Jumat, 26 Maret 2021

Try Something New

 

Mengawali tulisan singkat ini, saya mengajak sahabat pembaca semua untuk sejenak saja melihat dan merenungkan kembali sederet waktu terlebih pada tahun 2020 yang telah terlewati. Kembali kita melihat berbagai pengalaman dan peristiwa kehidupan yang penuh dengan suka duka, penuh dengan berbagai cerita dan kesan yang unik dan tidak lepas sebuah momentum berharga untuk selalu menatap hari esok. Kadang melelahkan dan membuat kita nyaris menyerah pada perjalanan perjuangan hidup. Ingin rasanya menangis atau mungkin berteriak sekeras mungkin ketika harapan tak berpihak pada kita. Setiap hal yang kita alami datang dan berlalu seiring berjalannya waktu. Hari ini baru kita sadar bahwa semua yang telah terlewati terasa baru minggu lalu atau mungkin kemarin sore. Akhirnya kita memahami bahwa waktu berjalan begitu cepat dan ringkas, sedangkan masih banyak hal yang harus kita selesaikan. Sanggupkah kita akan menuntaskan segala tugas dan tanggung jawab disisa waktu ini?

Waktu terus berjalan dan akhirnya kita tiba di tahun baru 2021. Setiap orang tentunya mempunyai pengertian yang berbeda tentang hakikat dari peristiwa tersebut. Mulai dari yang paling sederhana bahwa ada yang melihatnya sebagai pergantian angka belakangnya, ada yang melihat sebagai waktu memiliki barang baru, pekerjaan baru, pasangan baru, ada pula yang menganggap biasa saja dan tidak ada bedanya. Disisi lain ada yang melihat sebagai momentum untuk merefleksikan diri, memperkuat komitmen, memupuk kembali semangat untuk hari esok yang lebih baik. Ada yang melihatnya sebagai momentum pembaharuan diri. Saya percaya bahwa apapun pemaknaannya, setiap kita menginginkan yang terbaik untuk diri kita dan orang yang kita cintai.

Terlepas dari apapun pemaknaan kita terhadap momentum pergatian tahun tersebut, ada satu hal yang mau saya sampaikan apakun kondisi dan harapan kita saat ini kita tidak bisa harus tetap berdiri ditempat. Mulai dari yang paling sederhana yakni memenuhi kebutuhan akan makanan, tempat tinggal dan pakayan yang sifatnya wajib dan tidak bisa ditunda. Lebih luas lagi bahwa kondisi hari ini hidup diibaratkan seperti lomba sprint atau lari cepat. Kompetisi yang tidak akan pernah berhenti tersebut telah melibatkan kita untuk ikut sebagai kontestan yang secara aktif ikut bertarung mengikuti arah dan lajunya perubahan tersebut. Tidak harus berada pada posisi terdepan, tetapi paling tidak kita ikut meskipun harus tertatih, agar tidak tertinggal lalu berujung pada sebuah penyesalan apalagi berdiam diri dan siap tergilas oleh situasi. Ingat bahwa siapapun tidak dapat menghentikan kompetisi dan perubahan ini. Hanya ada dua pilihan yakni diam atau ikut berkompetisi. Jika waktu terus berjalan maka, apakah momentum tahun baru kita jadikan sebagai kesempatan untuk memulai” atau “melanjutkan.

Pertama kita akan bahas tentang “memulai”. Kita mungkin saja merasa bosan dengan hal-hal yang sudah dilakukan selama ini. Merasa bahwa “Hidup saya kok gini-gini aja”. Atau saja sudah tidak tertarik lagi dengan berbagai kebiasaan yang sering kita lakukan yang hanya membuang-buang waktu saja. Lalu kita terjebak pada situasi yang membuat kita menjadi tidak produktif. Disisi lain merasa cukup dengan keberadaan kita sekarang, padahal masih ada peluang untuk mendapatkan yang lebih baik dan lebih banyak. Atau kita enggan memulai karena ada rasa pesimis bahwa kita tidak dapat melakukan dan mungkin berakhir dengan kegagalan. Atau mungkin kita memiliki banyak rencana, sehingga bingung mana yang harus dikerjakan terlebih dahulu, sedangkan kita hanya seorang diri.

Untuk itu, kita perlu menetapkan hal mana yang perlu kita kerjakan terlebih dahulu dan itu sesuai dengan kebutuhan atau tuntutan kita saat ini. Kerjakan dengan cara yang sederhana sesuai dengan kemampuan dan standar kita. Jika kita gagal, maka kita gagal sesuai dengan standar kita bukan standar orang lain. Ciptakan suasana kerja yang menyenangkan untuk menghindari kebosanan. Jadwalkan kapan akan memulai sekaligus target yang mau dicapai pada saat mengerjakan.  

Kedua kita akan bahas tentang “melanjutkan”. Ada yang mungkin pernah berkata dalam hatinya “kok saya selalu gagal, padahal saya sudah berusaha sekuat tenaga”. Atau “kok hasilnya gini-gini aja, pada hal tiap hari saya punya waktu 4 jam untuk belajar di luar PJJ”. Ada pula yang mengatakan “saya sudah berusaha untuk tidur jam 8, kok masih bangun telat juga”. Mungkin juga ada yang berkata “kok ulangannya dapat nilai 3, padahal saya saya belajar dari malam sampai subuh”. Ternyata masih ada yang menganut SKS (sistem kebut semalam). Ketika mengetahui bahwa hasil yang didapatkan jauh berbeda dengan harapan menunjukan bahwa kita sedang mengevaluasi diri. Kita menyadari bahwa ada hal yang perlu untuk diperbaiki dan ditingkatkan, semisal hasil belajar.

