa yang istimewa. Keistimewaan tersebut terlihat pada akal atau pikiran yang hanya bisa dimiliki oleh manusia semata. Sehingga jelas bahwa dari secuil pengertian dari penciptaan inilah Tuhan telah memberikan kita kepercayaan dan kekuatan mutlak untuk dapat merencanakan dan menjalani hidup kita masing-masing sembari Tuhan turut terlibat dalam segala peranan kita sebagai manusia yang berakal. Jelas bahwa campur tangan Tuhan ada dalam setiap persoalan yang kita hadapi dan dalam perkara apapun.

Bicara mengenai kehidupan, dengan berbekal akal ataupun pikiran tidak akan cukup. Alasan saya sederhana bahwa apapun yang kita lakukan semuanya bermula dari niat. Niat untuk mencapai tujuan hidup kita masing-masing. Niat secara sederhana dapat diartikan sebagai semangat yang selalu menggerakan kita untuk melakukan sesuatu yang baik dan tentu sebagai motor yang menggeraki kita untuk terus berusaha setidaknya agar dapat bertahan hidup.

 

Pemahaman tetang alasan manusia hidup

Sebagai bahan refleksi, saya menyodorkan sebuah pertanyaan “jika kematian adalah sebuah kebahagiaan, mengapa anda memilih hidup yang penuh dengan persoalan dan perjuangan yang melelahkan hingga berputus asa?”.  Pertanyaan ini secara tegas mau mengatakan bahwa apa yang menggeraki kita untuk hidup serta apa yang membuat kita untuk terus berupaya dalam mempertahankan hidup kita.  Saya ingin mengajak kita untuk merefleksikan diri kita masing masing dan kembali menempatkan tujuan hidup kita tepat didepan mata kita sebagai jawaban atas alasan kita hidup. Beberapa pengalaman sering kita temui bahwa ada segelintir orang dimasa tuanya`mengalami penyesalan yang sangat besar karena beberapa tujuan hidupnya tidak terwujud bahkan ketika memasuki usia senjanya.

Menyadur dari teorinya Erik Erikson tentang tahapan perkembangan manusia, bahwa pada masa tua setiap orang akan berhadapan dengan kondisi yakni integritas dan keputus asaan. Integritas sebagai orang tua atau dewasa itu muncul apabila telah menuai hasil yang baik atas proses aktulisasi diri yang kemudian turut diberikan kepada orang lain sebagai pengaruh baik dari pencapaian tersebut. Sedangkan keputus asaan akan muncul sebagai penyesalan atas ketidakcapaian yang menjadi bagian dari tujuan hidup serta makna hidup yang tak kesampaian. Disini jelas bahwa manusia hidup, karena ada alasan besar yang terus merangsang semangat individu untuk memahami makna perjuangan hidup.

Mengenal diri

Lebih lanjut lagi mengenai tujuan hidup, hal yang pertama dan utama adalah mengenal diri. Sebelumnya telah diterangkan bahwa kita adalah ciptaan Tuhan yang memiliki akal yang dibekali bagi kita untuk hidup. Untuk itu tiga hal pertama yang harus kita lakukan adalah mengenali diri, memahami diri dan menguasai diri. Sejak dalam kandungan setiap kita diberikan bakat dan kemampuan yang berbeda satu sama lain. Oleh sebab itu, mengenali “siapa aku” merupakan bagian pertama yang harus dijawab oleh kita. Sepantasnya kita mengetahui apa yang menjadi kelebihan dan kekurang yang pada diri kita secara komprehensif. Sehingga jelas bahwa perpaduan antara akal atau pikiran dan kelebihan kita dapat dijadikan sebagai sebuah tameng sekali senjata dalam aktualisasi diri tersebut.

