Jumat, 22 Januari 2021

Vaksin: Terima kasih para Ilmuwan

Sejak awal penyebaran Covid 19 yang sampai saat ini menelan banyak korban, hampir seluruh masyarakat Indonesia berharap untuk bebas dari paparan virus tersebut.  Disaat yang bersamaan muncul suatu harapan bahwa para ilmuwan bisa menemukan obat yang dapat menangkal sekaligus mengobati para korban yang terkena Covid 19.

Awal tahun2021 merupakan momen yang sangat bermakna bagi saya, tidak tahu yang lain. Yang berharga menurut saya adalah para ilmuwan akhirnya bisa menjawab harapan dari masyarakat dengan menemukan vaksin untuk meningkatkan kekebalan tubuh yang secara khusus terhadap penularan Covid 19. Saya yakin dalam kurun waktu sekitar 10 bulan, para ilmuwan ini bekerja keras untuk mendapatkan vaksin tersebut. Ini adalah sesuatu yang patut diapresiasi. Bahwa mereka bukan hanya berkerja untuk keluarganya, tetapi untuk semua orang. Terima kasih banyak.

Indonesia sendiri juga tentunya turut merasakan manfaat dari perjuangan para ilmuwan tersebut. Hal ini buktikan dengan langkah yang diambil oleh pemerintan Indonesia dengan mendatangkan vaksin yang selanjutnya diberikan secara gratis atau cuma-cuma oleh masyarakat tanpa membayar. Dan untuk menyakinkan masyarakat, Presiden kita Bapak Joko Widodo menjadi orang pertama yang menerima vaksin tersebut.

Dalam pelaksanaannya bahkan sebelum dibagikan kepada masyarakat, vaksin tersebut diperdebatkan terlebih dikalangan elit-elit. Ada yang mengatakan vaksin tersebut belum uji klinis, belum sampai tahap final dan segala macam. Ada pula yang mengambil contoh dari negara lain untuk menolak adanya vaksin dibagikan, karena belum final prosesnya dan segala macam. Ini bagi saya sesuatu yang wajar karena tujuannya baik, yaitu untuk menghindari kemungkinan buruk terjadi. Inilah bukti kecintaan terhadap sesama anak bangsa, terlebih ketika diperhadapkan pada situasi pandemi.  Apapun pandangan dan masukan mengenai penangangan covid, paling tidak tetap mengedepankan edukasi terlebih membangun optimisme bersama . Ini yang kadang kala dilalaikan.

Belum lagi ketakutan sudah mulai menggerogoti setiap individu, akibat korban yang berjatuhan setiap hari. Pemberitaan tentang korban Covid 19 juga juga baik di media cetak maupun online, di stasiun televisi menjadi santap setiap hari. Tapi mari kita lihat lebih jauh lagi. Upaya-upaya untuk menangkal Covid yang seperti tertuang dalam protokoler kesehatan dimasa darurat karena pandemi seperti menjaga jarak, memakai masker dan mencuci tangan sudah diterapkan sejak awal. Upaya tersebut kembali diperkuat dengan pembatasan aktivitas masyarakat baik diperkantoran, tempat umum seperti mall, tempat hiburan, tempat wisata dan bahkan peserta didik yang adalah aset masa depan bangsa harus belajar dari rumah. Hari ini upaya lain untuk meningkatkan penanganan penyebaran Covid 19 adalah dengan vaksinasi bagi seluruh rakyat Indonesia.

Kita lupa bahwa vaksin yang dimaksud merupakan salah satu upaya untuk meningkatkan kekebalan tubuh dan tidak menutup kemungkinan setiap kita berpotensi terpapar covid 19 meskipun divaksin. Tidak ada bedanya ketika kita mengenakan masker, menjaga jarak, dan mencuci tangan setiap saat, bukan berarti kita bebas. Buktinya hari ini banyak orang disekitar yang yang tepapar tanpa gejala. Jika demikian, kenapa vaksin yang merupakan produk dari ilmu pengetahuan dan teknologi menjadi sebuah perdebatan yang begitu heboh.

Memperdebatkan vaksin apalagi menolak divaksin, tidak ada bedanya kita menolak ketika prokes tentang 3M diberlakukan, karena fungsinya sama yaitu pencegahan. Jika demikian, maka mari kita semua melanggar prokes darurat pandemi bersama-sama, kita saksikan betapa tragisnya saudara-saudara kita mati dimana-mana lalu kita roboh sebagai satu bangsa yang katanya menjunjung tinggi kemanusiaan. Tetapi pada dasarnya, saya sangat mempercayai bahwa kita bisa menjaga diri dengan cara kita sendiri, tanpa harus membuat kegaduhan ditengah merosotnya ekonomi, terlebih masyarakat menengah kebawa. Terpenting adalah menjaga agar tidak ada lagi korban yang berjatuhan akibat keserakahan dan keegoisan kita.

Dan terakhir, secara pribadi saya merasa sangat bersyukur.  Bahwa ditengah kondisi yang terantah berantakan ini, para ilmuwan dengan kegigihannya melakukan penelitian dan eksperimen lalu pada akhirnya menghasilkan vaksin dan berbagai jenis obat-obat lainnya yang selama ini sering kita konsumsi. Vaksin sebagai salah satu produk ilmu pengetahuan dan teknologi merupakan sebuah aksi nyata dalam memperjuangkan sekaligus menjawab berbagai permasalahan hidup dan kemanusiaan. Sebuah persembahan yang dinikmati oleh semua orang dan tidak bisa dipungkiri lagi. Oleh sebab itu perdebatan tentang vaksin seharus lebih kepada memberikan masukan dan solusi. Menolak vaksin menunjukan bahwa kita sama sekali tidak menghargai perjuangan dan karya para ilmuwan. Bukankah hari ini kita sedang menikmati karya mereka selama ini?. Jangan sampai lupa yah.

Mari kita dukung gerakan vaksinasi diseluruh pelosok nusantara sebagai bentuk kepedulian terhadap sesama dengan tetap menjaga diri sesuai dengan protokol kesehatan. Jaga jarak, pakai masker dan cuci tangan. Bagi saudara-sudara yang tidak ingin divaksin, cukup dengan diam dan menjaga diri saja, anda sudah menyelamatkan orang disekitar kita. Sekian...

#kitasatu #kitakuat #kitabersinar #kitabisa

Penulis

M. Edi Hurun, S.Pd.

(Komunitas Behiro)


Tidak ada komentar:

Posting Komentar

SESUATU YANG HILANG (Part 1)

  Beberapa hari terakhir ini, lampu jalan di sepanjang jalan Ibrahim Haji padam. Jalanan hanya bisa diterangi oleh lampu kendaraan bermotor,...