Jika dilihat dari tahap persiapan sampai pada hasil yang kita dapatkan, maka sebaiknya kita perlu mengevaluasi secara keseluruhan segala aktivitas kita, semisalnya dalam hal belajar. Apakah cara belajar saya sudah benar dan efektif?, apakah saya benar-benar fokus saat belajar dan mengerjakan tugas atau ulangan?, Apakah saya fokus saat mengikuti meet saat PJJ atau malah sibuk buka youtube atau hal lain? Pertanyaan-pertanyaan semacam ini perlu kita jawab untuk memperbaiki cara atau kebiasaann kita yang masih kurang optimal.

Banyak yang mengatakan bahwa kegagalan adalah keberhasilan yang tertunda. Ini kedengarannya lucu. Bagaimana jika kita menggantinya dengan kegalalan adalah ketika kita berhenti berjuang sebelum prosesnya selesai atau melakukan dengan cara yang salah. Bagaimana mungkin kita dapat memahami meteri tertentu jika kita keluar dari room meeting ketika PJJ apalagi bersikap bodoh amat. Bagaimana bisa mendapatkan hasil maksimal, jika mengerjakan tugas saja setengah-setengah apalagi asal-asalan. Jika demikian maka, kita mengamini bahwa kegagalan bukan hanya keberhasilan yang tertunda, tetapi kita tidak menginginkan keberhasilan.

Terselesaikannya sebuah tugas atau pekerjaan tentu bermula dari sebuah usaha dengan cara-cara yang benar. Seberat atau serumit apapun tugas atau pekerjaan, tentu ada cara tertentu untuk menyelesaikannya. Untuk itu, kerjakanlah sesuai dengan cara kita, dengan cara yang paling sederhana. Jika pertanyaan-pertanyaan diatas tadi sudah bisa kita jawab maka, kita dapat mengetahui dimana letak kekeliruan yang selama ini terjadi.

Oleh sebab itu sesering mungkin untuk melakukan evaluasi diri, evaluasi kebiasaan belajar, evaluasi pola yang kita gunakan saat menyelesaikan suatu pekerjaan. Pergunakanlah hasil evaluasi diri untuk acuan dalam melanjutkan usaha dan perjuangan kita. Percalah pada diri, pegang teguh pada komitmen dan harapan dan terus melangka maju. Setiap kita berhak untuk menjadi yang terbaik dan mendapatkan yang terbaik.

 Terlepas sebanyak dan serumit apapun rencana yang sudah kita tetapkan tidaklah menjadi suatu alasan bagi kita untuk bosan apalagi menyerah. Maka hal terpenting yang perlu kita lakukan adalah fokus pada apa yang hendak dikerjakan. Hal pendukung lainnya adalah dengan menetapkan langkah-langkah kerja yang sederhana dan akan lebih baik jika sesuai dengan kemampuan diri. Berikutnya adalah manajemen waktu. Waktu adalah sesuatu yang sangat seksi, dalam artian bahwa ketika manajemen waktu itu dilakukan dengan baik maka segala hal yang kita lakukan berjalan dengan baik. Jika sebaliknya bisa berdampak pada proses yang kita jalani dan lebih buruknya menyebabkan terjadinya pembiaran atas rencana yang mana kita sendiri sudah tetapkan.

Disisi lain yang turut mempengaruhi adalah mengenai skala prioritas. Bahwa terkadang setiap orang sulit untuk membedakan mana yang sifatnya urgen dan benar-benar dibutuhkan serta mana yang menjadi keinginan yang sifatnya hanya sebagai pelengkap. Kerap kali orang-orang mengalihkan fokus pada hal-hal yang hanya untuk mendapatkan kesenangan sesaat hingga lupa dengan waktu lalu mengabaikan hal yang paling utama. Bagaiamana mungkin semua mimpi besar kita jika kita masih menunda-nunda pekerjaan. Benar bahwa kesenangan memang menjadi salah satu promotor untuk meningkatkan etos kerja, mengilangkan segala kebosanan, dan juga membangkitkan kembali semangat, jika itu sesuai porsinya dan bukan menjadi faktor penghambat.

Selanjutnya yang perlu diperhatikan adalah soal pengetahuan. Pengetahuan yang dimaksud adalah ketika kita memahami cara, langkah kerja, metode, dan pendekatan serta proses secara secara utuh. Hal ini menjadi sangat penting sehingga dalam prosesnya setiap kita tidak membabi buta atau mengada-ada. Sederhananya adalah kita harus tahu bagaimana dan apa saja yang harus kita lakukan. Pengetahuan sangat erat kaitannya dengan sikap. Contohnya ketika muncul rasa pesimisme terhadap rencana kita, kurangnya kepercayaan dan mungkin juga mengatakan bahwa kita akan gagal. Hal lain adalah ketika mendapat kritikan, penilaian dari luar atau bahkan ketika kita menemui kegagalan. Hal-hal inilah yang membuat kepercayaan diri semakin berkurang dan disaat yang bersamaan semangat kita pun mulai redup. Menjadi pertanyaan adalah apakah kita harus ikut terpengaruhi ha-hal tersebut lalu pada akhinya putus asa apalagi menyerah? Atau saja menjadikannya sebagai sebuah titik tumpuan pembelajaran untuk loncatan yang lebih tinggih. Ingat yang menentukan keberhasilan dari perjuangan kita adalah diri kita sendiri.

Salam

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

SESUATU YANG HILANG (Part 1)

  Beberapa hari terakhir ini, lampu jalan di sepanjang jalan Ibrahim Haji padam. Jalanan hanya bisa diterangi oleh lampu kendaraan bermotor,...