Demikian pula sebagai seorang pendidik tentu saja juga harus mengenal segala potensi diri. Pendidik bukan hanya dilihat dari proses transformasi pengetahuan, pengalaman atau nilai tetapi juga soal pembawaan diri. Walaupun setiap kita selalu dibaluti oleh kekurangan, tetapi setidaknya ada upaya untuk menyeimbanginya dengan mengembangkan kelebihan sebagai potensi utama. Saya yakin siapapun pendidik ataupu guru tentu memiliki kelebihan dan juga kekurangan. Dan, upaya untuk memperbaharui ini pun terus dilakukan dengan cara dan metode masing-masing sesuai dengan karakternya. Menjadi prinsip saya adalah jangan sungkang-sungkang untuk membuka diri dalam hal kekurangan kepada siapapun. Secara ringkasnya ceritakan kekurangan kita kepada orang lain, sebagai bentuk pengakuan diri untuk mendapatkan masukan ataupun bantuan dari mereka yang bisa membantu kita. Bahwa Tuhan menciptakan kita dengan karakter yang kondisi yang berbeda-beda. Kekurangan kita mungkin saja menjadi kelebihan orang lain. Maka proses sosialisasi diri merupakan salah satu upaya untuk memperbaharui diri. Karena melalui orang lain, disitulah Tangan hadir menjamahi kita (EH:20).

Ekspresi diri

Hemat saya mengatakan bahwa menjadi pendidik adalah salah satu contoh konkrit  dari ekpresi diri. Ekspresi yang muncul atas kesadaran diri, atas pemahaman diri serta atas niat diri untuk mengabdi. Pengabdian adalah penyerahan diri secara total dan utuh kepada proses yang tengah kita jalani. Maka disanalah waktu, tenaga, pikiran, pengetahuan, gagasan, kreativitas serta pengamalan akan nilai-nilai secara utuh tercurahkan bagi siapapun yang membutuhan tanpa mengharapkan sebuah imbalan yang besar. Disini saya secara pribadi mengerti bahwa guru adalah pahlawan tanpa tanda jasa. Itulah sprit yang saya pahami tetang dan dari guru.

 

2.    Guru dijalan panggilan

Pada ulasan sebelumnya, ada dua hal yang sudah disampaikan secara garis besar mengenai semangat pendidik yaitu yang pertama menjadi guru bukanlah sebuah kecelakaan dalam sebuah pilihan, tetapi merupakan hasil dari sebuah refleksi dan kesadaran atas proses aktualisasi diri. Yang kedua menjadi pendidik adalah sebuah semangat pengabdian secara total dengan menggerakan semua kemampuan dan potensi yang ada sebagai upaya konkrit dalam menjalankan amanah dari kemerdekaan dan secara khusus untuk sebagai ruang ekspresi diri yang pada akhirnya yang didapatkan adalah sebuah ”perasaan” sebagai gambaran kepuasan atas niat mendidik tersebut. 

Berbicara mengenai wujud dari spritualitas guru itu sendiri merupakan sesuatu yang bersifat komprehensif yang melibatkan kepribadian, proses, serta keaktifan dalam mengembangkan diri secara berkelanjutan, sehingga mampu menjawabi tuntutan kebutuhan jaman yang kian modern ini. Dengan demikian, hal yang mau saya katakan adalah siapapun yang menjadi pendidik atau guru adalah sekumpulan orang yang sangat beruntung dan bahagia. Mengapa demikian?. Karena guru yang mempunyai spiritualitas yang tinggi adalah guru yang tidak hanya menempatkan peserta didik sebagai objek dari pendidikan itu sendiri, tetapi juga menempatkan diri sebagai objek. Artinya, secara sadar pendidik atau guru ikut terlibat secara aktif dalam mengembangkan dirinya  baik dalam dalam hal kepribadian, pedagogik, profesionalisme dan sosialnya yang hal ini dapat dilakukan melalui proses evaluasi diri  dari kegiatan belajar mengajar dikelas dan hal lain yang memberikan peluang bagi guru untuk terus mengasah diri. Sering kita mendengar pepatah “sekolah dibatas waktu, belajar seumur hidup”. Artinya proses belajar setiap individu akan terus berlangsung dalam kehidupan seseorang, dan tentu guru atau pendidik ikut didalam proses itu sendiri.

