Didalam syair lagu kebangsaan kita Indonesia Raya,
secara tegas mengatakan “Bangunlah jiwanya, Bangunlah badannya”. Ini menunjukan
bahwa betapa pentingnya pembangunan sumber daya manusia seperti mental,
karakter, kepribadian, pengetahuan serta pola pikir seseorang dalam merespon
situasi sekitar dan membaca berbagai potensi peluang yang akan terjadi pada
waktu mendatang. Visi besar inilah yang kemudian melibatkan guru/pendidik
sebagai dalang untuk merancang serta aktor dalam pelaksaan pendidikan itu
sendiri. Pada tataran inilah, peranan guru menjadi bagian yang penting dalam
merealisasikan cita-cita luhur bangsa Indonesia.
Menjadi guru bukan hak bagi segelintir orang atau
kelompok tertentu, tetapi hak bagi setiap warga negara. Siapapun bisa menjadi
guru kapan dan dimanapun tergantung bagaimana orang itu membawa dan menempatkan
diri. Menjadi sebuah pertanyaan reflektif, apakah sulit menjadi seorang guru?. Menjadi
guru yang sesungguhnya bukan hanya dilihat seberapa banyak materi yang
diajarkan, bukan seberapa banyak waktu yang dihabiskan untuk membahas sebuah
mata pelajaran. Guru adalah pengabdian. Pengabdian yang tak mengenal waktu.
Jika pendidikan sebagai sebuah proses memanusiakan manusia, maka guru adalah
orang yang berperan dan membentuk setiap pribadi menjadu manusia yang seutuhnya
sesuai dengan karakternya masing-masing. Bersama guru, siswa akan belajar tentang
kehidupan. Kehidupan adalah soal manusia. Oleh sebab itu sudah sepantasnya saya
mempelajari kehidupan dari siapapun termasuk dari peserta didik.
Pada tulisan kali ini, saya membingkainya dalam
sebuah tema besar yang berbunyi “Menjadi Guru Pembelajar”. Alasan saya mengambil tema ini adalah bahwa
guru itu bukan maha tahu. Guru adalah manusia yang memiliki kekurangan dan
keterbatasan dibalik sejumlah kelebihan yang dimiliki. Kata “Menjadi
Pembelajar” sebetul mengandung sebuah semangat untuk terus mengenali diri dan
mengembangkan semua potensi yang bersemayam dalam diri untuk menjadi senjata
ampuh dalam mengaktualisasikan diri yang secara khusus sebagai seorang pendidik. Hal ini serupa dengan sebuah kalimat bijak
dari Albert Eisntein, “Sebuah sepeda akan terus berjalan seimbang, apabila anda
terus mengayuhnya”.
Tulisan ini merupakan hasil refleksi dan permenungan
saya secara pribadi. Selamat membaca dan semoga memberikan manfaat bagi
siapapun serta mendapatkan tempat dihati kalian semua. “Hidup adalah sebuah
misi besar dan setiap saat adalah perjuangan, maka waktu sepenuhnya akan
menjadi milik kita (EH:20).
1. Semangat
yang menggerakan
Kebanyakan orang saya temui mengatakan bahwa manusia
hidup semata-mata menjalani takdir yang mana telah Tuhan tetapkan untuk kita.
Sebagai kaum awam, saya menerjemahkan ini sebagai sebuah aktivitas yang mana tanpa
melibatkan saya sebagai pihak yang turut terlibat dalam merencanakan ataupun memberikan
sumbangsi pemikiran. Artinya saya menjalani segala sesuatu yang merupakan bukan
kehendak saya dan bisa jadi itu bukan keinginan saya. Jika demikian maka,
peluang yang terjadi adalah lebih banyak mempertontonkan sesuatu yang buruk dan
terkesan membabi buta. Tentu hal ini tidak dinginkan oleh siapapun. Bahwa saya
meyakini bahwa setiap kita diciptakan oleh Tuhan dan diberikan kuasa yang
istimewa. Keistimewaan tersebut terlihat pada akal atau pikiran yang hanya bisa
dimiliki oleh manusia semata. Sehingga jelas bahwa dari secuil pengertian dari
penciptaan inilah Tuhan telah memberikan kita kepercayaan dan kekuatan mutlak
untuk dapat merencanakan dan menjalani hidup kita masing-masing sembari Tuhan
turut terlibat dalam segala peranan kita sebagai manusia yang berakal. Jelas
bahwa campur tangan Tuhan ada dalam setiap persoalan yang kita hadapi dan dalam
perkara apapun.
