Mengawali tulisan singkat ini, saya mengajak sahabat pembaca semua untuk sejenak saja melihat dan merenungkan kembali sederet waktu terlebih pada tahun 2020 yang telah terlewati. Kembali kita melihat berbagai pengalaman dan peristiwa kehidupan yang penuh dengan suka duka, penuh dengan berbagai cerita dan kesan yang unik dan tidak lepas sebuah momentum berharga untuk selalu menatap hari esok. Kadang melelahkan dan membuat kita nyaris menyerah pada perjalanan perjuangan hidup. Ingin rasanya menangis atau mungkin berteriak sekeras mungkin ketika harapan tak berpihak pada kita. Setiap hal yang kita alami datang dan berlalu seiring berjalannya waktu. Hari ini baru kita sadar bahwa semua yang telah terlewati terasa baru minggu lalu atau mungkin kemarin sore. Akhirnya kita memahami bahwa waktu berjalan begitu cepat dan ringkas, sedangkan masih banyak hal yang harus kita selesaikan. Sanggupkah kita akan menuntaskan segala tugas dan tanggung jawab disisa waktu ini?
Waktu terus berjalan dan
akhirnya kita tiba di tahun baru 2021. Setiap orang tentunya mempunyai
pengertian yang berbeda tentang hakikat dari peristiwa tersebut. Mulai dari
yang paling sederhana bahwa ada yang melihatnya sebagai pergantian angka
belakangnya, ada yang melihat sebagai waktu memiliki barang baru, pekerjaan
baru, pasangan baru, ada pula yang menganggap biasa saja dan tidak ada bedanya.
Disisi lain ada yang melihat sebagai momentum untuk merefleksikan diri,
memperkuat komitmen, memupuk kembali semangat untuk hari esok yang lebih baik.
Ada yang melihatnya sebagai momentum pembaharuan diri. Saya percaya bahwa apapun
pemaknaannya, setiap kita menginginkan yang terbaik untuk diri kita dan orang
yang kita cintai.
Terlepas dari apapun pemaknaan
kita terhadap momentum pergatian tahun tersebut, ada satu hal yang mau saya
sampaikan apakun kondisi dan harapan kita saat ini kita tidak bisa harus tetap
berdiri ditempat. Mulai dari yang paling sederhana yakni memenuhi kebutuhan
akan makanan, tempat tinggal dan pakayan yang sifatnya wajib dan tidak bisa
ditunda. Lebih luas lagi bahwa kondisi hari ini hidup diibaratkan seperti lomba
sprint atau lari cepat. Kompetisi yang tidak akan pernah berhenti tersebut
telah melibatkan kita untuk ikut sebagai kontestan yang secara aktif ikut
bertarung mengikuti arah dan lajunya perubahan tersebut. Tidak harus berada
pada posisi terdepan, tetapi paling tidak kita ikut meskipun harus tertatih,
agar tidak tertinggal lalu berujung pada sebuah penyesalan apalagi berdiam diri
dan siap tergilas oleh situasi. Ingat bahwa siapapun tidak dapat menghentikan
kompetisi dan perubahan ini. Hanya ada dua pilihan yakni diam atau ikut
berkompetisi. Jika waktu terus berjalan maka, apakah momentum tahun baru kita
jadikan sebagai kesempatan untuk memulai”
atau “melanjutkan.
Pertama kita akan bahas tentang
“memulai”. Kita mungkin saja merasa
bosan dengan hal-hal yang sudah dilakukan selama ini. Merasa bahwa “Hidup saya
kok gini-gini aja”. Atau saja sudah tidak tertarik lagi dengan berbagai
kebiasaan yang sering kita lakukan yang hanya membuang-buang waktu saja. Lalu
kita terjebak pada situasi yang membuat kita menjadi tidak produktif. Disisi
lain merasa cukup dengan keberadaan kita sekarang, padahal masih ada peluang untuk
mendapatkan yang lebih baik dan lebih banyak. Atau kita enggan memulai karena
ada rasa pesimis bahwa kita tidak dapat melakukan dan mungkin berakhir dengan
kegagalan. Atau mungkin kita memiliki banyak rencana, sehingga bingung mana
yang harus dikerjakan terlebih dahulu, sedangkan kita hanya seorang diri.
Untuk itu, kita perlu
menetapkan hal mana yang perlu kita kerjakan terlebih dahulu dan itu sesuai
dengan kebutuhan atau tuntutan kita saat ini. Kerjakan dengan cara yang
sederhana sesuai dengan kemampuan dan standar kita. Jika kita gagal, maka kita
gagal sesuai dengan standar kita bukan standar orang lain. Ciptakan suasana
kerja yang menyenangkan untuk menghindari kebosanan. Jadwalkan kapan akan
memulai sekaligus target yang mau dicapai pada saat mengerjakan.
Kedua kita akan bahas tentang “melanjutkan”. Ada yang mungkin pernah
berkata dalam hatinya “kok saya selalu gagal, padahal saya sudah berusaha
sekuat tenaga”. Atau “kok hasilnya gini-gini aja, pada hal tiap hari saya punya
waktu 4 jam untuk belajar di luar PJJ”. Ada pula yang mengatakan “saya sudah
berusaha untuk tidur jam 8, kok masih bangun telat juga”. Mungkin juga ada yang
berkata “kok ulangannya dapat nilai 3, padahal saya saya belajar dari malam
sampai subuh”. Ternyata masih ada yang menganut SKS (sistem kebut semalam).