Dalam bukunya berjudul The Purpose Driven Life, Rick Warren mengatakan bahwa untuk menemukan tujuan hidup dapat dilakukan melalui hubungan dengan Tuhan Yesus yang adalah seorang guru dan teladan kita. Sebagai kaum awan, saya menerjemahkan  pandangan ini sebagai sebuah ajakan untuk mendekatkan diri dan berkaca pada rangkaian kehidupan Yesus. Kita melihat diri kita pada pengalaman dan kisah hidup Yesus untuk selanjutnya dijadikan sebuah semangat dan petunjuk untuk menjalani kehidupan kita masing. Lebih lanjut lagi Rick Warren mengatakan bahwa Allah memikirkan dan merancang setiap kita jauh sebelum kita memikirkan-Nya, bahkan menyiapkan semuanya sebelum manusia ada dan tanpa meminta masukan apapun dari kita. Artinya kita ada bukan karena sebuah kebetulan, tetapi karena atas rencana-Nya dengan cinta yang tak terhingga yang diberikan kepada kita secara-cuma.

Dari berbagai ilustrasi ini, kita diajak untuk melibatkan Tuhan dalam berbagai hal yang kita lakukan dengan berpegang teguh pada nilai-nilai dan prinsip hidup yang mana telah Tuhan tunjukan kepada kita. Lebih daripada itu, kita diajak untuk memaknai hidup sebagai sebuah panggilan untuk berjalan di jalan Tuhan dan melaksanakan semua yang diperintahkan kepada kita dalam kehidupan setiap hari baik secara vertikal maupun horizontal. Pada saat interview di kantor yayasan salib suci, ketika memasuki gedung tersebut saya membaca sebuah tulisan yang menarik yakni “kamu telah memperolehnya secara cuma-Cuma, maka kamu juga harus memberikannya secara cuma-cuma”. Dan saya mencoba memadukannya denga tugas saya sebagai pendidik atau guru, maka saya secara lahir dan batin harus memberikan segala hal yang bermanfaat kepada peserta didik secara utuh dan penuh totalitas. Inilah yang dikatakan sebagai  mendidik sebagai panggilan Tuhan.

Dalam pembukaan UUD 1945, secara tegas dikatakan dalam rangka mengisi kemerdekaan setiap warga negara indonesia turut berpartisipasi dalam mencerdaskan kehidupan bangsa. Pesan ini saya menerjemahkan sebagai sebuah refleksi panjang atas nasib bangsa indonesia yang dijajah selama tiga setengah abad baik secara sumber daya alam maupun sumber daya manusianya. Bahwa betapa  tragisnya perlakuan penjajah dalam mengeksplorasi dan memanfaatkan segala sumber daya yang ada tanpa ada rasa kemanusiaan. Disisi lain, selama penjajahan itu berlangsung, tidak ada ruang bagi bangsa indonesia untuk mengembangkan diri. Sekolah-sekolah dibangun diperuntukan bagi anak cucu penjajah dan tidak bagi kaum pribumi.

Dan kondisi demikian tidak bisa dilawan, karena bangsa kita tidak memiliki kekuatan walaupun memiliki masyarakat yang banyak belum lagi SDM kita lemah yang dimaanfaatkan oleh bangsa penjajah untuk mengadu domba masyarakat pribumi dan tentunya sebagai ruang untuk melumpuhkan kekutan dan persatuan bangsa. Satu kesimpulan yang saya pahami dari rentetan peristiwa penjajahan tersebut adalah kurang sumber daya manusia.

Kumpulan pengalamam buruk masa lalu inilah yang menempatkan pendidikan sebagai pilar utama dalam kehidupan berbangsa. Paling tidak ada upaya untuk membenahi diri yang kemudian menjadi bangsa ini kuat dan dapat menyesuaikan diri dengan perkembangan jaman serta mampu membaca peluang yang akan terjadi pada masa mendatang. Oleh karena ini itu, berangkat dari tuntutan kebutuhan inilah, secara khusus setiap pendidik dituntut untuk mampu memahami persoalan ini secara utuh dalam proses aktualisasi diri dengan menjadi seorang pendidik atau guru. Hal-hal inilah merupakan wujud  kesadaran mendalam akan kebutuhan serta perkembangan bangsa dan negara.