Bicara mengenai kehidupan, dengan berbekal akal
ataupun pikiran tidak akan cukup. Alasan saya sederhana bahwa apapun yang kita
lakukan semuanya bermula dari niat. Niat untuk mencapai tujuan hidup kita
masing-masing. Niat secara sederhana dapat diartikan sebagai semangat yang
selalu menggerakan kita untuk melakukan sesuatu yang baik dan tentu sebagai
motor yang menggeraki kita untuk terus berusaha setidaknya agar dapat bertahan
hidup.
Pemahaman tetang alasan manusia hidup
Sebagai bahan refleksi, saya menyodorkan sebuah
pertanyaan “jika kematian adalah sebuah kebahagiaan, mengapa anda memilih hidup
yang penuh dengan persoalan dan perjuangan yang melelahkan hingga berputus asa?”.
Pertanyaan ini secara tegas mau
mengatakan bahwa apa yang menggeraki kita untuk hidup serta apa yang membuat
kita untuk terus berupaya dalam mempertahankan hidup kita. Saya ingin mengajak kita untuk merefleksikan
diri kita masing masing dan kembali menempatkan tujuan hidup kita tepat didepan
mata kita sebagai jawaban atas alasan kita hidup. Beberapa pengalaman sering
kita temui bahwa ada segelintir orang dimasa tuanya`mengalami penyesalan yang
sangat besar karena beberapa tujuan hidupnya tidak terwujud bahkan ketika
memasuki usia senjanya.
Menyadur dari teorinya Erik Erikson tentang tahapan
perkembangan manusia, bahwa pada masa tua setiap orang akan berhadapan dengan
kondisi yakni integritas dan keputus asaan. Integritas sebagai orang tua atau
dewasa itu muncul apabila telah menuai hasil yang baik atas proses aktulisasi
diri yang kemudian turut diberikan kepada orang lain sebagai pengaruh baik dari
pencapaian tersebut. Sedangkan keputus asaan akan muncul sebagai penyesalan
atas ketidakcapaian yang menjadi bagian dari tujuan hidup serta makna hidup
yang tak kesampaian. Disini jelas bahwa manusia hidup, karena ada alasan besar
yang terus merangsang semangat individu untuk memahami makna perjuangan hidup.
Mengenal
diri
Lebih lanjut
lagi mengenai tujuan hidup, hal yang pertama dan utama adalah mengenal diri.
Sebelumnya telah diterangkan bahwa kita adalah ciptaan Tuhan yang memiliki akal
yang dibekali bagi kita untuk hidup. Untuk itu tiga hal pertama yang harus kita
lakukan adalah mengenali diri, memahami diri dan menguasai diri. Sejak dalam
kandungan setiap kita diberikan bakat dan kemampuan yang berbeda satu sama
lain. Oleh sebab itu, mengenali “siapa aku” merupakan bagian pertama yang harus
dijawab oleh kita. Sepantasnya kita mengetahui apa yang menjadi kelebihan dan
kekurang yang pada diri kita secara komprehensif. Sehingga jelas bahwa
perpaduan antara akal atau pikiran dan kelebihan kita dapat dijadikan sebagai
sebuah tameng sekali senjata dalam aktualisasi diri tersebut.
Demikian pula
sebagai seorang pendidik tentu saja juga harus mengenal segala potensi diri.
