![]() |
Selanjutnya mengenai ruang aktualisasi tersebut,
bukan semata-mata merujuk pada kondisi fisik tetapi juga menekankan pada sebuah
proses penjiwaan yang melibatkan waktu dan kesempatan serta kehadiran orang
lain yang saling memberikan stimulus dan pengaruh. Ruang-ruang tersebut dapat
berupa kondisi di keluarga, lingkungan kerja, komunitas ataupun organisasi
tertentu. Proses tersebut selanjutnya dinamakan proses sosial. Ginsbers
mendefinisikan proses sosial sebagai jenis interaksi yang dilaksanakan individu
dengan tujuan membangun kerja sama, diferensiasi, konflik, integrasi,
pengembangan serta hilangnya hubungan sosial. Jika mengacu dari pengertian
tersebut maka dipahami bahwa proses sosial terjadi atas dasar kontak antara
individu baik secara langsung maupun tidak langsung. Hubungan timbal balik
tersebut, lalu pada akhirnya melahirkan sebuah pola interaksi.
Menyimak salah satu tujuan proses sosial yang
digagas oleh Ginsbers tentu menjadi pembahasan serius, yakni pengembangan. Dan
ini akan menjadi menarik jika dipahami secara komprehensif. Pengembangan yang
dimaksud merujuk kepada peningkatan sumber daya secara kualitas relasi maupun
kualitas individu. Pertanyaannya apakah mungkin proses sosial menjamin
seseorang dalam pengembangan diri?. Tentu sangat mungkin!. Ketika interaksi itu
terjadi maka akan ada kontak dan komunikasi yang menjembatani proses tersebut.
Dalam sebuah interaksi kita akan bersentuhan langsung dan mempelajari karakter
orang, budaya, kebiasaan serta perilaku seseorang yang tentu akan berbeda satu
sama lain. Secara psikologis, setiap individu selalu berkeinginan untukn tampil
secara optimal apalagi diekspresikan terhadap banyak orang yang akan mendengar,
melihat dan merasakan. Keinginan inilah yang memacu individu untuk terus
mengembagkan diri untuk pada akhirnya diterima dengan baik secara sosial dan
kemudian diakui. Maka disinilah eksitensial manusia akan terwujud.
Sebuah kasus di Amerika tentang seorang anak yang
dikurung bapaknya selama bertahun-tahun secara tidak manusiawi. Tidak ada ruang
interaksi pada anak dan keluarganya, bahkan ketika memberikan makanan pada anak
itu, tidak diperbolehkan berbicara. Dan pada suatu hari, anak itu berhasil
dibawa kabur oleh ibunya ke dinas sosial. Saat ditanyakan oleh petugas,
anak tersebut hanya menundukan kepala
bahkan tidak mau mendengarnya. Satu hal yang bisa disimpulkan dari kasus ini adalah
betapa komunikasi dan pola interaksi turut membentuk karakter seseorang. Pembatasan
ruang komunikasi antara orang tua dan anak, telah membunuh karakter sert mental
seorang anak.
Bicara soal proses sosial tentu melibatkan orang
lain yang mempunyai karakter dan kepribadian berbeda-beda dan menjadi bagian
yang tidak dapat dipisahkan. Sebetulnya perbedaan tersebut bisa dijadikan
sebagai referensi dalam pengembangan diri. Bahwa satu kekurangan pada diri kita
adalah seribu kelebihan pada orang lain. Oleh sebab itu setiap kita dituntut
untuk membuka diri terhadap semua orang yang berpotensi untuk dijadikan sumber
dalam mengembangkan diri. Menyangkut perbedaan karakter, tentu siapapun tidak
bisa merubahnya, apalagi kemudian dipaksakan. Perbedaan hanya bisa dipahami dan
dijalin atas dasar rasa kemanusiaan. Akan tetapi kondisi ini bukan menutup
kemungkinan bagi individu untuk mencapai semua persamaan. Tetapi diatas semua
itu, kita semua disatukan oleh kesadaran diri.
Setiap individu adalah tersimpan sejuta bakat dan
keterampilan. Walaupun ada dalam diri namun banyak orang yang tidak mengetahui
apa yang menjadi kelebihan atau kekurangannya. Oleh sebab itu kita butuh orang
lain. Hal ini kembali diperkuat oleh teori psikologi tentang memahami hubungan
dengan diri dan orang lain yang digagas
oleh Joseph Luft dan Harrington Ingham. Teori ini kemudian dinamakan dengan
Jendela Johari atau Johari Window. Ada satu kondisi dimana apa yang terjadi
pada diri kita yang hanya diketahui oleh orang lain. Disini kita disebut
sebagai buta diri. Buta diri bisa berwujud dalam perilaku, sikap, pola pikir
dan sebagainy. Maka proses sosial yang melibatkan orang lain akan berperan
sebagai orang yang akan menyadarkan kita dari buta diri tersebut. Dan melalui
orang lain, tangan Tuhan hadir menyapa kita.
Sampai pada tahap ini, kita memahami betapa besarnya pengaruh proses sosial dalam mengenali dan memahami diri secara utuh. Proses sosial bukan hanya memberikan kita ruang untuk mengekspresikan diri, tetapi juga untuk mengembangkan diri secara optimal. Hari ini banyak orang yang masih mengurungkan diri dari pergaulan lalu menganggap diri hebat. Banyak pula yang menggunakan proses sosial hanya untuk bisa diakui tanpa mendalami proses. Banyak pula yang memanfaatkan proses sosial untuk keuntungan pribadi. Tetapi marilah kita memaknai proses sosial sebagai ruang pengembangan diri dan tentu memberikan dampak yang baik kepada siapapun. Kehidupan bukan hanya urusan makan, tidur, seks dan kematian. Hidup menuntut kita untuk mampu bersosialisasi dan berdiri di atas semua perbedaan. Proses inilah yang akan menghantarkan kita kepada makna kehidupan yang sesungguhnya. Dalam proses sosial kita akan memahami kehidupan secara utuh. Maka satu yang saya mau katakan adalah meleburlah dengan lingkungan yang bukan hanya memberikan rasa nyaman tetapi mendorong kita untuk berkembang.
Salam

Meskipun ini bacaan berat menurut saya (karena saya biasanya membaca komik/yang ringan - ringan), oke proses sosial itu tidak mudah bagi sebagian orang. Kadang apa yang dipandang biasa dan hal mudah bagi orang kebanyakan, belum tentu hal yang mudah dilakukan oleh orang lain. Semoga tulisannya membantu banyak orang dan bisa lebih ringkas dan sederhana sehingga orang biasa seperti saya dapat memahami dengan lebih baik
BalasHapusTerima kasih kaka untuk masukannya, Tuhan sayang selalu.
HapusHahaero...
trims. kemampuan saya belum sepadan dengan kemampuan Anda menulis, masih jauh dibawah. jadi mohon maaf bila tidak/blm bisa memberi masukan yang seimbang. 🙏
Hapus