Begini. Hampir setiap malam sebelum tidur, biasanya
saya menikmati segelas teh panas di teras yang langsung berhadapan dengan jalan
raya. Tidak ada bola lampu satupun yang terpasang di teras rumah saya tinggal.
Dan bagi saya, cahaya lampu jalan adalah semacam kilauan bulan purnama. Agak kekuningan dan kebetulan
memiliki tiang penyangga yang tinggi pula. Di balik keremangan teras rumah, saya merasa sedang ditemani berjuta bintang dan
bulan purnama. Dan mereka setia mendengar setiap kelu kesah, cerita dan mungkin
ikut merasakan suasana hati ataupun perasaan saya,
ketika mulai merenung dalam pelukan angin malam.
Pikiran saya jauh melayang entah kemana membawa
serta semua lelah, kelu kesah dan juga pikiran-pikiran buruk, ketika bias
cahaya dari kendaraan bermotor menyatu dengan cahaya lampu jalan. Bagai pelangi di
malam gelap. Saya begitu menikmati. Sampai-sampai, sengatan angin malam yang
dingin tak lagi saya rasakan. "Kepo tutu, kepo tutu" melaju begitu cepat seperti di jalan tol. Mulus dan
bebas hambatan. Saya percaya kilau lampu jalanan akan selalu setia mendengarkan
setiap cerita yang hendak kubagikan padanya, bahkan ketika kami harus mewaktu
sampai terbitnya sang mentari. Saat hendak menghabiskan tetes terakhir dari secangkir teh itu, pikiran yang tadinya jauh melayang, perlahan
mendekat dan kembali menyatu dengan diriku. Membawa serta sejuta inspirasi,
harapan dan cinta. Ketika jarum pendek tepat berada diangka 10.30, saya
harus menuju
tempat pembaringan, melanjutkan
cerita dalam mimpi malam untuk hari esok. Begitulah yang terjadi setiap
malamku.
Entah kenapa, serasa gelisa dan cemas. Suatu ketika
kilau cahaya yang indah itu tak lagi muncul, saya merasa ada sesuatu yang
hilang. Sesuatu yang selama ini ada bersamaku, kali ini tak menyapaku. Tidak
ada lagi keteduhan, kedamaian dan keindahan untuk dinikmati seperginya senja.
Tak ada satu pun yang ku temui disana, hanya kebisuan dan kesepian yang mematung.
Sebuah relasi tanpa ikatan, ruang kami
berbagi
kini hilang, lenyap dan tak tahu kapan akan kembali. Tidak ada lagi kesempatan untuk mewaktu bersama dan menikmati
indahnya malam.
Semua yang pernah terjadi pergi begitu saja. Tak ada lagi yang bisa dinikmati selain kesunyian. Pada gelapnya malam saya bertanya "dimana kau sembunyikan terang itu?" Tak kutemui jawaban apapun. Lalu dengan penuh amarah saya berteriak, "mengapa dunia tak pernah adil?. "Mengapa harus kau renggut semuanya dari ku?"
***Bersambung***

keluh (bukan kelu)
BalasHapusgelisah (bukan gelisa)
selamat berkarya. Tuhan memberkati.
TULIS DONG TENTANG CINTA DAN ROMANSA
BalasHapus