Pendidik bukan hanya dilihat dari proses transformasi pengetahuan, pengalaman
atau nilai tetapi juga soal pembawaan diri. Walaupun setiap kita selalu
dibaluti oleh kekurangan, tetapi setidaknya ada upaya untuk menyeimbanginya
dengan mengembangkan kelebihan sebagai potensi utama. Saya yakin siapapun
pendidik ataupu guru tentu memiliki kelebihan dan juga kekurangan. Dan, upaya
untuk memperbaharui ini pun terus dilakukan dengan cara dan metode
masing-masing sesuai dengan karakternya. Menjadi prinsip saya adalah jangan
sungkang-sungkang untuk membuka diri dalam hal kekurangan kepada siapapun. Secara
ringkasnya ceritakan kekurangan kita kepada orang lain, sebagai bentuk pengakuan
diri untuk mendapatkan masukan ataupun bantuan dari mereka yang bisa membantu
kita. Bahwa Tuhan menciptakan kita dengan karakter yang kondisi yang
berbeda-beda. Kekurangan kita mungkin saja menjadi kelebihan orang lain. Maka
proses sosialisasi diri merupakan salah satu upaya untuk memperbaharui diri.
Karena melalui orang lain, disitulah Tangan hadir menjamahi kita (EH:20).
Ekspresi
diri
Hemat saya
mengatakan bahwa menjadi pendidik adalah salah satu contoh konkrit dari ekpresi diri. Ekspresi yang muncul atas
kesadaran diri, atas pemahaman diri serta atas niat diri untuk mengabdi. Pengabdian
adalah penyerahan diri secara total dan utuh kepada proses yang tengah kita
jalani. Maka disanalah waktu, tenaga, pikiran, pengetahuan, gagasan,
kreativitas serta pengamalan akan nilai-nilai secara utuh tercurahkan bagi
siapapun yang membutuhan tanpa mengharapkan sebuah imbalan yang besar. Disini
saya secara pribadi mengerti bahwa guru adalah pahlawan tanpa tanda jasa.
Itulah sprit yang saya pahami tetang dan dari guru.
2. Guru
dijalan panggilan
Pada ulasan sebelumnya, ada dua hal yang sudah
disampaikan secara garis besar mengenai semangat pendidik yaitu yang pertama menjadi guru bukanlah
sebuah kecelakaan dalam sebuah pilihan, tetapi merupakan hasil dari sebuah
refleksi dan kesadaran atas proses aktualisasi diri. Yang kedua menjadi pendidik adalah sebuah semangat pengabdian
secara total dengan menggerakan semua kemampuan dan potensi yang ada sebagai
upaya konkrit dalam menjalankan amanah dari kemerdekaan dan secara khusus untuk
sebagai ruang ekspresi diri yang pada akhirnya yang didapatkan adalah sebuah
”perasaan” sebagai gambaran kepuasan atas niat mendidik tersebut.
Berbicara mengenai wujud dari spritualitas guru itu
sendiri merupakan sesuatu yang bersifat komprehensif yang melibatkan
kepribadian, proses, serta keaktifan dalam mengembangkan diri secara
berkelanjutan, sehingga mampu menjawabi tuntutan kebutuhan jaman yang kian
modern ini. Dengan demikian, hal yang mau saya katakan adalah siapapun yang
menjadi pendidik atau guru adalah sekumpulan orang yang sangat beruntung dan
bahagia. Mengapa demikian?. Karena guru yang mempunyai spiritualitas yang
tinggi adalah guru yang tidak hanya menempatkan peserta didik sebagai objek
dari pendidikan itu sendiri, tetapi juga menempatkan diri sebagai objek.
Artinya, secara sadar pendidik atau guru ikut terlibat secara aktif dalam
mengembangkan dirinya baik dalam dalam
hal kepribadian, pedagogik, profesionalisme dan sosialnya yang hal ini dapat
dilakukan melalui proses evaluasi diri
dari kegiatan belajar mengajar dikelas dan hal lain yang memberikan
peluang bagi guru untuk terus mengasah diri. Sering kita mendengar pepatah
“sekolah dibatas waktu, belajar seumur hidup”. Artinya proses belajar setiap
individu akan terus berlangsung dalam kehidupan seseorang, dan tentu guru atau
pendidik ikut didalam proses itu sendiri.