Ketika mengetahui bahwa hasil yang didapatkan jauh berbeda dengan harapan
menunjukan bahwa kita sedang mengevaluasi diri. Kita menyadari bahwa ada hal
yang perlu untuk diperbaiki dan ditingkatkan, semisal hasil belajar.
Jika dilihat dari tahap
persiapan sampai pada hasil yang kita dapatkan, maka sebaiknya kita perlu mengevaluasi
secara keseluruhan segala aktivitas kita, semisalnya dalam hal belajar. Apakah
cara belajar saya sudah benar dan efektif?, apakah saya benar-benar fokus saat
belajar dan mengerjakan tugas atau ulangan?, Apakah saya fokus saat mengikuti
meet saat PJJ atau malah sibuk buka youtube atau hal lain?
Pertanyaan-pertanyaan semacam ini perlu kita jawab untuk memperbaiki cara atau
kebiasaann kita yang masih kurang optimal.
Banyak yang mengatakan bahwa
kegagalan adalah keberhasilan yang tertunda. Ini kedengarannya lucu. Bagaimana
jika kita menggantinya dengan kegalalan adalah ketika kita berhenti berjuang
sebelum prosesnya selesai atau melakukan dengan cara yang salah. Bagaimana
mungkin kita dapat memahami meteri tertentu jika kita keluar dari room meeting
ketika PJJ apalagi bersikap bodoh amat. Bagaimana bisa mendapatkan hasil
maksimal, jika mengerjakan tugas saja setengah-setengah apalagi asal-asalan.
Jika demikian maka, kita mengamini bahwa kegagalan bukan hanya keberhasilan
yang tertunda, tetapi kita tidak menginginkan keberhasilan.
Terselesaikannya sebuah tugas
atau pekerjaan tentu bermula dari sebuah usaha dengan cara-cara yang benar.
Seberat atau serumit apapun tugas atau pekerjaan, tentu ada cara tertentu untuk
menyelesaikannya. Untuk itu, kerjakanlah sesuai dengan cara kita, dengan cara
yang paling sederhana. Jika pertanyaan-pertanyaan diatas tadi sudah bisa kita
jawab maka, kita dapat mengetahui dimana letak kekeliruan yang selama ini
terjadi.
Oleh sebab itu sesering mungkin
untuk melakukan evaluasi diri, evaluasi kebiasaan belajar, evaluasi pola yang
kita gunakan saat menyelesaikan suatu pekerjaan. Pergunakanlah hasil evaluasi
diri untuk acuan dalam melanjutkan usaha dan perjuangan kita. Percalah pada
diri, pegang teguh pada komitmen dan harapan dan terus melangka maju. Setiap
kita berhak untuk menjadi yang terbaik dan mendapatkan yang terbaik.
Disisi lain yang turut
mempengaruhi adalah mengenai skala prioritas. Bahwa terkadang setiap orang
sulit untuk membedakan mana yang sifatnya urgen dan benar-benar dibutuhkan
serta mana yang menjadi keinginan yang sifatnya hanya sebagai pelengkap. Kerap
kali orang-orang mengalihkan fokus pada hal-hal yang hanya untuk mendapatkan
kesenangan sesaat hingga lupa dengan waktu lalu mengabaikan hal yang paling
utama. Bagaiamana mungkin semua mimpi besar kita jika kita masih menunda-nunda
pekerjaan. Benar bahwa kesenangan memang menjadi salah satu promotor untuk
meningkatkan etos kerja, mengilangkan segala kebosanan, dan juga membangkitkan
kembali semangat, jika itu sesuai porsinya dan bukan menjadi faktor penghambat.
Selanjutnya yang perlu
diperhatikan adalah soal pengetahuan. Pengetahuan yang dimaksud adalah ketika
kita memahami cara, langkah kerja, metode, dan pendekatan serta proses secara
secara utuh. Hal ini menjadi sangat penting sehingga dalam prosesnya setiap
kita tidak membabi buta atau mengada-ada. Sederhananya adalah kita harus tahu
bagaimana dan apa saja yang harus kita lakukan. Pengetahuan sangat erat
kaitannya dengan sikap. Contohnya ketika muncul rasa pesimisme terhadap rencana
kita, kurangnya kepercayaan dan mungkin juga mengatakan bahwa kita akan gagal.
Hal lain adalah ketika mendapat kritikan, penilaian dari luar atau bahkan
ketika kita menemui kegagalan. Hal-hal inilah yang membuat kepercayaan diri semakin
berkurang dan disaat yang bersamaan semangat kita pun mulai redup. Menjadi
pertanyaan adalah apakah kita harus ikut terpengaruhi ha-hal tersebut lalu pada
akhinya putus asa apalagi menyerah? Atau saja menjadikannya sebagai sebuah
titik tumpuan pembelajaran untuk loncatan yang lebih tinggih. Ingat yang
menentukan keberhasilan dari perjuangan kita adalah diri kita sendiri.
Salam

Tidak ada komentar:
Posting Komentar