Sebagai manusia yang beragama khatolik kita tentu memiliki sebuah pemahaman bersama bahwa Yesus adalah pelayan, teladan sekaligus guru. Memilih menjadi guru merupakan kesiapan untuk menjadi pelayan bagi sesama secara khusus dalam pelaksanaan pendidikan. Menjadi guru adalah menjadi pelayan dan juga teladan. Terkait dengan teladan tersebut, saya teringat sosok Malala pada sebuah buku yang berjudul Iam Malala. Seorang gadis muslim yang aktif mengkampanyekan kebebasan bagi perempuan untuk mengecapi pendidikan hingga menentang ketidakadilan atas rezim yang berkuasa melaui tulisan-tulisannya. Kritik yang disampaikannya berhasil menganggu penguasa yang tengah menikmati kenyamanan belum lagi ditambah tekanan dan agresi militer dari negara tetangganya. Satu hal yang saya petik dari kisah ini adalah setiap kita dilahirkan sebagai pelayan dan semangat pelayanan itu akan terus tumbuh dalam diri kita apabila kita masih memiliki rasa kemanusiaan (sense of humanis). Menjadi pelayan dapat dilakukan dengan berbagai cara dan metode kita sendiri atas dasar berbagai kebutuhan yang harus dipenuhi. Menjadi pendidik atau guru adalah bentuk pelayan nyata dalam mentransformasikan pengalaman, nilai, dan pengetahuan kepada mereka yang tengah membutuhkan.

Oleh karena itu dalam semangat pelayan harus didasari oleh rasa kemanusiaan (sense of humanis) maka disanalah sebuah pola relasi yang baik akan terbangun. Hal ini selanjutnya diwujudkan  pada kematangan emosional antara guru dan siswa. Kematangan emosional inilah yang kemudian membuat guru dan siswa semakin lebih dekat, lalu bersama-sama memanfaatkan peluang ini untuk meraih tujuan yang menjadi target utama dalam sebuah proses pendidikan dan tetap mengedepankan metode proses. Karena pendidikan bukan hanya berorientasi pada hasil tetapi juga proses. Lalu pada akhirnya siswa siswa akan sadar atas goal orientation bagi dirinya yang kemudian memacu siswa untuk lebih bersemangat, karena design pelayanan yang menyenangkan, keakraban terbangun antara siswa dan guru,  lalu pada akhirnya terbentuklah satu team work yang kuat untuk mewujudkan tujuan pendidikan yang sesungguhnya. Oleh karena itu spirit  yang dibangun adalah yang jauh mendekat, mendekat merapat, merapat melekat, melekat menyatu, menyatu dalam satu satu birama untuk belajar bersama-sama. Guru atau mendidik akan menjadi fasilitator, rekan belajar dan teman sharing dengan tetap mengedepankan etika.

 

3.    Bagaimana Kita Bertumbuh

Hal pertama yang perlu saya garis bawahi adalah penempatan kata “bertumbuh” yang dimaksud bukan merujuk pada pertumbuhan fisik, tetapi upaya mengembangankan diri secara psikologis sebagai seorang pendidik atau guru. guru yang mempunyai spiritualitas yang baik bukan hanya dilihat dari pelayanan dalam proses KBM  dan pola relasi,  tetapi seharusnya dilihat secara keseluruan. Salah satu hal yang menandakan guru atau pendidik yang mempunyai spiritual yang baik adalah keaktifan dalam mengembangkan diri secara terus-menerus. Tentu hal tersebut sebetulnya dilakukan untuk menjaga eksistensi diri dan mampu menyesuaikan diri dengan perubahan situasi, lalu pada akhirnya dapat berdiri diatas perubahan yang kian terjadi setiap saat. Maka pada tataran tersebut, guru atau pendidik telah mewujudkan azas kekinian yang merupakan kemampuan untuk menyesuaian diri dengan kondisi yang seharusnya saat ini terjadi.