Dalam bukunya berjudul The Purpose Driven Life, Rick Warren mengatakan bahwa untuk
menemukan tujuan hidup dapat dilakukan melalui hubungan dengan Tuhan Yesus yang
adalah seorang guru dan teladan kita. Sebagai kaum awan, saya
menerjemahkan pandangan ini sebagai
sebuah ajakan untuk mendekatkan diri dan berkaca pada rangkaian kehidupan
Yesus. Kita melihat diri kita pada pengalaman dan kisah hidup Yesus untuk
selanjutnya dijadikan sebuah semangat dan petunjuk untuk menjalani kehidupan
kita masing. Lebih lanjut lagi Rick Warren mengatakan bahwa Allah memikirkan
dan merancang setiap kita jauh sebelum kita memikirkan-Nya, bahkan menyiapkan
semuanya sebelum manusia ada dan tanpa meminta masukan apapun dari kita. Artinya
kita ada bukan karena sebuah kebetulan, tetapi karena atas rencana-Nya dengan
cinta yang tak terhingga yang diberikan kepada kita secara-cuma.
Dari berbagai ilustrasi ini, kita diajak untuk
melibatkan Tuhan dalam berbagai hal yang kita lakukan dengan berpegang teguh
pada nilai-nilai dan prinsip hidup yang mana telah Tuhan tunjukan kepada kita.
Lebih daripada itu, kita diajak untuk memaknai hidup sebagai sebuah panggilan
untuk berjalan di jalan Tuhan dan melaksanakan semua yang diperintahkan kepada
kita dalam kehidupan setiap hari baik secara vertikal maupun horizontal. Pada
saat interview di kantor yayasan salib suci, ketika memasuki gedung tersebut
saya membaca sebuah tulisan yang menarik yakni “kamu telah memperolehnya secara
cuma-Cuma, maka kamu juga harus memberikannya secara cuma-cuma”. Dan saya
mencoba memadukannya denga tugas saya sebagai pendidik atau guru, maka saya
secara lahir dan batin harus memberikan segala hal yang bermanfaat kepada
peserta didik secara utuh dan penuh totalitas. Inilah yang dikatakan sebagai mendidik sebagai panggilan Tuhan.
Dalam pembukaan UUD 1945, secara tegas dikatakan
dalam rangka mengisi kemerdekaan setiap warga negara indonesia turut
berpartisipasi dalam mencerdaskan kehidupan bangsa. Pesan ini saya
menerjemahkan sebagai sebuah refleksi panjang atas nasib bangsa indonesia yang
dijajah selama tiga setengah abad baik secara sumber daya alam maupun sumber
daya manusianya. Bahwa betapa tragisnya
perlakuan penjajah dalam mengeksplorasi dan memanfaatkan segala sumber daya
yang ada tanpa ada rasa kemanusiaan. Disisi lain, selama penjajahan itu
berlangsung, tidak ada ruang bagi bangsa indonesia untuk mengembangkan diri.
Sekolah-sekolah dibangun diperuntukan bagi anak cucu penjajah dan tidak bagi
kaum pribumi.
Dan kondisi demikian tidak bisa dilawan, karena
bangsa kita tidak memiliki kekuatan walaupun memiliki masyarakat yang banyak
belum lagi SDM kita lemah yang dimaanfaatkan oleh bangsa penjajah untuk mengadu
domba masyarakat pribumi dan tentunya sebagai ruang untuk melumpuhkan kekutan
dan persatuan bangsa. Satu kesimpulan yang saya pahami dari rentetan peristiwa
penjajahan tersebut adalah kurang sumber daya manusia.
Kumpulan pengalamam buruk masa lalu inilah yang
menempatkan pendidikan sebagai pilar utama dalam kehidupan berbangsa. Paling
tidak ada upaya untuk membenahi diri yang kemudian menjadi bangsa ini kuat dan
dapat menyesuaikan diri dengan perkembangan jaman serta mampu membaca peluang
yang akan terjadi pada masa mendatang. Oleh karena ini itu, berangkat dari
tuntutan kebutuhan inilah, secara khusus setiap pendidik dituntut untuk mampu
memahami persoalan ini secara utuh dalam proses aktualisasi diri dengan menjadi
seorang pendidik atau guru. Hal-hal inilah merupakan wujud kesadaran mendalam akan kebutuhan serta
perkembangan bangsa dan negara.
Sebagai manusia yang beragama khatolik kita tentu
memiliki sebuah pemahaman bersama bahwa Yesus adalah pelayan, teladan sekaligus
guru. Memilih menjadi guru merupakan kesiapan untuk menjadi pelayan bagi sesama
secara khusus dalam pelaksanaan pendidikan. Menjadi guru adalah menjadi pelayan
dan juga teladan. Terkait dengan teladan tersebut, saya teringat sosok Malala
pada sebuah buku yang berjudul Iam Malala. Seorang gadis muslim yang aktif
mengkampanyekan kebebasan bagi perempuan untuk mengecapi pendidikan hingga
menentang ketidakadilan atas rezim yang berkuasa melaui tulisan-tulisannya.
Kritik yang disampaikannya berhasil menganggu penguasa yang tengah menikmati
kenyamanan belum lagi ditambah tekanan dan agresi militer dari negara
tetangganya. Satu hal yang saya petik dari kisah ini adalah setiap kita
dilahirkan sebagai pelayan dan semangat pelayanan itu akan terus tumbuh dalam
diri kita apabila kita masih memiliki rasa kemanusiaan (sense of humanis). Menjadi pelayan dapat dilakukan dengan berbagai
cara dan metode kita sendiri atas dasar berbagai kebutuhan yang harus dipenuhi.
Menjadi pendidik atau guru adalah bentuk pelayan nyata dalam mentransformasikan
pengalaman, nilai, dan pengetahuan kepada mereka yang tengah membutuhkan.
Oleh karena itu dalam semangat pelayan harus
didasari oleh rasa kemanusiaan (sense of
humanis) maka disanalah sebuah pola relasi yang baik akan terbangun. Hal
ini selanjutnya diwujudkan pada
kematangan emosional antara guru dan siswa. Kematangan emosional inilah yang
kemudian membuat guru dan siswa semakin lebih dekat, lalu bersama-sama
memanfaatkan peluang ini untuk meraih tujuan yang menjadi target utama dalam
sebuah proses pendidikan dan tetap mengedepankan metode proses. Karena
pendidikan bukan hanya berorientasi pada hasil tetapi juga proses. Lalu pada
akhirnya siswa siswa akan sadar atas goal
orientation bagi dirinya yang kemudian memacu siswa untuk lebih
bersemangat, karena design pelayanan yang menyenangkan, keakraban terbangun
antara siswa dan guru, lalu pada
akhirnya terbentuklah satu team work yang kuat untuk mewujudkan tujuan
pendidikan yang sesungguhnya. Oleh karena itu spirit yang dibangun adalah yang jauh mendekat,
mendekat merapat, merapat melekat, melekat menyatu, menyatu dalam satu satu
birama untuk belajar bersama-sama. Guru atau mendidik akan menjadi fasilitator,
rekan belajar dan teman sharing dengan tetap mengedepankan etika.
3. Bagaimana
Kita Bertumbuh
Hal pertama yang perlu saya garis bawahi adalah
penempatan kata “bertumbuh” yang dimaksud bukan merujuk pada pertumbuhan fisik,
tetapi upaya mengembangankan diri secara psikologis sebagai seorang pendidik
atau guru. guru yang mempunyai spiritualitas yang baik bukan hanya dilihat dari
pelayanan dalam proses KBM dan pola
relasi, tetapi seharusnya dilihat secara
keseluruan. Salah satu hal yang menandakan guru atau pendidik yang mempunyai
spiritual yang baik adalah keaktifan dalam mengembangkan diri secara
terus-menerus. Tentu hal tersebut sebetulnya dilakukan untuk menjaga eksistensi
diri dan mampu menyesuaikan diri dengan perubahan situasi, lalu pada akhirnya
dapat berdiri diatas perubahan yang kian terjadi setiap saat. Maka pada tataran
tersebut, guru atau pendidik telah mewujudkan azas kekinian yang merupakan
kemampuan untuk menyesuaian diri dengan kondisi yang seharusnya saat ini terjadi.