Upaya un tuk mengembangkan diri tersebut tentunya dilaksanakan dengan berbagai metode dan pendekatan yang tentunya pasti akan berbeda setiap orang, pun kalau sama jika dilakukan secara klasikal yang difasilitasi oleh instansi atau lembaga tertentu. Maka pada kesempatan ini, saya mencoba untuk menawarkan beberapa cara sederhana yang dapat dilakukan guru atau pendidik untuk mengembangkan spiritualitasnya dalam rangka menjawabi tuntutan kebutuhan jaman yang semakin kompleks dan kompetitif ini. Hal-hal tersebut antara lain:

Mendekatkan diri kepada yang mahakuasa

Bertrand Russell, yang adalah seorang ateis pernah mengatakan bahwa: sebelum anda memikirkan allah, pertanyaan tentang tujuan tidaklah berarti. Bayangkan saja, seorang ateis yang pada umumnya tidak percaya pada Tuhan secara terbukan mengatakan demikian. Lantas bagaimana kita sebagai mahkluk yang mempunyai keyakinan akan Tuhan?. Pernyataan Bertrand Russell tersebut sebetulnya  mengajak kita semua untuk menempatkan Tuhan sebagai role of model. Mengutip salah satu ayat Alkitab “bahwa didalam tangan-Nya, terletak segala nyawa yang hidup dan nafas setiap manusia”. Saya menerjemahkannya bahwa Tuhan mempunyai pengaruh yang sangat besar dalam setiap ranah kehidupan setiap individu. Dengan melibatkan Tuhan dalam segala perkara, maka kita sedang memasuki situasi yang mana kita menjauhkan dari hal buruk dan bertindak sesuai dengan perintah-Nya. Hal ini akan berimplikasi pada pola pikir kita yang jernih, berpikir secara positif, lebih selektif dalam mengambil keputusan dan menjadi sahabat yang siap menerima orang lain dengan kekurangan dan kelebihannya, selayaknya kita mencintai diri kita sendiri. Dan hal tersebut, saya yakin semua guru miliki. Sebuah pernyataan sekaligus pengakuan dari saya bahwa semenjak bekerja di SMP Ignatius Slamet Riyadi, saya bukan hanya mendapatkan rekan kerja baru, bukan  hanya situasi baru tetapi dari pengalaman-pengalaman yang saya alami sesungguhya saya menemukan sebuah keluarga. Yah keluarga yang telah mendewasakan dan mengarahkan saya untuk berkembang dan terus belajar.

Perbanyak referensi

Saya sangat percaya dan sangat tidak meragukan kompetensi setiap guru, terlebih dalam penguasaan bidang ilmu yang digelutinya. Bahkan untuk memperkuat dan menjiwahi pengetahuan tersebut saya yakin para guru atau pendidik selalu mendalami bidang atau mata pelajaran yang diasuh, bahkan saat-saat sebelum memberikan materi kepada peserta didik. lantas  ilmu yang pendidik atau guru miliki bukan hanya diperuntukan bagi siswa tetapi juga bagi  guru atau pendidik untuk menjalai kehidupannya. Tapi kalau menurut saya, sangat disayangkan apabila seorang guru sangat terpaku pada satu bidang saja. guru bukan hanya menjadi guru di sekolah, tapi bisa menjadi guru di luar sekolah. Bukan hanya bidang tertentu yang akan ditransformasikan ke peserta didik tetapi bagaimana mengarahkan siswa untuk memahami kehidupan secara komprehensif. Kondisi tersebutsetiap guru pasti membutuhkan sebuah referensi atau konten tertentu untuk menyadarkan peserta didik. Disamping itu kehidupan sosial menuntut setiap peserta didik untuk dapat berdiri diatas golongan  masyarakat baik budaya, agama, suku dan hal lain yang melekat dengan kehidupan.

Oleh karena itu,  sebagai upaya dalam mempertahankan dan mengembangkan diri salah satu hal yang dilakukan oleh guru adalah menambah wawasan melalui membaca, menulis, diskusi, bedah film atau menonton video ispiratif yang kemudian bisa dijadikan gambaran dan acuan dalam menjani kehidupan terlebih menjalani tugas sebagai pendidik atau guru. Sebuah pengalaman berharga semenjak bekerja di Yayasan Salib Suci tepatnya di SMP Ignatius Slamet Riyadi, saya merasa sangat terdorong untuk membaca. Menyadari bahwa semua yang saya pelajari tersebut sebetul sangat  bermanfaat bagi saya secara pribadi dan hal positif yang saya dapatkan tersebut bisa bagikan ke orang lain. Banyak orang mengatakan bahwa lingkungan sangat berpengaruh dalam perkembangan seseorang. Dan sampai pada detik ini SMP Ignatius Slamet Riyadi tempat saya bekerja selalu memberikan kesempatan dan dorongan untuk terus memperbaiki dan mengembangkan diri.

Bahwa pengetahuan akan selamanya menjadi milik setiap pribadi dan tidak bisa dirampas oleh siapapun. Maka menjadi suatu keberuntungan bagi pendidik atau guru yang secara terus menerus memperkaya pengetahuannya. Dan sejauh ini dua hal ini yang bisa saya lakukan secara pribadi, untuk mengembangkan kemampuan sebagai seorang pendidik atau guru.

 

4.    Hambatan

Pada awal tulisan saya ini, telah sampaikan bahwa menjadi guru adalah penyerahan diri secara total atas pilihan hidup dalam panggilan dan secara sadar mempertaruhkan waktu, tenaga dan pikiran. Hari ini, guru dijejali dengan berbagai tugas administrasi dan itu menghabiskan cukup banyak waktu,belum lagi pembagian waktu untuk mengurusi persoalan pribadi. Maka ketika berbicara soal meningkatkan spiritualitas individu, maka kita bicara soal waktu. Jangankan hanya dengan berdoa, membaca, menulis, diskusi dan lainnya. Pun kalau harus mengelilingi dunia untuk meningkatkan kemampuan dan spiritualitasnya, saya yakin setiap guru pasti tidak akan menolak. Tapi kembali lagi ke persoalan waktu. Apalagi di era yang semakin kompetitif ini, waktu akan menjadi komoditas utama dalam mengembangkan diri. Mau memilih untuk mengembangkan diri atau menyelesaikan pekerjaan untuk memenuhi kebutuhan makan siang yang tidak bisa ditunda.

 

5.    Kesimpulan

Waktu mengikuti sebuah rekoleksi guru-guru komplek Kebon Kangkung di Eco Camp di daerah Dago, saya sangat tersentuh dengan sebuah kata yang terus membekas dalam pikiran sampai saat ini. Bahwa ketika apa yang dikerjakan oleh seseorang dan pada akhirnya memberikan hasil yang baik, maka yang akan didapatkan adalah sebuah “perasaan”.  Perasaan merupakan ungkapan hati atas apa yang diperoleh, apa yang ditemui, apa yang dialami dan tidak akan bisa dijelaskan. Siapapun hanya bisa memahami dan merasakan. Perasaan tidak bisa digantikan oleh apapun.

Oleh sebab itu, satu hal yang baik yang menggugah saya dari  buku ini adalah bahwa bagaimana seorang guru atau pendidik menjalani tugasnya atas dasar “rasa”. Inilah yang menjadi awal mula spiritulitas seorang guru atau pendidik tumbuh. atas dasar “rasa” yang kemudian terus menggerakan setiap kita untuk terus menebarkan benih kebaikan kepada kepada siapapun. Maka sebagai penutup saya mengutip sebuah pepatah India yang berbunyi “tempat dimanapun cinta bersemi, disitu pula semua kemungkinan akan terwujud”.

Teriring salam dan doa semoga tuhan selalu menyertai segala usaha dan perjuangan kita, secara khusus kepada keluarga besar SMP Ignatius Slamet Riyadi, Kebon Kangkung.

 Salam

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

SESUATU YANG HILANG (Part 1)

  Beberapa hari terakhir ini, lampu jalan di sepanjang jalan Ibrahim Haji padam. Jalanan hanya bisa diterangi oleh lampu kendaraan bermotor,...