Upaya un tuk mengembangkan diri tersebut tentunya
dilaksanakan dengan berbagai metode dan pendekatan yang tentunya pasti akan
berbeda setiap orang, pun kalau sama jika dilakukan secara klasikal yang
difasilitasi oleh instansi atau lembaga tertentu. Maka pada kesempatan ini,
saya mencoba untuk menawarkan beberapa cara sederhana yang dapat dilakukan guru
atau pendidik untuk mengembangkan spiritualitasnya dalam rangka menjawabi
tuntutan kebutuhan jaman yang semakin kompleks dan kompetitif ini. Hal-hal
tersebut antara lain:
Mendekatkan
diri kepada yang mahakuasa
Bertrand Russell,
yang adalah seorang ateis pernah mengatakan bahwa: sebelum anda memikirkan
allah, pertanyaan tentang tujuan tidaklah berarti. Bayangkan saja, seorang
ateis yang pada umumnya tidak percaya pada Tuhan secara terbukan mengatakan
demikian. Lantas bagaimana kita sebagai mahkluk yang mempunyai keyakinan akan
Tuhan?. Pernyataan Bertrand Russell tersebut sebetulnya mengajak kita semua untuk menempatkan Tuhan
sebagai role of model. Mengutip salah
satu ayat Alkitab “bahwa didalam tangan-Nya, terletak segala nyawa yang hidup
dan nafas setiap manusia”. Saya menerjemahkannya bahwa Tuhan mempunyai pengaruh
yang sangat besar dalam setiap ranah kehidupan setiap individu. Dengan melibatkan
Tuhan dalam segala perkara, maka kita sedang memasuki situasi yang mana kita
menjauhkan dari hal buruk dan bertindak sesuai dengan perintah-Nya. Hal ini
akan berimplikasi pada pola pikir kita yang jernih, berpikir secara positif,
lebih selektif dalam mengambil keputusan dan menjadi sahabat yang siap menerima
orang lain dengan kekurangan dan kelebihannya, selayaknya kita mencintai diri
kita sendiri. Dan hal tersebut, saya yakin semua guru miliki. Sebuah pernyataan
sekaligus pengakuan dari saya bahwa semenjak bekerja di SMP Ignatius Slamet
Riyadi, saya bukan hanya mendapatkan rekan kerja baru, bukan hanya situasi baru tetapi dari
pengalaman-pengalaman yang saya alami sesungguhya saya menemukan sebuah
keluarga. Yah keluarga yang telah mendewasakan dan mengarahkan saya untuk
berkembang dan terus belajar.
Perbanyak
referensi
Saya sangat
percaya dan sangat tidak meragukan kompetensi setiap guru, terlebih dalam
penguasaan bidang ilmu yang digelutinya. Bahkan untuk memperkuat dan menjiwahi
pengetahuan tersebut saya yakin para guru atau pendidik selalu mendalami bidang
atau mata pelajaran yang diasuh, bahkan saat-saat sebelum memberikan materi
kepada peserta didik. lantas ilmu yang
pendidik atau guru miliki bukan hanya diperuntukan bagi siswa tetapi juga
bagi guru atau pendidik untuk menjalai
kehidupannya. Tapi kalau menurut saya, sangat disayangkan apabila seorang guru
sangat terpaku pada satu bidang saja. guru bukan hanya menjadi guru di sekolah,
tapi bisa menjadi guru di luar sekolah. Bukan hanya bidang tertentu yang akan
ditransformasikan ke peserta didik tetapi bagaimana mengarahkan siswa untuk
memahami kehidupan secara komprehensif. Kondisi tersebutsetiap guru pasti
membutuhkan sebuah referensi atau konten tertentu untuk menyadarkan peserta
didik. Disamping itu kehidupan sosial menuntut setiap peserta didik untuk dapat
berdiri diatas golongan masyarakat baik
budaya, agama, suku dan hal lain yang melekat dengan kehidupan.
Oleh karena
itu, sebagai upaya dalam mempertahankan
dan mengembangkan diri salah satu hal yang dilakukan oleh guru adalah menambah
wawasan melalui membaca, menulis, diskusi, bedah film atau menonton video
ispiratif yang kemudian bisa dijadikan gambaran dan acuan dalam menjani
kehidupan terlebih menjalani tugas sebagai pendidik atau guru. Sebuah
pengalaman berharga semenjak bekerja di Yayasan Salib Suci tepatnya di SMP
Ignatius Slamet Riyadi, saya merasa sangat terdorong untuk membaca. Menyadari
bahwa semua yang saya pelajari tersebut sebetul sangat bermanfaat bagi saya secara pribadi dan hal
positif yang saya dapatkan tersebut bisa bagikan ke orang lain. Banyak orang
mengatakan bahwa lingkungan sangat berpengaruh dalam perkembangan seseorang. Dan
sampai pada detik ini SMP Ignatius Slamet Riyadi tempat saya bekerja selalu
memberikan kesempatan dan dorongan untuk terus memperbaiki dan mengembangkan
diri.
Bahwa
pengetahuan akan selamanya menjadi milik setiap pribadi dan tidak bisa dirampas
oleh siapapun. Maka menjadi suatu keberuntungan bagi pendidik atau guru yang
secara terus menerus memperkaya pengetahuannya. Dan sejauh ini dua hal ini yang
bisa saya lakukan secara pribadi, untuk mengembangkan kemampuan sebagai seorang
pendidik atau guru.
4. Hambatan
Pada awal tulisan saya ini, telah sampaikan bahwa
menjadi guru adalah penyerahan diri secara total atas pilihan hidup dalam
panggilan dan secara sadar mempertaruhkan waktu, tenaga dan pikiran. Hari ini,
guru dijejali dengan berbagai tugas administrasi dan itu menghabiskan cukup
banyak waktu,belum lagi pembagian waktu untuk mengurusi persoalan pribadi. Maka
ketika berbicara soal meningkatkan spiritualitas individu, maka kita bicara
soal waktu. Jangankan hanya dengan berdoa, membaca, menulis, diskusi dan lainnya.
Pun kalau harus mengelilingi dunia untuk meningkatkan kemampuan dan
spiritualitasnya, saya yakin setiap guru pasti tidak akan menolak. Tapi kembali
lagi ke persoalan waktu. Apalagi di era yang semakin kompetitif ini, waktu akan
menjadi komoditas utama dalam mengembangkan diri. Mau memilih untuk
mengembangkan diri atau menyelesaikan pekerjaan untuk memenuhi kebutuhan makan
siang yang tidak bisa ditunda.
5. Kesimpulan
Waktu mengikuti sebuah rekoleksi guru-guru komplek
Kebon Kangkung di Eco Camp di daerah Dago, saya sangat tersentuh dengan sebuah
kata yang terus membekas dalam pikiran sampai saat ini. Bahwa ketika apa yang
dikerjakan oleh seseorang dan pada akhirnya memberikan hasil yang baik, maka
yang akan didapatkan adalah sebuah “perasaan”. Perasaan merupakan ungkapan hati atas apa
yang diperoleh, apa yang ditemui, apa yang dialami dan tidak akan bisa
dijelaskan. Siapapun hanya bisa memahami dan merasakan. Perasaan tidak bisa
digantikan oleh apapun.
Oleh sebab itu, satu hal yang baik yang menggugah
saya dari buku ini adalah bahwa
bagaimana seorang guru atau pendidik menjalani tugasnya atas dasar “rasa”. Inilah yang menjadi awal mula
spiritulitas seorang guru atau pendidik tumbuh. atas dasar “rasa” yang kemudian terus menggerakan
setiap kita untuk terus menebarkan benih kebaikan kepada kepada siapapun. Maka
sebagai penutup saya mengutip sebuah pepatah India yang berbunyi “tempat dimanapun cinta bersemi, disitu pula
semua kemungkinan akan terwujud”.
Teriring salam dan doa semoga tuhan selalu menyertai
segala usaha dan perjuangan kita, secara khusus kepada keluarga besar SMP
Ignatius Slamet Riyadi, Kebon Kangkung.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar